Meraih Anugerah Berlimpah (Bagian 2)

Oleh:

download (20)

KH. M. Ihya Ulumiddin

 ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

Q.S. al-Kautsar: 02

Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”

Analisa Ayat

njwxSetelah mengingatkan akan banyaknya nikmat, Allah SWT lalu memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar menjalankan ibadah secara ikhlas hanya karena Allah, baik itu ibadah yang terkait hubungan secara langsung dengan Allah (shilah billaah) maupun ibadah yang terkait dengan mengasihi makhluk Allah.

Ibadah yang secara langsung terhubung dengan Allah yang disebutkan dalam ayat ini adalah shalat, karena memang shalat telah dikehendaki oleh Allah sebagai aktivitas yang menghubungkan seorang hamba dengan-Nya. Melaksanakan perintah Allah ini, kita mengetahui bahwa Rasulullah SAW kemudian melaksanakannya dengan begitu sempurna. Beliau bukan hanya shalat lima waktu, tetapi juga menjalankan banyak shalat sunnah. Shalat sunnah beliau, seperti dinyatakan oleh Aisyah ra, sangatlah baik dan lama, tanpa peduli bahwa karena seringnya shalat yang lama itu kaki beliau SAW pun bengkak.

Shalat bagi Rasulullah SAW sudah sampai pada tingkat menjadi ketenteraman hati (qurratul ‘ain) yang karena inilah kemudian jika tertekan suatu permasalahan, maka beliau SAW bersegera melakukan shalat. Namun demikian, meski sangat bisa menikmati shalat, Rasulullah SAW jika menjadi imam dalam shalat, maka beliau tidak memperpanjang.

sholat

Adapun ibadah yang terkait dengan mengasihi makhluk Allah yang dalam ayat ini terungkap dengan perintah, “… dan berkurbanlah”, maka ketika haji wada’ Rasulullah SAW disebutkan berkurban unta sebanyak 63 ekor. Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah SAW juga dikenal sangat dermawan. Beliau akan memberi meski tanpa diminta, apalagi ada orang yang meminta, maka beliau tidak memiliki kemampuan untuk menolak. Intinya beliau SAW tidak pernah mengatakan tidak kecuali dalam kalimat tauhid tidak ada Tuhan selain Allah.

Jika Rasulullah SAW telah mendapatkan kautsar yang di antaranya memiliki arti sesuatu yang banyak dan telah direspon oleh beliau SAW dengan banyak sekali beribadah kepada Allah dan mengasihi makhluk-Nya, maka demikian pula halnya dengan manusia biasa. Kita semua telah mendapatkan nikmat Allah yang begitu banyak, tidak terbilang jumlahnya, di mana di antara pilar nikmat itu adalah keimanan, keamanan, kesehatan, dan kecukupan sandang pangan. Jika seseorang berada dalam kondisi seperti ini, maka ia termasuk dalam kategori kondisi ar-rakha’ yang diingatkan oleh Rasulullah SAW agar digunakan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah:

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِى الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِى الشِّدَّةِ

“Berusahalah mengenal Allah (mendekatkan diri) ketika dalam kondisi senang niscaya Allah mengenalmu di waktu susah.”(H.R. Ahmad)

Oleh karena itulah, dalam kehidupan yang telah bergelimpang nikmat Allah ini kita harus berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dan keshalihan sosial kita. Dalam hal ibadah kita harus:
1. Menjalankan shalat secara baik yang meliputi menjaga, memperbanyak, menegakkan,dan khusyu’ di mana empat unsur ini dalam standar ulama terdahulu semacam Tsabit al-Bunani ra baru bisa dilaksanakan secara utuh setelah belajar selama kurang lebih dua puluh tahun.
2. Merutinkan membaca Alqur’an. Adalah Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, wirid Alqur’an beliau adalah dua juz setelah qiyamullail dan menjelang shalat subuh. Sungguh sangat baik dan perlu dilestarikan program-program membaca Alqur’an seperti one day one juz.
3. Merutinkan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, baik harian atau mingguan, setiap malam atau hari jum’at dengan di antaranya membaca shalawat ummi seribu kali.
4. Merutinkan membaca wirid-wirid ma’tsur (yang diajarkan Rasulullah SAW) yang telah dikumpulkan oleh para ulama dalam hizib-hizib mereka.
Dalam keshalihan sosial, yaitu merahmati makhluk Allah, maka dimulai dengan prinsip “…dan berkurbanlah” yang makna sederhananya adalah menyembelih hewan kurban pada 10 sampai 13 Dzulhijjah, menyembelih kambing (aqiqah) guna menyambut kelahiran bayi, atau menyembelih kambing untuk acara walimah pernikahan dan tidak hanya cukup menyembelih ayam.
images (3)

Selanjutnya perintah berkurban diberikan makna yang lebih luas bahwa dalam hidup ini di mana kita harus belajar berkurban, yaitu menyembelih apapun nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Nikmat itu harus diceritakan dan dibagikan kepada orang lain. Ketika datang nikmat Allah berupa uang misalnya, maka selain mengucapkan alhamdulillah, kita juga harus berpikir cepat bahwa uang ini tidak boleh dimiliki sendiri. Harus ada yang dipotong sebagian, sepuluh atau dua puluh persen. Apalagi dalam menjalani kehidupan berjamaah kita telah berikrar akan berinfak sepuluh persen dari rizki yang dianugerahkan Allah.
Dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah serta senantiasa berkurban niscaya kehidupan seorang muslim akan senantiasa berada dalam kesejahteraan dan kebahagiaan sebelum akhirnya menemukan keselamatan dari neraka dan indahnya pahala kelak di surga. Inilah wujud dari do’a sapu jagat Rabbanaa aatina fid dun’ya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.

= والله يتولي الجميع برعايته =