Potret Kelam Remaja Kita

images (9)Pada awal bulan Januari 2013, tepatnya hari kamis, 4 Januari 2013 saya pergi ke Tulungagung dengan menggunakan kendaraan Bus dari terminal Bungurasih. Saya berangkat pukul 04.15 tepat setelah shalat shubuh. Karena masih pagi buta, bus melaju sangat kencang, jalanan pun masih sepi. Jelang perempatan by pass Krian, bus yang semula melaju kencang tiba-tiba mengurangi kecepatannya. Semua penumpang clingak-clinguk keheranan, ada apa-ada apa? Ternyata di depan bus kira-kira 50 meter terlihat kerumunan banyak orang, tampak satu lajur jalan dari arah Surabaya tertutup kerumunan orang tersebut. Perlahan bus melintas. Ternyata tampak sederetan anak-anak remaja belasan tahun menyaksikan balapan liar di jalan by pass Krian tersebut. Sambil bus melintas dengan sangat perlahan tampak empat sepeda motor brong bersiap start memulai balapan liarnya. Reng-reng-reng suara sangat keras terdengar dari dalam bus. Dalam benak saya berkata, “Edan tenan arek-arek iki! Nyowo ge dulinan!” Bukankah balap liar di jalan raya by pass sangat berbahaya? Kendaraan besar atau kecil pasti kencang jalannya. Hal lain yang mengejutkan saya adalah di antara berderetnya remaja yang menyaksikan balap liar tersebut tampak anak-anak remaja cowok dan cewek berboncengan di atas sepeda motor yang diparkir berjajar di tepi jalan. Kebetulan posisi duduk saya berada pada deret kursi sebelah kiri, sehingga dengan jelas bisa menyaksikan. Tampak beberapa di antara mereka berangkulan di atas sepeda motor sambil memegangi HP. Sungguh memprihatinkan. Berkalikali saya pegangi dada saya sambil bergumam, “Anake sopo yah mene ndek pinggir dalan pasangpasangan?” Bukankah waktu shubuh mestinya mereka masih di masjid atau di mushalla untuk shalat shubuh dan wiridan, atau masih di rumah mereka masing-masing karena memang masih pagi. Saya ingat-ingat waktu itu juga tidak bertepatan dengan hari libur sekolah atau kerja. Dari peristiwa ini saya jadi teringat dengan data yang dikemukakan Komnas Perlindungan Anak (KPA), bahwa dari penelitian yang dilaksanakan di 33 propinsi pada pertengahan tahun 2012 yang lalu terhadap siswa-siswi SMP dan SMA, hasilnya sangat mengerikan; yaitu: 97% mengaku pernahmenonton film porno, 97,3 mengaku pernah berciuman, 62,7% mengaku sudah tidak perawan, 21,2% mengaku pernah melakukan aborsi, dan 60% mengaku sudah melakukan sex pranikah. Data lain saya temukan pada saat saya silaturrahim ke tetangga depan rumah di Sepanjang, yaitu bapak Spd dan ibu Slhh (nama samaran), yang keduanya hakim dan jaksa di Pengadilan Agama Mojokerto dan Sidoarjo. Beliau mengatakan bahwa pada bulan April sampai Agustus pada tiap tahunnya hampir bisa dipastikan adanya peningkatan kasus nikah paksa (di bawah umur) dan ini disinyalir sebagai dampak dari perayaan malam tahun baru dan Valentine Day pada bulan Pebruari. Fakta dan data di atas sungguh sangat mengerikan. Akankah kita biarkan anak-anak remaja terjerumus dalam lembah kehancuran? Bukankah mereka semua harapan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara? Mengapa hal ini terjadi? Perkembangan sain dan teknologi mendorong pergaulan semakin bebas, interaksi budaya antar bangsa dan negara semakin terbuka tanpa ada filter, dimana hal tersebut menggeser akan pentingnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Di sisi lain, bimbingan dan nasihat orang tua dan keluarga sangat kurang, sedang pengawasan semakin
longgar. Bukankan anak remaja menjadi tumpuan harapan orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara? Oleh karena itu, kita tidak boleh membiarkan para remaja terjerumus dalam lembah kehancuran. Allah subhanahu wata’ala
berfirman yang artinya: Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. Mari kita dampingi mereka, kita bimbing dan arahkan untuk memahami nilai-nilai agama secara baik dan benar. Jika mereka menyimpang sedikit saja, misalnya:
remaja kita pulang larut malam tanpa alasan yang jelas, apalagi remaja putri, langsung tak segansegan kita mengingatkan; dengan siapa anak kita bergaul kita juga harus tahu. Pemerintah melalui Menteri Kesehatan RI Ibu Nafsiyah Mboy, juga tidak asal nyeplos aja dalam mencari solusi. Masak gara-gara data aborsi 2,5 juta per tahun solusinya dengan kondomisasi (sosialisasi kondom). Bukankah ini justru mendorong pergaulan bebas (free sex) yang menyesatkan? Wallahu a’lam.