ABI 212 dan Kebangkitan Ekonomi Syariah

Oleh : Prof. Nizarul Alim

Guru Besar Akuntansi Syariah

banking-finance-300x300Pada Jum’at, 2 Desember 2012 telah terukir satu peristiwa bersejarah yang dikenal dengan Aksi Bela Islam 212 (ABI 212) di Jakarta. Aksi ini tercatat sebagai aksi damai paling besar dalam sejarah yang diisi dengan dzikir dan shalat Jum’at dan diikuti tak kurang 7 juta umat muslim yang datang dari seluruh nusantara.

Sejak peristiwa aksi bela Islam 212, optimisme kebangkitan Islam nasional menjadi suatu keniscayaan dalam berbagai bidang. Dengan modal solidaritas dan soliditas ummat Islam yang fenomenal ketika aksi 212 baik di Jakarta serta didukung di wilayah seluruh Indonesia menjadikan ummat Islam menemukan momentumnya. Pasca aksi 212, apa saja yang dikaitkan dengan 212 senantiasa mendapat sambutan antusias dari ummat Islam dari berbagai elemen, meskipun para pelopor ABI di GNPF tidak langsung ikut terlibat. Ini menunjukkan bahwa 212 telah menjadi suatu energi, bukan sekedar aksi. Di antaranya seruan rush uang di bank-bank konvensional (meskipun tidak masif tapi masih berjalan), gerakan shubuh berjamaah 1212, berkumpulnya ratusan pengasuh dan pimpinan pondok pesantren, seruan boikot Sari Roti meskipun belum nampak hasil yang signifikan, inisiatif dan realisasi mendirikan muslim 212 mart (m212 mart). Bahkan safari 212 di Makassar sebagai solidaritas terhadap saudara muslim di Aceh, Rohingya, dan Aleppo Suriah dalam 1 hari memperoleh dana 423 juta Rupiah, belum termasuk harta benda seperti perhiasan dan uang asing.

Energi 212 telah memberikan modal utama kesadaran baik kepemimpinan, ekonomi, sosial, dan politik. Energi ini harus dijaga dan senantiasa dihidupkan, diperbaharui dengan momentum-momentum serta ditindaklanjuti dengan grand design dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, Ust. Bahtiar Nasir menyatakan tekadnya bahwa safari 212 akan dilakukan di 33 Provinsi.

***

Dalam bidang finansial syariah, energi 212 dimanfaatkan untuk memperkuat keberpihakan ummat Islam terhadap institusi keuangan syariah. Ketika MUI menerbitkan fatwa tentang bunga bank riba tahun 2003, sampai saat ini market share keuangan syariah masih berkutat 5 persen. Padahal ketika fatwa itu diterbitkan, pelaku keuangan syariah optimis bahwa sepuluh tahun kemudian akan menjadi 15 persen. Ketika menjelang aksi 212, sempat dikampanyekan agar kamum muslimin agar menarik dananya (rush) dari bank-bank swasta konvensional. Tetapi isu ini menjadi meredup karena kepolisian memberikan shock therapy dengan menjadikan seseorang sebagai tersangka dengan sangkaan menghasut. Sepertinya peristiwa ini cukup mempengaruhi kampanye rush di medsos-medsos menjadi redup.

Oleh karena itu, sebaiknya energi 212 diefektifkan untuk kampanye agar ummat Islam mengalihkan berinvestasi, menabung, dan pembiayaan di industri keuangan syariah. Kampanye ini tidak termasuk menghasut karena mengajak ummat Islam mengikuti ajaran agama dalam bidang investasi. Selain itu juga bagian pengawalan fatwa MUI tentang bunga bank adalah riba. Sebagai bahan pertimbangan, konon dana ummat Islam di perbankan mencapai 40 persen dari total dana. Tidak perlu semuanya cukup 10 sampai dengan 20 persen beralih ke bank syariah, maka akan memperkuat industri keuangan syariah dan juga sekaligus membuat kelimpungan industri keuangan konvensional.

Kenapa demikian? Hampir setiap bank mencadangkan dana segarnya tidak lebih dari 3 persen karena ketentuan BI terhadap persyaratan dana segar adalah 2 persen (reserve requirement). Contoh sederhana dan bisa dicoba, apabila Anda akan ambil dana Rp25 juta, maka harus ada pemberitahuan atau tidak bisa dicairkan langsung hari itu. Sementara ketentuan kecukupan modal dalam menanggung risiko (CAR) yaitu minimal 8 persen dan rasio pinjaman terhadap deposito (dana tabungan) rata-rata mencapai lebih dari 100 persen. Artinya dana pihak ketiga hampir keseluruhan dimanfaatkan untuk pinjaman, sementara apabila terjadi penarikan, bank menggunakan dana cash inflow (dari setoran tabungan dan angsuran pinjaman) serta ditambah cadangan modal. Atas dasar itu, maka jadikan energi 212 sebagai pengawal fatwa MUI dalam bidang ekonomi sektor finansial dengan mengajak beralih ke industri (bank) syariah, bukan mengajak rush money.

Pada sektor riil, energi 212 tidak hanya berhenti pada pembentukan koperasi syariah 212, waralaba m212m yang diprediksikan dalam jangka waktu tiga tahun akan mampu mengambil alih waralaba nasional. Tetapi perlu ditingkatkan dengan kampanye konsumsi dan produksi produk nasional dari ummat Islam. Yang lebih penting lagi penguatan produksi dalam negeri oleh Ummat Islam. Kemampuan pelaku usaha muslim tidak hanya dibidang consumer goods, tetapi sudah sampai bidang industri manufaktur dan energi. Perlu ditingkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi spirit ummat Islam dalam konsumsi produk-produk dari ummat Islam sendiri. Karena akan menjadi dilema apabila spirit ummat Islam dalam mengkonsumsi produk dari ummat Islam tidak diimbangi dengan kapasitas produksi industri milik ummat Islam tetapi tetap dipasok oleh industri-industri non muslim.

Skenario peningkatan kapasitas produksi dapat dipenuhi melalui pembiayaan syariah dari bank-bank syariah. Peningkatan kapasitas bank syariah akan mampu meningkatkan pembiayaan guna peningkatan kapasitas produksi usaha-usaha dan produsen/industri dari ummat Islam. Sehingga terjadi sinergi antara peningkatan konsumsi dengan sektor finansial dan sektor riil dan industri.

Momentum 212 dapat menjadi energi yang berkesinambungan dalam pembangunan ekonomi syariah di Indonesia. GNPF MUI bersama seluruh elemen muslim hendaknya secara terus-menerus menjaga dan menghidupkan energi 212 dalam seluruh sektor kehidupan, karena Fatwa MUI juga meliputi seluruh sektor kehidupan.

[]