Agar Tidak Kembung Kesakitan dalam Lautan Nikmat Tuhan

Oleh: Zakiyah

 

cadar_ copy“Pak, maaf. Saya tidak bisa melepas kerudung saya.”

“Kenapa?” Sinis.

“Maaf Pak, berkerudung kan wajib?Dan Ayah saya juga yang telah berpesan jauh jauh hari.”

“Ya tahu kalau wajib. Ini kan cuman buat foto aja, terus dipake lagi! Dan Ini persyaratan dari pemerintah.”

“Tapi kata Ayah saya, sejak beberapa tahun lalu sudah diperbolehkan foto ijazah menggunakan kerudung.”

“Ya sudah, kamu foto sendiri aja diluar! Jangan ikut foto disekolah. Dan sekolah tidak akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa.”

“Pak, saya mohon…”

Beliau hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tidak mau melihat saya sedikitpun.

Ingin sekali menangis saat itu juga, dihadapan beliau. Dan merengek-rengek agar diizinkan. Ah, tapi tidak. Saya menghela napas panjang. Memilih meninggalkan tempat dari hadapan beliau.

***

“Mbak, ini teman teman sampean ya?” Adik bertanya.

“Mana? Coba lihat!”Dari tangannya, beralih ke tangan saya.

“Loh, ini kan buku binder (semacam diary) pas masih SMP? Kok bisa disini?Padahal lama hilang.”

Saya buka buku itu halaman demi halaman. Tidak sedikit coretan berupa curhatan dan foto yang tertempel dikertas itu. Bernostalgia dengan lembaran-lembaran, sesekali tertawa, sesekali garuk-garuk kepala (ternyata dulu aku gini banget). Sembari bercerita pada adik-adik jika ada keseruan padanya. Sampai pada halaman terakhir, terselip sebuah foto bersama dengan teman-teman seangkatan kelas IX (Tiga SMP).

“Ayo tebak, mbak Zaki yang mana?” langsung saya serahkan.

Wafiroh, adik saya, tangannya sambil menunjuk perorang berurutan difoto itu. “Inii,” katanya.

“Sip, tepat sekali!”

Kemudian saya mengamati foto saya sendiri. Ah, terbayang jelas kejadian tujuh tahun lalu itu. “Ini fotonya memaksa senyum, padahal hatinya sedang deras air mata.” Kedua adik saya menyimak. “Jadi, sebelum foto bersama ini, kita foto perindividu untuk foto peserta Ujian Nasional sekaligus Ijazah. Seluruh siswa siswi kelas sembilan foto Dek, kecuali mbak Zaki.”

“Hah, kenapa?” Wafiroh penasaran.

“Karena nggak dibolehin ikut foto….”

***

Sebuah buku bercerita, bahwa ada seorang pelancong bersiap menyelam disebuah laut. Ia telah mencawiskan segala keperluannya mulai dari pakaian selam, tabung oksigen, sepatu katak, sampai kacamata dan lampu dahi. Seluruhnya ia memilih yang berkualitas.

Lalu byur! Dia masuk ke dalam air dengan punggung terlebih dahulu. Beberapa saat berada di kedalaman 10 meter,ia menyaksikan sebuah keindahan luar biasa didalamnya. Alangkah agungnya sang Maha Pencipta! “Masya Allah!” gumamnya seiring syukur dihati. Tetapi beberapa depa di depan sana dilihatnya sesosok tubuh bercelana kolor berkaos oblong berenang riang. “Hebat!” gumamnya. Menyelam tanpa alat. Mungkin ada sensasinya sendiri.

Beberapa saat menjelajah, turunlah penyelam kita ke kedalaman 20 meter. Segalanya mulai remang-remang. Lampu dahi mulai menyorot. “Subhanallah!” Di tiap lapis lautan, si celana kolor kaos oblong yang melambai-lambaikan tangan ketika ia mengacungkan jempol. “Luar biasa!” gumam penyelam kita. “Dua puluh meter dan dia sanggup pulang balik ambil udara ke permukaan!”

Kemudia saatnya tiga puluh meter. Dan rasa takjubnya kepada Allah bertambah syahdu. Juga kepada orang itu, si celana kolor dan kaos oblong yang kini tegak di hadapannya, dikedalaman 30 meter! Tak sanggup menahan rasa kagum yang membuncah, ia beranikan bertanya sambil memeluk dan berteriak di telinganya, “Pak, Bapak hebat sekali ya! Luar biasa! Untuk sampai ke kedalaman ini saya harus pakai alat macam-macam yang sewanya mahal, juga tabung oksigen yang berat banget! Bapak kok bisa sih, sampai sini tanpa alat? Bagi saya, Bapak adalah penyelam terhebat di dunia! Luar biasa!”

Si Bapak menggapai-gapai. Dan dengan tenaga penuh dia berteriak di telinga penyelam kita, namun terdengar lirih seperti sia sia, “Gue tenggelam, Goblok!”

***

Apa hubungannya cerita saya dengan cerita diatas? Tidak ada. Tetapi cerita diatas adalah sebuah analogi bagaimana manusia hidup. Untuk membedakan seorang penyelam dengan seorang yang tenggelam. Jika seorang yang menyelam disebut ‘sadar’, maka yang tenggelam bisa disebut ‘lalai’.

Kesadaran membuat kita bisa mempersiapkan diri dan perangkat-perangkat untuk menyelami lautan kehidupan ini. Kesadaran adalah anugerah agar kita bisa memilih yang terbaik. Kesadaran membuat mata kita terbuka, dan semua indera peka untuk merasakan berbagai keindahan hidup,sementara mereka yang tenggelam hanya mengikuti arus, mengutuk, mengumpat, dan kembung kesakitan dalam lautan nikmat Tuhan.

 “Yuk, kita bilang bareng-bareng. Foto kita tetap berkerudung. Masak dalam masa yang berkepanjangan ini kita pake kerudung, kemudian di sia-siakan hanya karena satu moment?” ajak saya. “Enggak ah. Nggak berani, risikonya besar. Lagian kamu copot ajalah, kamu kan sudah diancam.Kalo kamu pake kerudung, kemungkinan ijazahnya nggak keluar, atau tidak ada sekolah SMA yang akan menerimamu”jawabnya. Begitu juga dengan kakak kelas XII yang hendak lulus SMA. “Nggak mau, nanti nggak bisa kuliah, nggak bisa dapet kerja.”

Sekelas bahkan sesekolah memandang saya sebelah mata karena hal ini. Saya yang ketika itu entah menguras air mata berapa ember, sok tegar. Jika bukan karena sang Ayah yang terus menguatkan, mungkin saya sudah menyerah.Menjelang UNAS, seluruh foto peserta itu tertempel jelas didepan ruangan dan bangku masing-masing. “Aduh malu, tertampang disini nggak pake kerudung,” keluh salah satu mereka.

Saatnya pembagian Ijazah. “Kamu juga dapat ijazah?” temanku bertanya. “Yaiyalah, aku sekolah dan lulus ujian.” Ia bengong. “Mm.. tahu gitu, aku juga ikut kamu pake kerudung.”

***

Untuk menjaga kesadaranpun tidak semudah membalikkan tangan. Membutuhkan sebuah pondasi yang kuat. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berpesan, “Mengertilah bahwa Iman adalah pondasi pokok, sesuatu yang paling elok dan mahal. Ia adalah anugerah terbesar, termulia, dan paling bermanfaat di dunia ataupun akhirat di antara nikmat dan anugerahyang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya..” Beliau melanjutkan, “Dan sebagai sesuatu yang paling mahal, menjadi suatu pekerjaan sulit dan rumit untuk menjaga Iman.”

Agar keimanan menjadi pondasi, salah satu diantara yang kita butuhkan adalah sebuah pemahaman juga dukungan. Tidak pernah bosan mendengar nasihat kebaikan.

Wallahu yatawallal jami’a biri’ayatih.

[]