Ajining Raga Saka Busana

Oleh: Umar Hasyim

Guru di Ponpes al-Asy’ariyah

Kalibeber Wonosobo

Alhamdulillah, sampai juga di stasiun Yogyakarta. Jadwal kereta tujuan Sidoarjo masih pukul 11.40, tapi saya sekeluarga sudah tiba di stasiun pukul 09.50.Lumayan lama menjadi penunggu stasiun sementara.

Memasuki stasiun, kucari kursi yang sekiranya nyaman untukku, istri, dan kedua putraku beristirahat sembari menunggu datangnya kereta.Dalam hati terbesit harapan semoga liburan kali ini menyenangkan bagi kami meski akan melelahkan, karena selain Sidoarjojuga terdapat Malang dan Jombang yang menjadi destinasi liburan kali ini.

Kedua putraku terlihat asyik bermain dan menikmati suasana stasiun yang sesekali diiringi bisingnya suara kereta.Kubiarkan mereka berekspresi sambil kuawasi dari kursi tempat duduk kami.

Tak lama berselang, dari kejauhan terlihat 7 orang biarawati.Kusebut biarawati karena melihat pakaian mereka yang memakai “kerudung” namun tampak jelas kalung salib menggantung di leher mereka. Sebanyak 4 orang dari mereka duduk tepat didepan kami dengan santainya.

Awalnya ada rasa antipati terhadap mereka yang jelas-jelas tidak satu agama, sehingga aku terkesan cuek atas keberadaan mereka.Namun suasana tersebut mendadak pecah akibat salah satu anakku yang berlari menuju ke arahku terpeleset, kemudian seakan refleks, salah satu biarawati tersebut menangkapnya sehingga anakku tidak sampai jatuh.

Kuucapkan terima kasih pada biarawati tersebut yang berlanjut pada obrolan ringan di antara kami.Seakan tidak ada rasa canggung sama sekali diantara kami yang mengenakan identitas agama yang berbeda dimana aku mengenakan peci, baju koko, dan ada Al-Quran kecil yang kupegang.Disisi lain, mereka enjoy dengan pakaian ala biarawati dan kalung salib sebagai perhiasannya.

Dalam obrolan kami, sebisa mungkin tidak kuarahkan pada konflik agama atau kepercayaan, sehingga temanya adalah berbagi pengalaman dalam mendidik anak serta mengomentari kondisi kenakalan remaja masa kini yang diakibatkan kurangnya spirit religius dalam diri mereka.

Di sela-sela obrolan pun tak jarang mereka menawari saya kue atau camilan yang mereka bawa. Dalam hati sempat terbesit mengharamkan untuk menerimanya, tapi atas dasar apa? Bukankah di dalam kotak kue tersebut tertulis HALAL dari MUI, serta dalam sebuah riwayat disebutkan “Sebaik-baiknya perbuatan adalah yang memberikan kebahagiaan pada orang lain.”Maka kuterima saja kue pemberian mereka itu.

Sebuah kesan yang terasa saat itu bahwa ternyata orang Kristenpun ada yang baik, sehingga tanpa sadar persepsi negatif terhadap agama Kristen saat itu seolah-olah sirna berubah menjadi rasa simpati. Terlepas dari konflik yang terjadi antara Islam dan Kristen, yang jelas sebuah agama mendapat predikat baik dan buruk berdasarkan perbuatan dari pemeluknya.

***

Kalau boleh beranalogi, mungkin pas dengan pepatah jawa yang berbunyi ajining raga saka busana(harga diri seseorang dilihat dari caranya berpakaian), dimana Islam sebagai raga dan umat Islam sebagai busana-nya. Dengan kata lain, semakin baik umat Islam dalam berperilaku, maka semakin baik pula citra Islam di mata dunia.

Sejarah mencatat bahwa pada awal hijrah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diterima dengan baik oleh seluruh kalangan penduduk Yatsrib karena akhlak dan kepribadian beliau, baik suku Aus, Khazraj, maupun kalangan Yahudi-Nasrani saat itu. Bukti nyata bahwa Islam menjunjung tinggi nilai sosial adalah terwujudnya Shahifah Madinah yang sebagian besar isinya mengatur tatanan sosial masyarakat saat itu.

Meski pada masa-masa berikutnya terjadi pemberontakan oleh Yahudi Madinah, perlu digarisbawahi bahwa Rasulullah shallallhu alaihi wasallam menginstruksikan untuk mengambil strategi bertahan, dalam arti tidak melakukan penyerangan, namun dipersilakan untuk mempertahankan diri ketika diserang.

Dalam konteks Islam di Indonesia, sebenarnya tidak beda jauh kondisinya dengan Islam di periode awal hijrah.Karena agama dan kepercayaan bukanlah pemaksaan dan perbedaan agama bukan penghalang untuk bisa hidup berdampingan dalam ranah sosial.

Pada masa Wali Songo, Islamdapat berkembang dengan pesat karena menekankan pembelajaran yang mengintegrasikan ajaran tauhid dan budi pekerti dalam unsur budaya sehingga dapat beriringan dengan masyarakat Hindu-Budha saat itu.Bahkan menarik sebagian dari mereka untuk memeluk Islam. Di masa pra-kemerdekaan pun, muslim dan non-muslim dapat bersatu demi satu tujuan, yakni kemerdekaan Indonesia. Meski sejarah tetap harus mencatat, bahwa kontribusi Muslim dengan ulama dan santrinya paling besar dalam upaya perjuangan itu.

Realitas yang sungguh memprihatinkan melihat kondisi Islam saat ini yang tercoreng oleh ulah pemeluknya sendiri, keperti peristiwa bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad, fenomena “takfir” dalam tubuh Islam, sampai aksi yang menimbulkan kerusakan berbalut Amar Ma’ruf Nahi Munkar.Lalu, dimana esensi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin?

“Seorang muslim bagi muslim yang lain bagaikan bangunan, dimana satu dengan yang lain saling memperkuat.” Begitulah bunyi hadits Nabi.Tapi sering kita jumpai, bahwa perbedaan pendapat menjadi media timbulnya perpecahan dalam tubuh Islam.Pertanyaan besar yang perlu dicari jawabannya adalah bagaimana menjaga eksistensi Islam di tengah badai fitnah seperti saat ini? Langkah apa yang relevan dalam menyikapi setiap pemberitaan yang sumber utamanya adalah “copas dari grup sebelah”?

Kita memang tak bisa mengklaim siapa yang benar dan siapa yang salah karena perbedaan memang keniscayaan dalam kehidupan.Namun jauh sebelum era sekarang, Rasulullah telah mengajarkan pola kehidupan ala masyarakat madani yang oleh para ulama terdahulu diaplikasikan dalam konsep Tawaazun (seimbang) dalam menggali dasar hukum maupun akidah, Tawassuth(moderat) dalam menyikapi sebuah problematika maupun berita, serta Tasaamuh (toleransi) dalam kehidupan sosial masyarakat.

Ketiga konsep tersebut merupakan modal utama untuk menciptakan suasana Bhineka Tunggal Ika dalam tubuh Islam, karena semakin positif dalam menyikapi perbedaan, maka Islam akan semakin kuat. Dan bukan pertikaian yang terjadi, melainkan kelengkapan dalam kehidupan beragama. Layaknya sebuah bangunan, ia tidak akan kokoh jika hanya diisi dengan tumpukan bata saja tanpa adanya semen dan pasir.

Terdapat sebuah perintah dalam al-Quran yang berbunyi “Udkhuluu fis Silmi Kaaffah” yang mungkin dimaknai dengan perintah untuk masuk Islam secara keseluruhan.Padahal kata “Silmi” dapat juga diartikan dengan keselamatan maupun perdamaian. Sederhananya, kita sebagai umat manusia diperintahkan untuk menjaga kedamaian dunia, dan kedamaian itu dapat diraih melalui sebuah naungan bernama “Agama”.

Agama memang elemen dasar yang mengatur kehidupan manusia di muka bumi.Tanpa agama, niscaya tampaklah kekacauan dimana-mana. Terlebih agama Islam yang sesuai namanya, bertujuan mengantar pemeluknya agar selamat di dunia dan akhirat.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa manusia tak lain adalah cerminan dari agama yang dipeluknya. Jika manusia itu baik, maka agama yang dipeluk menjadi baik pula hingga tak jarang menarik minat manusia yang lain untuk memeluk agama tersebut. Namun sebaliknya, jika manusia itu buruk, maka agama akan terkesan menjadi buruk pula di mata dunia, sehingga tak jarang orang keluar dari agamanya karena malu dan tidak tahan dianggap orang yang buruk akibat memeluk agama tersebut.

Sekarang, kita mau pilih yang mana, menjadi pakaian yang indah bagi Islam, atau justru sebaliknyamenjadi pakaian yang jelek? Marilah kita jawab pertanyaan tersebut dalam bentuk aplikasi nyata di kehidupan kita!

Wallahu a’lam…

[]