Akhlaq Mulia Khalifah Umar bin Khattab Kepada Istrinya

Akhlaq Mulia Khalifah Umar bin Khattab Kepada Istrinya

Oleh

Masitha Achmad Syukri

Dosen Universitas Airlangga – Fakultas Ilmu Budaya

 

 

AKHLAK MULIA KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB KEPADA ISTRINYA

muslimahcorner.com

Sore itu, di rumah terjadi sedikit kegaduhan antara Ayah dan Bunda.

“Aduh Ayah, baju kotornya jangan digantung di kamar mandi dong, Yah,” kata bunda dari kamar mandi. “Tolong ditaruh di keranjang pakaian kotor dong.” Ayah diam saja sambil meneguk teh hangat yang sudah disediakan Bunda setelah Ayah keluar dari kamar mandi.

“Oh ya Yah, apa sudah beli lampu buat kamar Kakak?” tanya Bunda sambil memasukkan baju ke mesin cuci. “Eh iya, lupa, Bun,”  jawab Ayah pendek. “Terus Ayah lupa juga tidak beli kertas lipat buat Adik?” tanya Bunda lagi dengan nada mulai meninggi. “Sorry, Ayah gak sempat,” jawab Ayah, masih dengan jawaban yang pendek juga.

“Aduh Ayah gimana sih? Bunda kan sudah bolak-balik pesan sejak kemarin lusa?” protes Bunda sambil mendekati Ayah. Ayah masih asyik dengan ponselnya.

“Ayah gimana sih, diajak bicara kok ndak merhatiin? Dipesenin ndak dibeliin? Jangan gitung dong Yah!” Bunda mulai jengkel. Ayah malah bersiap-siap hendak pergi.

Wajah Bunda memerah. “Ayah mau kemana?”

“Memang Bunda ndak lihat Ayah mau kemana? Ya mau shalat ke masjid,” sentak Ayah. Bunda terduduk sambil menatap Ayah.

Saat membuka pintu depan, Ayah melihat secarik kertas di bawah pintu. Alih-alih mengambil itu kertas, Ayah tetap melangkah keluar rumah sambil memanggil Bunda dan menyuruh Bunda mengambil kertas tersebut dan membacanya.

“Ya Allah, tinggal ambil kertas saja gak mau, baca juga gak mau,” celetuk Bunda.

Hati bunda terkesiap saat membaca kertas tersebut. Ternyata, itu kertas adalah pemberitahuan PLN yang akan memutus aliran listrik jika dalam waktu tiga hari rekening listrik tidak dibayar.  Wajah Bunda kembali memerah. Betapa tidak, seminggu yang lalu dia sudah mengingatkan Ayah untuk membayar rekening listrik. Tapi, rekening itu belum terbayar juga.

***

Begitu Ayah datang dari masjid,  Bunda menunjukkan surat peringatan dari PLN tersebut sambil berkata, “Ah Ayah, dititipin gini saja juga gak beres. Selalu bilang yang lupalah, yang gak sempatlah. Sekarang lihat nih Yah, listrik rumah mau dicabut. Ini semua gara-gara Ayah!” emosi Bunda tak tertahankan lagi. Suaranya mulai parau.

Ayah membaca surat itu, tidak berkomentar. Ia lantas mengambil kunci motor. Melihat Ayah kembali mau pergi, Bunda pun kembali berkata dengan suara yang tinggi tapi seperti mau menangis, “Ayah mau kemana? Ini gimana dengan listrik rumah kita?”

Kali ini Ayah menjawab dengan nada tinggi pula, “Udah dong Bun. Jangan marah melulu. Sekarang Ayah mau ke kantor lagi. Ada kerjaan yang harus Ayah selesaikan malam ini. Sekalian Ayah ke ATM bayar rekening listrik.”

Bunda benar-benar merasakan lidahnya menjadi begitu kelu. Sebegitu pentingkah pekerjaan Ayah sehingga Ayah harus kembali ke kantor tuk menyelesaikan pekerjaannya pada malam itu juga. Tak kuasa Bunda menahan aliran hangat dari kedua sudut matanya. Hatinya  menangis, keras, tanpa suara. Sesungguhnya, dia tidak ingin suasana sore hingga malam itu berlalu dengan ketegangan seperti itu. Tapi, apalah dayanya … .

***

Hal seperti itu sebenarnya telah berulang kali terjadi. Perselisihan kerapkali terjadi karena persoalan sepele. Bisa jadi hal itu dikarenakan Ayah memang terlalu sibuk bekerja. Akan tetapi, karena terus  berulang, Bunda atau bahkan anak-anak merasa bahwa Ayah tidak atau kurang memperhatikan mereka. Wajar saja jika kemudian terjadi kekecewaan dan berujung pada kejengkelan bahkan kemarahan.

***

Sementara itu, setelah membayar rekening listrik di ATM, Ayah membaca ponselnya karena ada tanda pesan W.A. masuk. Ternyata pesan itu dari grup Al-Mukmin, kelompok pengajian di kantornya.

Tuk para suami yang shalih, lihatlah bagaimana cara Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memperlakukan istrinya. Di balik sifatnya yang keras nan tegas, Khalifah Umar ternyata memiliki hati yang lembut yang memperlakukan istrinya dengan penuh hormat.

Suatu ketika, Khalifah Umar pernah didatangi seorang laki-laki yang hendak mengadukan kemarahan istrinya kepadanya. Tanpa disengaja lelaki itu mendengar Khalifah Umar sedang dimarahi istrinya. Alih-alih menghardik sang istri, Khalifah Umar cenderung pasif menghadapi kemarahan istrinya tersebut. Akhirnya, lelaki itu memutuskan untuk pergi karena dia malu pada dirinya sendiri karena hendak melaporkan perangai istrinya kepada Amirul Mukminin tersebut, sementara Amirul Mukminin juga mengalami hal yang sama seperti dirinya tetapi beliau dapat menahan diri.

Langkah lelaki itu terhenti ketika Khalifah Umar mengetahui keberadaannya dan hendak pergi. Beliau bertanya, “Ada keperluan apa engkau ke sini?”

Lelaki itu berbalik dan bercerita tentang maksud kedatangannya yang hendak mengadukan perangai istrinya kepada Khalifah Umar. “Tapi, ya Amirul Mukminin, aku mendengar sendiri engkau juga telah mendapatkan perlakuan yang sama dari istrimu.”

Khalifah Umar tersenyum seraya berkata, “Saudaraku, sudah menjadi kewajibanku untuk tetap bersabar menghadapi perbuatannya. Bagaimana mungkin aku marah kepada istriku sementara dia telah mencuci bajuku, memasak untukku, mengasuh anak-anakku, dan padahal semua itu bukanlah kewajibannya. Karena istriku, aku merasa tenang dan tenteram (untuk tidak berbuat dosa). Lantaran itu,  aku harus menahan diri atas perangainya,” lanjut Khalifah Umar. “Jadi bersabarlah. Yakinlah, kemarahan istri hanyalah sesaat.”

Itulah akhlak mulia Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terhadap istrinya. Kendati sebagai Amirul Mukminin yang sangat ditakuti lawan dan disegani kawan, beliau tetap memuliakan istrinya sebagaimana yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

 

Astaghfirullahal azhim,” ucap Ayah lirih. Dia sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa sementara orang-orang yang begitu mulia telah memberikan teladan bijak dalam bersikap kepada istri mereka. Segera Ayah naik motor, putar balik ke rumah.

Ketika Bunda membukakan pintu, tatapan matanya seolah tak percaya Ayah sudah di hadapannya karena Ayah bilang hendak pergi kembali ke kantor. Segera Ayah berkata, “Maafkan Ayah, Bunda.” Bunda terdiam … tapi segera menyusulnya dengan senyumnya yang penuh arti seraya berkata, “Maafkan Bunda juga, ya Yah.” Keduanya saling berpelukan.

Tapi tak lama kemudian, mereka dikejutkan teriakan putri sulung mereka dari ruang tengah, “Ayah mana lampunya?” Dan teriakan si adik pula, “Ayah mana kertas lipat Adik?” Kening Ayah berkerut. “Ya Allah, Ayah kok lupa lagi?” kata Ayah sambil menepuk keningnya.

Bunda melongo mengikuti Ayah berjalan menuju ruang tengah. “Ayo deh kita beli bersama sekarang ke supermarket,” ajak ayah sambil memeluk si Sulung dan si Adik. Mata mereka pun berbinar indah dan mulut mungil mereka pun memekikkan tawa penuh suka cita.