AlHabib Ahmad Masyhur bin Thaha Al Haddad — Mengislamkan Lebih dari 300 Ribu Orang di Benua Afrika

Al Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al Haddad

Oleh : Irwan Sani SE, M.Pd.I.

Santri Ma’had Pengembangan dan Dakwah

Nurul Haromain Pujon Malang

Al Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al Haddad

al-fanshuri-kenaliulama.blogspot.com

 

 

Al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad adalah seorang ulama dan da’i dari keturunan al-Habib Umar bin Alwi al-Haddad yang merupakan adik bungsu al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad (Shohibul Ratib al-Haddad). Beliau merupakan seorang ulama madzhab Syafi’i yang memegang teguh prinsip ahlussunnah wal jama’ah dan selalu berada dalam garis jalan para leluhurnya, yaitu Saadah al-Alawiyyin.

Masa Kecil dan Pendidikan Sang Ibu

Al-Habib Masyhur bin Thaha al-Haddad dilahirkan di kota Qeidun, Wadi’ Do’an, Hadramaut pada tahun 1325 H bertepatan pada tahun 1907 M. Ayah beliau adalah al-Habib Thaha bin Abdullah al-Haddad termasuk wali mastur (tidak dikenal oleh masyarakat awam). Ia menghabiskan sebagian hidupnya untuk berdakwah di Indonesia. Kemudian pada masa tuanya beliau kembali ke tanah kelahirannya di Hadramaut dan wafat di sana.

Sedangkan ibundanya adalah asy-Syarifah Shafiyyah, yang merupakan putri dari al-Habib Thahir bin Umar al-Haddad. Asy-Syarifah Shafiyyah adalah seorang wanita shalihah, beliau juga hafidzah, yang juga alim dalam ilmu syariat. Sang ibu inilah yang merupakan madrasah pertama bagi al-Habib Ahmad Masyhur. Kepada anaknya ini, sang ibu sering menceritakan perihal kisah ulama dan auliya’ serta tokoh-tokoh kaum shalihin yang pernah ia jumpai. Di antara kebiasaannya adalah mengenalkan dan mendekatkan anaknya kepada para ulama dan auliya’.

Al Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al Haddad

masjidsegaf.wordpress.com

Pernah pada suatu hari, al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas (sahabat al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi Shohibul Mauilid Simtuddurar) berada di masjid Qeidun. Ibunda al-Habib Ahmad Masyhur pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Beliau menyuruh al-Habib Ahmad Masyhur, yang kala itu masih kanak-kanak, untuk shalat Shubuh di belakang sang imam ini. Asy-Syarifah Shafiyyah pun semakin gembira dan sangat senang ketika al-Imam al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas mendoakan sambil memegang dada al-Habib Ahmad Masyhur seraya memberikan kabar gembira, bahwa kelak al-Habib Ahmad Masyhur akan menjadi seorang yang alim dan bermanfaat bagi umat.

Al-Habib Ahmad Masyhur telah mendapatkan pendidikan dan pengetahuan agama sejak kecil. Lingkungan keluarganya merupakan sekolah pertama dan utama baginya. Ia hidup dalam lingkungan keluarga yang mewarisi cahaya keilmuan dari datuknya Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam. Ia belajar kepada pendiri Rubath Qeidun, dua bersaudara yaitu al-Habib Abdullah bin Thahir al-Haddad dan saudaranya al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad. Di bawah bimbingan kedua tokoh ini, al-Habib Ahmad Masyhur mendalami berbagai disiplin ilmu pengetahuan agama, di antaranya dalam bidang fikih, tauhid, tasawwuf, tafsir, dan hadits. Dalam usia yang sangat masih muda, beliau telah menghafal al-Qur’an dan menguasai disiplin ilmu agama, sehingga oleh para gurunya ia diberi kepercayaan untuk mengajar di Rubath Qeidun tersebut.

Tatkala berusia sekitar 20 tahun, al-Habib Ahmad Masyhur dibawa oleh gurunya, al-Habib Alwi bin Thahir al-Haddad ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, ia berdakwah dan mengajar di berbagai tempat di Tanah Air ini. Di samping itu, ia juga menimba ilmu dan memperoleh ijazah dari para Ulama dan Auliya’ yang berada di Indonesia saat itu.

Berdakwah ke Benua Hitam Afrika

Dalam berdakwah ia tidak mengenal kata lelah. Ia bahkan rela menghibahkan jiwa, raga, harta dan waktunya  hanya untuk menegakkan kalimat tauhid dan demi tersebarnya syiar Islam di muka bumi. Kegigihan dan keikhlasannya berdakwah diakui semua pihak.

Pada tahun 1347 H untuk pertama kalinya al-Habib Ahmad Masyhur menjejakkan kakinya di benua Afrika, tepatnya di Kepulauan Zanzibar. Ia masuk ke suku pedalaman Afrika yang kehidupannya serba primitif. Ia hanya memiliki satu tujuan, yaitu berdakwah mengenalkan Allah Subhanahu wata’ala dan segala kebesaran-Nya. Tidak mudah baginya untuk berdakwah kepada mereka. Karena bukan saja ia harus menghadapi sebuah komunitas yang tidak bisa membaca dan menulis, bahkan mereka sangat memegang teguh prinsip ajaran leluhur mereka, yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme.

Al Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al Haddad

Setelah menetap beberapa waktu di Kepulauan Zanzibar, beliau melanjutkan perjalanan dakwahnya hingga sampailah ia di Kenya, tepatnya ia menetap di Mombasa. Dan dari situlah ia melancarkan dakwahnya ke seluruh pelosok Benua Afrika. Dari Kenya, al-Habib Ahmad Masyhur melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Uganda, tepatnya pada tahun 1375 H, yang bertepatan pada tahun 1956 M.

Metode Dakwah di Afrika

Setelah berbaur dengan komunitas masyarakatnya, tahap pertama, al-Habib Ahmad Masyhur mulai mengajarkan mereka tentang tata cara kehidupan yang lebih baik. Setelah ada perubahan pada tata cara kehidupan mereka, beliau pun mulai masuk pada tahapan kedua, yaitu menjelaskan kepada mereka tentang adanya sang Pencipta. Baru setelah beliau mengetahui dakwahnya mendapatkan respon dari mereka, maka beliau mulai mengenalkan bahwa Allah-lah Sang Pencipta dengan segala kebesaran-Nya. Setelah mereka mengerti dan memahami bahwa Allah Subhanahu wata’ala merupakan Tuhan Yang Maha Esa dan Pencipta alam semesta, maka beliau mulai mengajak mereka kepada Islam.

Keikhlasan dan keuletan al-Habib Ahmad Masyhur dalam berdakwah di pedalaman Afrika sangatlah luar biasa. Di Uganda saja jumlah orang yang masuk Islam melalui dirinya diperkirakan mencapai 60 ribu orang, belum lagi di Negara Afrika lainnya. Diriwayatkan jumlah total yang beliau Islamkan di benua Afrika mencapai lebih dari 300 ribu orang.

Kepribadian yang Luhur

Al-Habib Ahmad Masyhur tergolong orang yang segala hal ihwal dan tindakannya mengikuti sunnah Datuknya, yaitu Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam. Beliau seperti yang digambarkan Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam, “Orang terbaik dari umatku adalah mereka yang apabila dilihat, orang yang melihatnya akan teringat Allah.”

Di majelisnya, tak ada orang yang melakukan ghibah (membicarakan orang), namimah (mengadu domba), atau perbuatan tercela lainnya. Beliau seperti yang dilukiskan oleh al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, “Seorang arif billah, maqamnya adalah kewibawaan, hal ihwalnya adalah penyandaran diri kepada Allah, sifatnya adalah senantiasa kembali kepada Allah, selalu bermohon kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam berdo’a seolah mendesak, menundukkan diri, khusyu’, dan melihat kekurangan pada dirinya.”

Kewafatan al-Habib Ahmad Masyhur

Setelah ajal kian dekat menghampirinya, disertai kerinduan berjumpa dengan penciptanya, maka ia pasrahkan ruhnya yang suci kepada Allah dalam keadaan ridha dan diridhoi. Setelah puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk berdakwah menyerukan syiar Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya di berbagai belahan negeri di dunia, pada hari Rabu, 14 Rajab 1416 H, yang bertepatan dengan 6 Desember 1995 M, al-Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad wafat di kota Jeddah, Saudi Arabia.

Wallahu a’lamu bish-Shawab.