Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Ancaman Bagi Para Pemimpin yang Zhalim | LAZIS AL HAROMAIN

Ancaman Bagi Para Pemimpin yang Zhalim

Oleh: Ust. Abdul Fattah

Rasulullah SAW bersabda:

ماَ مِنْ عَبْدٍ اِسْتَرْعَاهُ اللهُ رَاعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيْحَةٌ اِلَّا لَمْ يَجِدْ رَاءِحَةَ الْجَنَّةِ

Artinya: “Tiada seorang hamba yang dititipi (diamanati) oleh Allah  untuk memelihara rakyat kemudian tidak meliputi mereka dengan nasihat, kecuali dia tidak mendapatkan bau surga.” Derajat dan Perawi Hadits Hadits ini shahih yang diriwatkan oleh Imam al-Bukhari dari Ma’qil bin Yasar. Sesungguhnya Ubaidillah bin Ziyad ketika menjenguk Ma’qil saat beliau sedang sakit, ia berkata kepadanya: “Saya akan menyampaikan sebuah hadits yang saya dengar dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: ‘Tiada seorang hamba yang dititipi oleh Allah ….’” dan seterusnya sesuai lafadz hadits di atas.

imagess

Syarah Hadits

Pada riwayat yang lain disebutkan bahwa: “Tiada seorang penguasa yang mengurus urusan rakyat dari kaum muslimin, kemudian dia meninggal dan saat itu ia menipu mereka, kecuali Allah haramkan surge atasnya.” (H.R. al Bukhari).

Ibnu Baththal berkata: ”Memberi nasihat adalah kewajiban penguasa terhadap rakyatnya.”

 Karena itu, siapa pun yang menjadi pemimpin yang menyia-nyiakan urusan rakyat, termasuk mengkhianati, menzhalimi mereka, maka ia akan dituntut atas kezhaliman itu pada Hari Kiamat.

Hadits ini menjelaskan adanya ancaman yang sangat keras atas pemimpin yang zhalim. Sedangkan hadits Nabi SAW, ”Ia tidak bisa mencium bau surga”, juga sabdanya: “Niscaya Allah haramkan surga atasnya” menurut ahlussunnah maknanya adalah orang-orang yang menuntut balas kepadanya belum ridha. Jika mereka belum ridha, maka Allah menjalankan ancaman yang keras ini atas mereka. Karena orang-orang mukmin yang berdosa, mereka dalam masyi’ah/kehendak Allah. Jika berkehendak, Allah akan ampuni mereka. Dan jika berkehendak, Allah akan menghukum mereka sesuai kadar dosanya.

Yang jelas, hadits dalam bab ini menjelaskan satu perkara yang sangat urgen dan sekaligus memberi peringatan keras terhadap semua orang yang beriman terutama bagi seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat yang penuh gejolak ini agar senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap amanat yang diembannya agar tidak menyia-nyiakan jabatan yang ia sandang karena tanggung jawabnya sangat besar di akhirat nanti ketika menghadap keadilan Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang pemimpin yang zhalim/khianat mendapat ancaman yang sangat keras. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus kembali merenungkan bagaimana yang seharusnya diperlakukannya terhadap bawahan dan rakyatnya. Walhasil harus bertanggung jawab terhadap urusan mereka, yaitu: harus melayani bukan minta dilayani, harus memenuhi kebutuhan rakyatnya, harus membantu rakyatnya, harus menolong rakyatnya yang sedang mengalami kesusahan dan kemiskinan serta musibah. Pemimpin juga harus mau memberi nasihat terhadap bawahan dan rakyatnya, selalu membimbing mereka agar mereka menjadi rakyat yang benar-benar berakhlak yang baik serta berani menegur dan mengingatkan kepada bawahan dan rakyatnya ketika mereka melakukan suatu kesalahan.

Kesimpulan

Pelajaran yang dapat diambil dalam hadits ini adalah antara lain:

  1. Al-wilayah al-‘uzhma, yaitu jabatan tertinggi negara. Kemudian siapapun yang dipasrahi urusan rakyat dan kaum muslimin yang dimulai dari skala yang lebih kecil, seperti: desa, kecamatan, kabupaten, propinsi, dan seterusnya.
  2. Amanat dalam jabatan tertinggi negara sangat berat tanggung jawab dan risikonya apabila tidak menunaikan kewajiban dengan adil dan bijaksana.
  3. Ketika seorang pemimpin tidak amanah dan memberi nasihat dalam jabatannya, juga tidak menegakkan kebenaran dan keadilan, membiarkan kerusakan moral di mana-mana, maksiat semakin menjadi-jadi dan para koruptor semakin merajalela, maka Allah mengancam dalam hadits di atas, yaitu orang tersebut tidak akan dapat mencium bau surge. Jangankan masuk surga, mencium bau surga saja tidak bias. Dalam riwayat yang lain, Allah mengharamkan surge atasnya. Masya Allah, na’udzu billahi min dzalik. Padahal kita hidup ini adalah tujuannya untuk beribadah kepada Allah agar selamat dan bahagia di dunia lebih-lebih di akhirat nanti ketika kita menghadap keadilan Allah subhanahu wa ta’ala.

Penutup

Dengan menelaah paparan di atas, maka menjadi kewajiban seorang mukmin untuk menghindari jabatan-jabatan tersebut kecuali mampu dan ada kemaslahatan serta dibutuhkan juga dipilih langsung oleh masyarakat.

Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. Syarah Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan, Syaikh M. Fuad Abdul Baqi, jilid 1.
  2. Shahih Imam Muslim, no. 205.
  3. Shahih Imam Bukhari, no. 6618.
  4. Al-Jam’u Baina al-Shahihaini, no. 1247.
  5. Syarah Shahih Al-Bukhari, oleh Ibnu Baththal 8/219.
  6. R. Abu Daud dan At-Tirmidzi dengan sanad shahih.
  7. R. Al-Bukhari no.7138.