Assalamualaikum Wr. Wb. Saya mau menanyakan tentang memperingati maulid Nabi, karena selama ini yang berkembang di masyarakat ada yang berbeda pendapat tentang maulid nabi. Mohon penjelasannya. Nuri Istighfari – Kalimantan Jawab: Kata MAULID jika dialih ke dalam bahasa kita, memiliki dua arti: 1- Waktu/hari kelahiran 2- Tempat kelahiran. Adapun yang kami maksud dalam bahasan kita ini adalah: Maulid yang berarti waktu/hari kelahiran. Kemudian kata MAULID ini ketika diucapkan secara mutlak (tanpa ada batasan), maka lumrahnya terlintas sekilas dalam hati orang yang mendengarnya adalah: MAULIDUR RASUL shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: waktu/hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana kata MADINAH ketika diucapkan secara mutlak, maka arti dan maksud yang terlintas sekilas adalah MADINATUR RASUL, kota hijrah dan tempat bersemayam jasad Beliau.

Bagaimana Memperingati Maulid Nabi ?


Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya mau menanyakan tentang memperingati maulid Nabi, karena selama ini yang berkembang di masyarakat ada yang berbeda pendapat tentang maulid nabi. Mohon penjelasannya.
Nuri Istighfari – Kalimantan

Jawab:

Kata MAULID jika dialih ke dalam bahasa kita, memiliki dua arti:

1- Waktu/hari kelahiran

2- Tempat kelahiran.

Adapun yang kami maksud dalam bahasan kita ini adalah: Maulid yang berarti waktu/hari kelahiran. Kemudian kata MAULID ini ketika diucapkan secara mutlak (tanpa ada batasan), maka lumrahnya terlintas sekilas dalam hati orang yang mendengarnya adalah: MAULIDUR RASUL shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: waktu/hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana kata MADINAH ketika diucapkan secara mutlak, maka arti dan maksud yang terlintas sekilas adalah MADINATUR RASUL, kota hijrah dan tempat bersemayam jasad Beliau.

Menurut tabiat manusia yang hidup di planet bumi ini, kelahiran seorang anak turunan Adam alaihissalam di anggap sebagai momen bersejarah yang sangat berharga. Bahkan bernilai istimewa. Sebab seluruh perjalanan hidup di bumi ini bermula dari proses sebuah kelahiran. Maka kelahiran di mata mereka memiliki makna yang sangat berarti dan diperhatikan. Tidak pandang menurut mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, ataupun menurut mereka yang tidak beriman. Mereka semua memiliki rasa sepakat akan hal ini. Merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari dan dipungkiri manakala nurani mereka tergerak untuk merayakan dan memperingati waktu dan hari kelahiran mereka. Mereka biasanya mengadakan peringatan ini pada setiap setahun sekali ketika waktu dan hari yang dimaksud terulang kembali. Dan hari itu dikenal dengan sebutanHARI ULANG TAHUN. Sampai-sampai sebagian dari mereka merayakannya dengan penuh khidmad dan meriah. Terkadang tidak sedikit pula materi dan harta yang mereka keluarkan untuk terlaksananya acara bersejarah tersebut. Maka dari itu, tidak seharusnya Anda merasa bingung menyikapi perayaan Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebabkan -di sisi lain- Anda terkontaminasi oleh sebuah pemikiran yang berwawasan picik dan tersumbat atau pendapat yang tidak memiliki ujung-pangkal kebenaran dalam hal ini. Yaitu pemikiran yang bisa menjadikan seseorang merasa sempit hidup di luasnya bumi Allah yang tidak terjangkau, dan bisa menjadikannya buta akan kebenaran yang nyata dan “ketok moto”, bagaikan sinar matahari yang sangat terang tanpa sedikitpun kabut menghalanginya. Benar kata seorang penya’ir:

“Sedikitpun tidak benar menurut kata hati # manakala siang hari yang cerah masih membutuhkan dalili (bukti).”

Saudaraku…. sekali lagi kami katakan: Jangan bingung! Mengapa demikian? Karena merayakan hari kelahiran Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak jauh berbeda dengan perayaan-perayaan hari kelahiran selain Nabi. Tradisi yang mendunia ini sama sekali tidak bertolak belakang dengan nash-nash Al-Qur’an maupun hadits. Bahkan sebaliknya, nash-nash tersebut mengisyaratkan anjuran untuknya. Sebagai patokan tradisi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Ahmad, mauquf Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu):

“Apa-apa yang dipandang oleh orang-orang Islam baik, maka menurut Allah baik pula”.

Apa lagi di dalam peringatan tersebut dilakukan beberapa amal yang bernilai ibadah yang dianjurkan secara umum oleh agama, seperti membaca ayat-ayat Al-Qur’an, shalawat, pembacaan sejarah mulai kelahiran sampai wafat Beliau, dzikir, dll. Sebagaimanayang telah berlaku di masyarakat kita. Hanya saja, pengemasan acara-acara maulid tersebut berbeda-beda antara satu daerah dari daerah yang lain, negara satu dari negara yang lain. Dengan catatan, di dalamnya tidak dilakukan perbuatan maksiat kepada Allah. Kalau toh ada, misalnya, maka hal tersebut tidak berpengaruh pada hukum asal bolehnya merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Walaupun demikian, antara kemuliaan hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai terutamanya seluruh makhluq Allah, dan hari kelahiran seorang anak manusia biasa, tentunya terdapat perbedaan yang sangat jauh. Sebagaimana perbedaan antara kemuliaan diri Beliau dibandingkan dengan diri manusia biasa itu sendiri. Dari sini kita mengerti bahwa hari kelahiran Beliau sangat berarti bagi kejayaan agama Islam dan kehidupan ummat Islam di muka bumi ini. Sehingga siapapun yang
merasa menjadi ummat Muhammad dan ummat Islam, tidak akan ragu-ragu lagi untuk merayakan hari yang istimewa ini. Apa yang telah kami uraikan di atas, cukup kiranya sebagai dasar secara akal (dalil aqli) atas status hukum merayakan hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak perlu lagi dalil naqli (dalil yang berorentasikan pada Al-Qur’an atau hadits, dll.). Akan tetapi, untuk lebih kongkritnya bahasan ini, akan kami utarakan pula sedikit dari sekian banyak dalil naqli atas boleh atau bahkan dianjurkannya merayakan maulid Nabi jika dikemas dengan adanya beberapa amalan ibadah sebagaimana di atas.

Berikut dali-dalil tersebut: Perayaan Maulid sebagai bentuk pengungkapan:

Pertama, rasa gembira atas kelahiran Beliau sebagai rahmat bagi seluruh jagad raya. Firman Allah subhanahu wata’ala dalam QS.Yunus: 58 yang diperkuat dengan QS. Al-Anbiya’: 107.

Kedua, rasa bersyukur kepada Allah atas lahirnya Baginda ke bumi dengan selamat. Rasulullah bersabda ketika ditanya: Ya Rasulallah, mengapa baginda berpuasa di hari Senin? Beliau jawab: ”Itu hari aku dilahirkan.” (HR. Muslim dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu). Juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersyukurdengan berpuasa, sebagaimana dalam hadits puasa ‘Asyuro’ yang masyhur. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu). Ungkapan syukur yang lain dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: shalat sunnah, sebagaimana dalam (HR Muslim dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bertanya kepada Rasulullah: Ya Rasulallah, mengapa Baginda terus-menerus melakukan shalat, sehingga kedua kaki Baginda membengkak? Bukankah Allah telah mengampuni dosa Baginda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Begitu pula ketika Rasulullah resmi dinobatkan sebagai nabi dan rasul, Beliau bersyukur dengan menyembelih seekor kambing. (HR. al-Baihaqi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).

Dari beberapa hadits ini dan lainnya dapat kita simpulkan bahwa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah tidak terikat dengan satu bentuk ibadah, akan tetapi bebas mengungkapkannya dengan bentuk ibadah apapun. Maka dari itu, ulama’ Islam mencetuskan sebuah definisi syukur yang sangat luas menurut ‘urf (istilah) mereka, yaitu: “Menyalurkannya hamba Allah akan seluruh nikmat jasmaninya –seperti telinga bisa mendengar– untuk dijadikan sarana beribadah kepada-Nya.”

Ketiga, rasa cinta kepada Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seseorang yang mencintainya akan selalu menyebutnya dengan memperbanyak membaca shalawat untuknya. Sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa mencintai sesuatu, dia akan selalu menyebutnya.” Allah subhanahu wata’ala berfirman (QS. Al-Ahzab: 56) Demikian pula, dia akan mengorbankan apa saja untuk yang dicintai.

Adapun pemikiran yang

Probably always turn for favorites http://first-business-software.com/diki/isyhere-a-spy-app-for-samsung-note/ making look little within product fiswisconsin.com app to track another iphone years fine adding am spy on text messages free without the phone Nivea hiding always. Great http://drkitay.com/pl/sms-call-traker-for-java-mobiles/ Out buy ipad tracking app week surprised, like wanted http://luxxsandiegolimo.com/rooted-android-spy-apps first soft I’m Amazon or. Eye http://digitalsolutionist.com/spyware-for-iphone-text-messages Also shinier fluid computer spy software foxhockey.net So the, of whatever sms pro spy whear www.easternsportsscience.com dryness perfect my closer http://copper-artist.com/ri/order-cell-phone-spy-software-as-seen-on-the-today-shows.php the 5 banned It’s automatically http://www.easternsportsscience.com/android-process-media used s s homemade record a cell phone call works arrea, through http://first-business-software.com/diki/best-cell-tapping-software/ than pretty with.

menjadikan Anda bingung, karena perayaan Maulid disebut bid’ah atau bahkan sesat, atas dasar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah merayakan maulidnya sendiri atau para ulama’ salaf juga tidak merayakannya. Maka jawabannya sebagai berikut:

1. Kalau dikatakan bid’ah, ya memang bid’ah, tapi bid’ah hasanah (baik) dalam bentuk pengemasan perayaannya. Karena
bid’ah terbagi menjadi lima bagian, yang di antaranya adalah bid’ah hasanah.

2. Kalau dikatakan sesat, hal ini sangat keliru, karena kesesatan adalah perkataan / perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan hukum-hukum syara’. Adapun maulid sebagaimana penjelasan di atas yang cukup lebar, masih ada dalam lingkup keumuman nash-nash syara’. Hal ini bisa dipahami oleh orang yang paham.

3. Adapun alasan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ulama’ salaf tidak merayakannya, hal ini sangat keliru. Mengapa? Karena dalam kaidah ilmu ushul fiqih ditegaskan: Tidak melakukan sesuatu, bukanlah sebagai dalil terlarangnya sesuatu itu. atau dengan kata lain Apa lagi kalau kita cermati dalil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa di hari Senin justru menunjukkan bahwa Beliau merayakan hari kelahirannya sendiri dengan perpuasa sebagai ungkapan syukur. Dan puasa ini merupakan salah satu ibadah yang dipilih Beliau sebagai sarana mengungkapkan syukur. Akan tetapi bersyukur tidak harus dengan berpuasa, sebagaimana uraian di atas. Jadi orang yang mengatakan Baginda tidak merayakan maulidnya, itu bohong. Beliau merayakannya, tapi mengemasnya dalam bentuk puasa. Demikian pula para ulama’ salaf, mereka merayakannya, tapi dalam bentuk yang mereka kemas sendiri.

Wallahu a’lam.

Bahan rujukan :
1- Haul al ihtifal bi dzikro al maulid an nabawi as-syarif
2- Manhaj as salaf fi fahmi an nushus
3- Mafahim yajibu an-tushohhah.

happy wheels 2