Bagaimana Zakat Memakmurkan Umat ?

Bagaimana Zakat Memakmurkan Umat ?

Oleh: Nanang Qosim, S.E., MPI

Bagaimana Zakat Memakmurkan Umat

www.message4muslims.org

 

Dari 85 gram emas, hanya 2,5 persennya atau 2,125 gram yang wajib dikeluarkan. Dari 595 gram perak, hanya 14,875 gram yang wajib dikeluarkan. Dari 5 ekor unta, hanya berupa 1 ekor kambing yang wajib dikeluarkan. Dari 30 ekor sapi/kerbau, hanya 1 ekor anak sapi/kerbau (berumur 1 – 2 tahun) yang wajib dikeluarkan. Dari 40 ekor kambing/domba, hanya 1 ekor kambing/domba yang wajib dikeluarkan. Demikian seterusnya terhadap harta-harta yang diwajibkan mengeluarkan zakatnya. Jika diperhatikan dengan cermat, besarnya zakat yang dikeluarkan tersebut sangat kecil, jauh dari besarnya harta-harta tersebut.

Belum lagi jika diperhatikan syarat-syarat lain harta yang harus terpenuhi untuk wajib dikeluarkannya zakat antara lain haul (kepemilikan terhadap harta sudah sampai 1 tahun)[1], dan di luar kebutuhan pokok hidup. Memiliki harta sebanyak batasan minimal diwajibkan zakat atasnya atau biasa disebut nishab sekaligus bertahan selama 1 tahun adalah hal yang tidak gampang. Demikian juga syarat harta itu harus di luar kebutuhan pokok hidup bisa menyebabkan batalnya kewajiban pengeluaran zakat. Berbagai kebutuhan dan keinginan hidup serta persoalan dan ujian kehidupan menjadi kendala tersendiri bagi penunaian kewajiban tersebut.

Bagaimana Zakat Memakmurkan Umat

doc lazis

Ditinjau dari persentase jumlah orang kaya terhadap jumlah orang miskin, jumlah orang-orang kaya itu jauh lebih sedikit daripada orang-orang miskin. Berdasarkan prinsip Pareto[2], orang-orang kaya hanya sejumlah 20% dari total jumlah penduduk dalam wilayah/daerah tersebut. Itu berarti, selebihnya yakni 80% adalah orang-orang miskin. Masih mending jika yang 20% tersebut semuanya adalah muslim. Namun jika yang 20% tersebut rata-rata adalah nonmuslim, maka mengandalkan zakat untuk memakmurkan umat masih membutuhkan waktu, kerja keras, dan miracle (keajaiban) atau seperti kata pepatah jauh panggang dari api.

Lalu, bagaimana zakat (mal) bisa memakmurkan umat?

Dari uraian di atas, ada dua hal yang harus terpenuhi agar zakat bisa memakmurkan (meningkatkan tingkat ekonomi) umat. Pertama, orang-orang yang mengeluarkan zakat (muzakki) adalah orang yang sangat kaya. Gambaran tentang orang-orang yang sangat kaya dapat dilihat dari survey sebuah majalah yang secara periodik melaporkan orang-orang kaya di dunia. Sekadar contoh, orang terkaya saat ini menurut majalah tersebut adalah Bill Gates, pemilik Microsoft. Bill Gates mempunyai kekayaan mencapai 79,2 milyar dollar Amerika atau setara dengan 1.019 triliun rupiah[3]. Anggap saja 1.000 triliun rupiah, jika dikalikan 2,5 %, maka zakatnya sebesar 25 triliun rupiah. Kedua, jumlah orang miskin harus lebih sedikit daripada jumlah orang kaya atau sama, 50%-50%. Ini dengan asumsi satu orang kaya akan mengeluarkan/memberikan zakatnya kepada satu orang miskin. Satu orang kaya bertanggung jawab terhadap satu orang miskin. Dengan asumsi ini, tidak membutuhkan waktu lama untuk mengangkat tingkat ekonomi orang-orang miskin.

Namun, keadaan yang sebenarnya adalah tidak ideal seperti asumsi di atas. Orang-orang yang mengeluarkan zakat tidaklah sekaya orang-orang terkaya di dunia seperti dalam majalah tersebut. Demikian juga, jumlah orang miskin jauh lebih banyak daripada jumlah orang kaya. Oleh karena itu diperlukan penjelasan lain yang sesuai dengan realitas.

Secara teori, kegiatan ekonomi seperti produksi dan konsumsi hanya bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai harta. Hal ini berakibat, harta hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Sementara itu, kegiatan ekonomi orang-orang miskin hanya berputar-putar pada masalah kebutuhan dasar hidup, yaitu makan. Uang yang dimiliki orang-orang miskin habis hanya untuk membeli barang-barang konsumsi yang diproduksi orang-orang kaya tersebut. Begitulah seterusnya sehingga orang-orang miskin tetaplah miskin bahkan semakin miskin sedangkan orang-orang kaya akan tetap kaya bahkan semakin kaya. Jika kemiskinan semakin menjadi-jadi, maka tindak kejahatan akan semakin meningkat dan secara ideologis akan menyuburkan faham komunisme-sosialisme. Na’udzubillah.

Janji Allah dan Rasul-Nya adalah pasti benar. Zakat pasti bisa memakmurkan umat. Jika pada saat ini hal itu belum terwujud, itu bukan Allah dan Rasul-Nya yang salah, atau al-Qur’an dan Hadits yang salah, tapi manusianya yang tidak bisa membedah petunjuk-petunjuk-Nya. Terbukti bahwa dalam sejarah peradaban Islam sejak masa Nabi Sholallohu alaihi wasallam sampai pada masa jatuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, ketika Islam dipimpin oleh pemimpin/khalifah yang adil, umat Islam mengalami kemakmuran secara merata. Di antara peristiwa yang terkenal adalah melubernya harta di Baitul Mal pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khaththab Radhiyallohu anh karena tingkat kemakmuran umat Islam yang tinggi sehingga tidak ada orang yang mau diberi zakat.

Bagaimana Zakat Memakmurkan Umat

doc lazis

Secara sederhana, jika pada saat ini ingin memakmurkan umat, maka kita perlu bahkan harus melihat dan memperhatikan masa-masa sejarah emas peradaban Islam di atas. Jauhnya masa tersebut dengan masa kini ditambah hilangnya data-data lengkap tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk menggali cara-cara mewujudkannya kembali. Uraian dalam tulisan ini adalah salah satu upaya penggalian tersebut.

Penunaian secara Sendiri-sendiri

Pengeluaran zakat yang dilakukan oleh seseorang secara sendiri-sendiri jika dimaksudkan untuk meningkatkan kemakmuran orang-orang miskin terbukti tidak efektif. Beberapa tahun yang lalu, sejumlah orang yang sangat kaya mengeluarkan zakat malnya (berupa uang) kepada orang-orang miskin secara langsung. Puluhan bahkan ratusan orang miskin antri untuk mendapatkan zakat berupa uang tersebut. Beberapa orang pingsan dan terinjak-terinjak akibat berdesakan-desakan dalam antrian tersebut. Lalu, apakah setelah penunaian zakat dengan model tersebut, orang-orang miskin menjadi makmur atau meningkat perekonomiannya? Ternyata, pada tahun berikutnya, model seperti itu terulang lagi. Itu artinya zakat yang dikeluarkan secara sendiri-sendiri tidak mampu memberi pengaruh secara efektif.

Penunaian secara Kolektif

Zakat uang sejumlah satu jutaan rupiah untuk saat ini relatif kecil. Apa yang bisa diperbuat oleh seorang miskin dengan uang sejumlah tersebut? Namun, jika ada 20 orang yang mengeluarkan zakatnya sejumlah tersebut yang berarti akan terkumpul uang sejumlah dua puluhan juta rupiah, maka seorang miskin yang menerimanya akan bisa berbuat banyak hal. Dengan cara seperti ini, minimal satu orang miskin telah terangkat. Satu orang miskin ini diharapkan pada tahun-tahun berikutnya mampu mengeluarkan zakat harta yang nantinya digabungkan dengan zakat dari para muzakki yang lain sehingga dalam beberapa tahun jumlah orang miskin akan semakin berkurang dan bahkan tidak ada lagi.

Manajemen/Pengelolaan yang Profesional

Pengelolaan zakat baik fitrah maupun mal serta jenis-jenis yang lain seperti infaq, waqaf, dan sebagainya harus dilakukan dengan rapi, sistematis, dan terprogram. Dengan kata lain, pengelolaannya harus dilakukan dengan profesional. Pendataan jumlah orang yang wajib mengeluarkan zakat, jumlah orang miskin, pemetaan kantong-kantong kemiskinan, pembuatan program-program, perencanaan target, dan sebagainya harus dilakukan.

Peran Pemerintah

Pemerintah mempunyai peran yang sangat besar dalam terlaksananya penunaian zakat. Pembentukan Undang-Undang Zakat menjadi dasar formal dan menjadi panduan umum pengeloaan zakat. Dengan adanya Undang-Undang tersebut, orang-orang kaya/yang sudah wajib mengeluarkan zakat akan dikenakan sanksi/hukuman jika tidak mau mengeluarkan zakat. Pengenaan zakat dan pengumpulannya terhadap pendapatan tiap orang dapat secara otomatis dilaksanakan pada setiap tahunnya.

Kesimpulan

Jumlah nominal zakat yang sangat kecil akan bisa memberikan efek yang sangat besar jika zakat dikelola dengan baik. Itulah yang disebut barakah. Barakah dari Allah sebagai efek dari menjalankan perintah-Nya. Sedikit tapi sudah memberikan keberkahan, apalagi jika banyak.

 

Wallahu a’lam

 

[1] Kecuali harta hasil pertanian, buah-buahan dan harta rikaz (menemukan harta terpendam).

[2] Ekonom Italia bernama lengkap Vilfredo Pareto, hidup dari 15 Juli 1848 sampai 19 Agustus 1923

[3] www.tempo.co/read/news/2015/03/04 pada 21 Mei 2015