Bahaya Mencaci-Maki Seorang Muslim dan Memeranginya

Oleh:

Ust Abd. Fatah

Rasulullah SAW bersabda:

سِبَابُ الْمُسْلِمِيْنَ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Artinya: ”Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.”

Keterangan

Perawi Hadits

Hadits shahih yang dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud ra dari bab “Kitabul Iman”. Sementara Imam Nawawi memasukkan hadits ini dalam bab, “Haramnya mencaci seorang muslim  tanpa alasan hukum yang dibenarkan sedikitpun.

Syarah Hadits

downloadMencaci-maki adalah menyebut-nyebut keburukan seseorang atau menyebutkan apapun yang menyakitkan hatinya. Dan itu dilakukan di hadapannya. Jika dilakukan ketika orangnya tidak ada, maka itu namanya ghibah/menggunjing. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surah al Ahzab ayat 58: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Makna “menyakiti” pada ayat ini adalah mencakup segala bentuk gangguan, apakah itu dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Ketika seseorag lebih patut dimuliakan, maka menyakitinya jauh lebih besar dosanya apa lagi yang dicaci maki itu ulama’ malah lebih besar lagi dosanya. Demikian halnya menyakiti orang yang dekat. Ini tidak seperti menyakiti orang yang jauh. Menyakiti tetangga juga tidak seperti menyakiti selain tetangga. Dan menyakiti orang yang mempunyai hak atas kita, tidak seperti menyakiti orang yang tidak mempunyai hak atas kita.

Yang jelas, menyakiti orang lain dosanya berbeda-beda, tergantung siapa yang disakiti apalagi yang disakiti itu ulama’, orang yang terhormat dan orang yang seharusnya dimuliakan tapi malah diremehkan, dicaci-maki bahkan dimusuhinya, maka lebih besar lagi dosanya dan orang yang memusuhinya pantas untuk diperangi.

Dalam hadits di atas dikatakan “mencaci-maki seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran” menunjukkan bahwa kefasikan itu lebih ringan dibandingkan kekufuran. Dan jika seorang muslim mencaci saudaranya, maka si pelaku menjadi fasik sehingga tidak diterima persaksiannya, tidak boleh menjadi wali atas putrinya, tidak boleh menjadi imam (pemimpin) kaum muslimin, tidak boleh menjadi muadzin. Inilah yang dijelaskan oleh kebanyakan ulama’, tapi dalam masalah ini, ada perbedaan pendapat di antara mereka (Allahu a’lam).

images (2)

Tapi yang jelas, siapapun yang mencaci saudara sesama muslim, maka ia menjadi fasik. Dan siapapun yang memerangi saudaranya tanpa alasan yang benar, maka dia tergolong orang yang kufur. Jika menghalalkan memeranginya tanpa alasan yang benar, maka dia digolongkan orang yang kafir dengan kekufuran yang akan menyebabkan kemurtadan/keluar dari Islam. Kemudian jika tidak menghalalkan hal itu, namun sekedar karena hawa nafsu dalam dirinya, maka ia digolongkan orang yang melakukan suatu kekafiran dan tidak termasuk keluar dari agama Islam. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Hujurat ayat: 9-10,

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (10).

Berkenaan dengan ayat 9 dari surah al-Hujurat di atas, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa Sa’id Ibnu Jubair menceritakan ketika Rasulullah SAW di Madinah. Ada dua kelompok, yaitu suku Aus dan suku Khazraj terlibat dalam pertikaian dan perkelahian memakai pelapah kurma dan terompah. Allah SWT pun menurunkan ayat tersebut dan memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar mendamaikan kedua suku tersebut secara adil dan bijaksana.

Kesimpulan

  1. Seorang muslim dilarang mencaci-maki dan saling memusuhi diantara sesama muslim yang lain.
  2. Mencela seorang muslim itu menyebabkan suatu kefasikan dan membunuhnya akan menyebabkan kekufuran
  3. Seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim yang lainnya, maka tidak boleh saling menzhalimi, dan saling meremehkan, atau saling berdusta/membohongi.
  4. Orang yang suka mencaci-maki sesama muslim termasuk digolongkan menjadi orang muflis (orang yang bangkrut), yaitu orang yang pernah mencaci-maki, menuduh, merampas harta, membunuh, memukul seseorang tanpa alasan yang dibenarkan syariah dan dia sampai meninggal dunia/wafat padahal dia belum meminta maaf, belum mengembalikan haknya orang yang pernah dirampas hartanya dan belum meminta kehalalan kepada orang yang pernah dizhalimi, maka semua amal shalihnya di antaranya: shalatnya, zakatnya, puasanya, hajinya dan amal shalih lainnya; semuanya sia-sia karena amal-amal shalih tersebut akan diambil dan diberikan kepada orang yang pernah dizhalimi untuk menebus kesalahan-kesalahan atau kezhaliman yang pernah ia lakukan selama hidup di dunia. Sampai kemudian amal-amal shalihnya habis, tapi ternyata masih belum habis dosa-dosanya. Akhirnya dosa-dosa orang yang pernah dizhalimi diambil dan diberikan kepada orang yang pernah menzhaliminya yang pada akhirnya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. (H. Muslim)
  5. Mari kita berhati-hati dalam bertindak terutama menjaga lidah kita agar dapat menghindari dari perbuatan caci-maki, karena hal itu berbahaya. Dan diantara yang dapat menyelamatkan manusia dari fitnah dan api neraka adalah menjaga lidah/lisan.
  6. Mari kita saling menjaga dan memelihara dalam mengikat tali persaudaraan kita dengan saling membantu, saling menolong, saling melayani, dan saling mendamaikan diantara saudara kita yang sedang berselisih.

Semoga Allah senantiasa menjaga iman dan amal shalih kita.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi:

  1. Dzikrullah-Durusu fi al Raqa’iq waz Zuhdi, Ibrahim Abdullah bin Saif al-Mazru’i
  2. Syarah al Lu’lu’wal Marjan,Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi.
  3. AlQur’an terjemah surah al Hujurat ayat 9-10 dan surah al-Ahzab: 58.
  4. Shahih Imam al-Bukhari dalambab ”Kitabul Iman”.
  5. Shahih Imam Muslim.

download (1)