Bahaya Riya’ dan Sum’ah

Oleh: Abd. Fatah

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ وَمَنْ يُرَاءِيْ يُرَاءِيَ اللهُ بِهِ {وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللهُ بِهِ}

Artinya: ”Barang siapa yang memperdengarkan/menyiarkan amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya, dan barang siapa beramal karena riya’, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan orang banyak pada hari Kiamat).”

Perawi Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya nomor: 6499 dan Imam Muslim dalam Shahihnya nomor: 2987 dari Shahabat Jundub bin Abdillah Radhiyallahu anhu.

Syarah Hadits

Kata riya’ menurut bahasa adalah: الرياء dari isim masdar , يراءى,رءاء,ورياء, مراءة  راءى, artinya, melihat/pamer. Intinya riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.

Sedangkan sum’ah atau tasmi’ adalah menceritakan alqurab  (ibadah) kepada orang lain untuk mendapatkan kerelaan mereka.

Perbedaan riya’ dan sum’ah adalah bahwa riya’ itu menyertai amal, sedangkan sum’ah terjadi setelah amal. Tasmi’/sum’ah kadang terjadi dengan menceritakan ibadah yang dilakukan scara rahasia, seperti orang menyumbangkan pembangunan masjid diatasnamakan hamba Allah kemudian ketika pengurus pembangunan masjid tersebut mengumumkan nama-nama penyumbang di antara dana yang sudah masuk sekian dari si A Rp 2.000.000; sedangkan dari si B  Rp 3.000.000; berikutnya dari hamba Allah Rp 25.000.000; lalu si penyumbang yang mengatasnamakan hamba Allah tersebut berbisik kepada orang di sebelahnya dengan berucap yang nama hamba Allah tadi adalah dirinya, itulah contoh sum’ah. Dan masih banyak contoh sum’ah yang lain.

Riya’ adalah beramal karena diperlihatkan kepada orang lain, sedangkan sum’ah adalah beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata), sedangkan sum’ah adalah berkaitan dengan indra pendengaran (telinga).

Riya’ dan sum’ah keduanya adalah haram hukumnya, tanpa ada perbedaan pendapat di antara para Ulama’. Allah berfirman dalam surah al-Kahfi ayat: 110. “Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Dan surah al-Ma’un ayat 4-7: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat. Dalam ayat tersebut sebagian mufassirin mengartikan enggan membayar zakat.

Oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, riya’ disebut syirik khafi (syirik yang samar). (H.R. Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi). Memang ada perkecualian dalam riya’ ini, di mana Imam Izzuddin bin Abdussalam mengatakan, “Tetapi ada yang dikecualikan, yaitu seseorang yang menampakkan amal agar diteladani dan diambil manfaatnya, maka hal ini yang dibolehkan.”

Bahaya Riya’

Dikisahkan dalam Hadits dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallhu alaihi wasallam  bersabda, ‘Sesungguhnya manusia yang pertama yang diadili pada hari Kiamat adalah:

  • Orang yang mati syahid di jalan Allah, ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Amal apakah yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Aku berperang semata-mata karena engkau sehingga aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).” Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
  • Berikutnya orang yang diadili adalah orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta orang yang membaca al Qur’an. Ia didatangkan sebagaimana (orang pertama yang mengaku sebagai mujahid), kemudian Allah bertanya, “Amal apakah yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Saya menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an hanyalah karena Engkau.” Allah berfirman, “Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim, dan engkau membaca al-Qur’an supaya dikatakan seorang qari’. Memang begitulah di dalam dirimu yang diberi kelapangan rizki dengan berbagai macam harta benda.” Kemudian didatangkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkan ke dalam neraka.
  • Kemudian orang berikutnya orang yang kaya dan dermawan. Ia didatangkan sebagaimana orang mujahid dan penuntut ilmu. Allah bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Kau cintai, melainkan pasti saya melakukannya semata-mata karena-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta! Engkau berbuat demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan, dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).” Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (H. Imam Muslim, An-Nasa’i, al-Baihaqi, dan Imam Ahmad).

Kesimpulan

  1. Nilai amal seseorang di sisi Allah subahanahu wata’ala diukur dengan tingkat keikhlasan karena Allah dan sesuai ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Bukan dengan banyak dan besarnya amal. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Kahfi: 110 di atas. Menurut al-Hafidz Ibnu Katsir bahwa ayat tersebut mengandung pengertian dua landasan dalam beramal yaitu: ikhlas karena Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
  2. Hadits di atas menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan ke dalam neraka dan tidak bisa mendapat pertolongan selain dari Allah subahanahu wata’ala. Mereka membawa amal yang besar dan banyak tetapi mereka melakukannya karena riya’, ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari manusia.
  3. Pelaku riya’ di hari Kiamat, di hari yang dibuka dan disibak semua hati, wajahnya diseret secara tertelungkup hingga masuk ke dalam neraka sesuai dengan amalnya di dunia hanya mencari wajah manusia.

Semoga Allah selalu menjaga iman kita semua, sehingga dapat menjauhi amal riya’ dan sum’ah menuju amal yang ikhlas. Aamiin.

وَاللهُ يَتَوَلَّى الْجَمِيْعَ بِرِعَايَتِهِ

Referensi:

  1. ArRasail, Yazid bin Abdul Qadir Jawas
  2. Taushiyah Multaqa Sanawy ke-18 Yayasan Persyada alHaromain, Abina, K. Ihya’ Ulumiddin.
  3. Kitabul Imarah, Imam Muslim.
  4. Tafsir Ibnu Katsir, al-Hafidz Ibnu katsir.
  5. Imam an-Nasa’i dalam Sunannya.
  6. Imam Ahmad dalam Musnadnya.
  7. Imam al-Baihaqi (1X/168).