Batas Ketaatan Kepada Pemimpin

Oleh:

Ust. Abdul Fattah

Nabi SAW bersabda:

اَلسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِالْمُسْلِمِ فِيْمَا اَحَبَّ وَكَرِهِ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ .فَاِذَا اُمِرَبِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

Artinya: “Mendengarkan dan mentaati adalah wajib atas orang islam baik dia senang atau tidak, selagi dia tidak di perintah berbuat durhaka, maka tidak harus mengindahkan dan taat.”

Derajad dan Perawi Hadits

Hadits ini shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Abu Daud dari sahabat Abdullah bin ‘Umar ra.

Syarah Hadits

Hadits di atas berkaitan dengan firman Allah SWT dalam QS. Annisa’ ayat ke 59:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

download (3)Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas yang bercerita bahwa, ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa pengutusan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah bin Hudzaifah untuk memimpin suatu detasemen (satuan tentara/polisi) untuk menghadang kaum musyrikin. Sedang menurut ceritanya sahabat Ali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ialah bahwa Rasulullah SAW telah mengirim detasemen untuk penghadangan, sebagai kepalanya telah ditunjuk seorang dari sahabat anshor. Di tengah perjalanan terjadilah hal-hal yang menimbulkan kemarahan sang ketua. Maka dikumpulkanlah para anggota detasemen itu dan ditanya “Tidak kah Rasululah SAW telah memerintahmu taat kepadaku?”.”Benar,” jawab mereka.

Jika demikian, kata sang kepala, kumpulkanlah kayu bakar untuk ku. Kemudian dibakarlah kayu yang sudah terkumpul sehingga menjadilah api yang cukup besar, lalu berkatalah kepala anggota detasemennya, “Aku perintahkan kamu terjun kedalam api ini.” Seorang anggota remaja berkata kepada kawan-kawannya menanggapi perintah sang kepala, ”Kamu telah lari kepada Rasulullah untuk menghindari api neraka, maka janganlah kamu tergesa-gesa melakukan perintah itu sebelum menemui Rasulullah SAW. Dan bila Beliau menyuruh mu terjun ke dalam api itu, maka laksanakanlah.”

Setelah mereka tiba, kembali menemui Rasulullah SAW dan menceritakan  apa yang telah terjadi. Bersabda lah Rasulullah SAW yang artinya: ”Mendengarkan dan ta’at kepada perintah penguasa diwajibkan atas seorang muslim suka atau tidak suka ia, selama tidak diperintahkan untuk melakukan maksiat. Dan jika ia diperintahkan suatu perbuatan maksiat, maka tidaklah wajib mendengarkan dan mentaatinya. Sebagaimana dalam hadits tersebut, dalam riwayat yang lain Nabi SAW bersabda yang artinya: “Andaikan kamu terjun ke dalam api itu, niscaya tidak akan keluar untuk selama-lamanya. Sesungguhnya taat yang diperintahkan itu ialah hanya bila mengenahi hal-hal yang makruf dan baik.”

Jadi, Allah SWT memerintahkan kepada hambanya yang beriman agar selau mentaati segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya juga mentaati pada pemimpin/ulil amri di antara kalian.

Makna “Ulil amri” menurut sebagian ulama adalah mereka yang diserahi untuk mengurusi suatu persoalan-persoalan dan berbagai maslahat penting. Di antara mereka ialah setiap orang yang menguasai disiplin ilmu tentang berbagai permasalan yang dibutuhkan umat/masyarakat dan diserahi untuk mengatur/memimpin berbagai urusan umat/umat islam.

Dalam hadits di atas mengandung pengertian bahwa kita sebagai manusia/ hamba Allah yang beriman  harus taat kepada pemimpin selama tidak mengarah pada kedurhakaan kepada Allah SWT. Dan jika pemimpin itu mengarah kepada kezhaliman maka kita tidak harus taat kepada siapapun yang menyuruh kita. Apalagi ketika pemimpin itu durhaka kepada Allah, menyuruh kepada perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.

images (4)

Maka dari itu, kriteria pemimpin yang harus ditaati adalah :

1.Bila mereka menyuruh kita melaksanakan amar makruf nahi munkar dalam rangka menegakkan Agama Allah SWT, maka kita sambut dan taati sekaligus kita laksanakan.

2.Bila kita dimintai pertolongan untuk mengantisipasi musibah kebakaran, bencana alam, dan musibah-musibah yang lainnya, maka kita wajib memenuhi dan melaksanakannya selama perintah itu untuk kemaslahatan umum dan tidak bertentangan dengan syara’.

3.Bila kita memahami bahwa mereka benar-benar memiliki jiwa yang tangguh, semangat, sabar, ulet memiliki kredebilitas yang memadai dan sosok pemimpin yang berakhlakul karimah yang patut kita teladani, maka yang demikian itulah yang harus kita respon dan kita taati.

images (5)Adapun apabila perintah seorang pemimpin yang menjurus pada suatu kedurhakaan, kemaksiatan dan kezhaliman seperti: menutup-nutupi orang yang secara nyata bersalah, menuduh jahat kepada orang yang sebenarnya ia adalah orang baik dan bahkan suka membela kebenaran dan keadilan, mengambil-kekayaan rakyat dengan cara yang paksa, menghukum orang yang membela kebenaran dan keadilan dan membela orang yang bersalah, membiarkan bahkan menfasilitasi wanita-wanita yang menjual kehormatannya atau melacur, melegalkan perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik yang memproduksi barang-barang yang haram, seperti minuman keras, narkoba, dan masih banyak contoh-contoh yang lain. Maka sikap dan tindakan kita harus tetap konsisten dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya serta tidak mentaati dan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh pemimpin kita yang mengarah kepada kedurhakaan.

Sungguh telah banyak hadits yang menerangkan tentang perintah untuk mentaati penguasa/pemimpin yang jujur, adil dan bijaksana serta bersikap sabar menghadapi pemimpin yang zhalim yang sekiranya kita belum mampu menentang mereka.

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda yang artinya: ”Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang tidak disukai, hendaknya ia bersabar, karena sesungguhnya tidak seorang pun diperbolehkan memisahkan diri dari jamaahnya, walaupun jarak sejengkal pun, kecuali akan mati secara jahiliyah.” (H.R. al-Bukhari)

Ibnu Abbas ra berkata dalam hadits, bahwa perintah bersabar terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan itu memang cukup berat bagi kita, tapi tidak termasuk perbuatan durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.

images (6)

Oleh karena itu, hendaknya kita mempergunakan kebijaksanaan dalam mengingkari perbuatan kedurhakaan mereka jangan sampai menimbulkan fitnah dan membawa rakyat berpecah-belah atau membawa kepada permusuhan. Usahakanlah untuk menyelamatkan umat dan menghindarkan diri dengan cara yang bijaksana. Allah SWT berfirman dalam Q.S :

 وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”

Cenderung kepada orang yang zhalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka hal tersebut diperbolehkan.

Wallahu’a’lam bish showab.

والله يتولى الجميع برعايته.

Referensi:

1.Shahih Imam Bukhari.

2.Tafsir Mukhtashor Ibnu Katsir QS. Annisa’.

3.Hadits-hadits pilihan, Prof.Dr.H. M. Noor Sulaiman.

4.Al Qur’anul Karim, QS. Annisaa’ayat 59 dan QS. Hud ayat 113.