Beberapa Prinsip Rizqi

Oleh:

Ust. Masyhuda Al-Mawwaz

bekerja-keras-justru-tak-baik-untuk-karir-dan-kesehatanRizki tak ubahnya seperti kematian. Selama ajal masih dikandung badan, maka selama itu pula rizki akan terus datang. Keyakinan ini harus selalu terpatri dalam hati, sehingga manusia tidak tersibukkan dengan rizqi sampai pada tingkat parah, yakni melupakan tugas utama sebagai hamba yang harus mengabdi kepada Allah.

Berikut ini beberapa prinsip seputar rizqi yang harus dipahami agar untuk masalah yang satu ini manusia tidak tercekam oleh kesedihan hati.

  1. Rizqi Sebanding dengan Kebutuhan

Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW:

إِنَّ الْمَعُوْنَةَ تَأْتِى مِنَ اللهِ لِلْعَبْدِ عَلَى قَدْرِ الْمَؤُوْنَةِ وَإِنَّ الصَّبْرَ يَأْتِى مِنَ اللهِ لِلْعَبْدِ عَلَى قَدْرِ الْمُصِيْبَةِ

“Sesungguhnya pertolongan untuk hamba datang dari Allah sesuai kadar biaya (kebutuhan) dan sesungguhnya kesabaran bagi hamba datang dari Allah sesuai kadar bencana.”[1]

Dengan jelas sekali sabda Rasulullah SAW ini meyakinkan kita semua akan jaminan Allah SWT. Sungguh Dia Maha Pemberi Rizki, Maha Penolong, pasti menurunkan pertolongan dan menganugerahkan rizki-Nya kepada hamba sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Imam al-Munawi berkata, “Maksud hadits ini adalah jika seorang berkewajiban membiayai hidup orang – orang yang secara syara’ wajib ia biayai, maka jika biaya itu sedikit, maka Allah juga memberi sedikit. Jika biaya itu banyak dan orang tersebut mau berusaha dengan keras pada jalur yang benar, niscaya Allah menurunkan anugerah-Nya dan memberinya rizqi dari jalan yang tidak tersangka-sangka, sehingga ia mampu mencukupi kebutuhan orang – orang yang wajib ia hidupi. Hal ini dengan syarat, bila orang tersebut mau memohon pertolongan kepada Allah dengan sungguh – sungguh dan tulus. Pada saat itulah dia akan dikabulkan. Karena barang siapa yang harus mengeluarkan biaya dan ia memohon pertolongan kepada Allah, niscaya pertolongan Allah pasti datang sesuai kebutuhan sehingga tak ada kata lemah baginya selamanya.”

Sabda Rasulullah SAW selaku manusia yang paling bertaqwa di atas mendorong kita semua agar percaya penuh dengan kekuatan dan kekuasaan Allah, mengarahkan dan menyandarkan harapan dan permintaan hanya kepada-Nya, serta secara tersirat melarang melakukan tindakan mengirit biaya (taqtiir) keluarga. Tidak semestinya seseorang khawatir miskin karena memiliki banyak anggota keluarga, sebab Allah pasti menolongnya. Tetapi sebaiknya dia berjuang dan bekerja maksimal dengan tetap bersandar kepada Allah.

download (29)

Berangkat dari sinilah, ketika sebagian murid datang mengeluhkan susahnya mencari nafkah, maka sang guru lalu memerintahkan murid supaya menikah. Perintah ini membuat murid terheran, karena untuk mencukupi diri sendiri saja ia belum bisa, apalagi harus menghidupi  isteri. Kendati demikian, perintah sang guru tetap ia jalankan. Sesudah mempunyai isteri, murid datang lagi dan mengeluhkan penghidupannya yang susah. Sang guru lalu memerintahkan agar murid bertempat di sebuah rumah, lalu membeli kendaraan, dan mengambil pembantu. Setelah itu, Allah pun meluaskan rizkinya. Oleh sang guru, saran – saran yang diberikan kepada murid tak lain diilhami oleh hadits di atas. Sungguh Allah telah berfirman kepada Nabi Dawud as:

يَا دَاوُدُ إِصْبِرْ عَلَى الْمَؤُوْنَةِ تَأْتِكَ الْمَعُوْنَةُ وَإِذَا رَأَيْتَ لِى طَالِبًا فَكُنْ لِى خَادِمًا

“Wahai Dawud, bersabarlah atas biaya (yang harus kamu tanggung), maka pertolongan pasti datang kepadamu. Dan jika kamu melihat-Ku menuntut, maka jadilah pelayan-Ku”

  1. Harus Menetapi Satu Pintu

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ بُوْرِكَ لَهُ فِى شَيْءٍ فَلْيَلْزَمْهُ

“Barang siapa diberkahi dalam sesuatu, maka hendaknya ia menetapinya.

(H.R. Ibnu Majah dari Anas ra)

Maksudnya, barang siapa yang telah memperoleh penghasilan dari sebuah sumber penghidupan (Ma’isyah), maka hendaknya ia senantiasa menetapi dan tidak meninggalkan sumber tersebut selama masih memancarkan air penghidupan. Sebab, bisa jadi arah baru yang hendak dituju tidak memancarkan sumber yang diinginkan.

Nafi’ berkisah: Aku biasa berdagang ke Syam dan Mesir dan pada suatu kesempatan hendak berdagang ke Iraq. Setelah semua telah siap, sebelum berangkat aku menyempatkan berpamitan kepada Ummul Mu’minin Aisyah ra. “Saya hendak pergi berdagang ke Iraq, meski sebelumnya biasa pergi berdagang ke Syam dan Mesir!” Mendengar ini, Ummul Mukminin memberikan nasihat: “Jangan lakukan itu. Sungguh aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَبَّبَ اللهُ ِلأَحَدِكُمْ رِزْقًا مِنْ وَجْهٍ فَلاَ يَدَعْهُ حَتَّى يَتَغَيَّرَ لَهُ

“Jika Allah Memberikan untuk salah seorang dari kalian sebuah jalan rizqi, maka jangan meninggalkan jalan itu sehingga berubah. (H.R. Ibnu Majah dari Nafi’)

download (28)

  1. Satu Tertutup Banyak Terbuka

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berwasiat: “Jika dengan hikmah-Nya Dia Menutup bagimu satu jalan, maka dengan hikmah-Nya pula Dia pasti membuka untukmu jalan yang lebih banyak dan lebih bermanfaat. Renungkanlah keadaan janin! Pertama kali makanannya adalah darah dari satu jalan, yaitu pusar. Ketika janin telah keluar dari perut ibunda dan jalan pusar itu tertutup, maka terbuka baginya dua jalan yang mengalir darinya sesuatu yang lebih enak dari sebelumnya, yaitu ASI dari dua puting payudara ibunda. Saat masa menyusui telah habis dan dua jalan itu tertutup oleh sapih (Fithaam), maka terbuka bagi bayi empat jalan yang lebih sempurna; dua makanan dan dua minuman. Makanan dari hewan dan  tumbuhan serta minuman air dan susu dan berbagai macam kelezatan yang lain. Ketika manusia telah mati dan empat jalan ini tertutup, maka jika ia orang beruntung niscaya terbuka untuknya delapan pintu surga. Begitulah Allah, Dia tidak mencegah sesuatu dari hambaNya yang beriman kecuali memberinya ganti yang lebih utama dan lebih bermanfaat.” [2]

  1. Harus Melakukan Usaha Pencarian

Manusia meyakini tiada Tuhan selain Allah. Dia Tuhan seru sekalian alam (Rabbul ‘Aalamiin). Bahasa Rabb memberitahukan bahwa Allah tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga merawat dan mendidik manusia hingga manusia sampai pada ajalnya. Salah satu bentuk perawatan itu adalah Dia memberikan jaminan penghidupan. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِى رَوْعِيْ لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِى الطَّلَبِ

“Sesungguhnya roh kudus (Jibril) meniupkan dalam hatiku bahwa, ‘Semua yang bernyawa tak akan pernah mati sebelum mendapatkan semua bagian rizkinya. Dan berbuat baiklah kalian dalam pencarian’.”

Hadits ini mengabarkan jaminan rizki dari Allah sekaligus dengan jelas mengajarkan supaya seseorang menggerakkan tangan dalam rangka menyambut jaminan rizki dari Allah SWT. Banyak sekali ayat – ayat Al-Qur’an dan hadits – hadits memberikan dorongan supaya manusia bekerja dan Allah Maha Pemurah menganggap usaha kerja yang dilakukan oleh manusia sebagai bagian dari bentuk ibadah kepada-Nya. Arti tawakkal (berpasrah) adalah menggabungkan unsur kepercayaan penuh terhadap jaminan Allah serta melakukan usaha zhahir dengan menggerakkan tangan. Bila hanya berpasrah saja dan tanpa usaha, maka itu disebut dengan Tawaakul.

images (33)Usaha zhahir sama sekali juga tidak bertentangan dengan konsep berpasrah diri (Tawakkal), sebab berpasrah adalah aktivitas hati yang diperintahkan. Sementara aktivitas zhahir juga diperintahkan. Jadi, bila salah satunya tidak ada, berarti masih ada perintah Allah yang ditinggalkan. Jika kita meneliti, para nabi dan orang–orang saleh terdahulu juga melakukan aktivitas usaha dalam rangka menyambut anugerah rizki dari Allah.

Karena itulah ketika Amar bin Umayyah adh-Dhamari datang bertanya, “Wahai Rasul, saya lepaskan unta kendaraan (Raahilah) dan saya bertawakkal?”  Nabi SAW lalu bersabda seperti di atas. Anas ra juga meriwayatkan: Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasul, saya mengikatnya (Raahilah) dan bertawakkal atau saya lepaskan dan saya bertawakkal?” Nabi SAW bersabda:

إِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah dan bertawakal – lah!” (H.R. at-Turmudzi)

Secara mudah dapat disimpulkan bahwa hadits di atas menganjurkan supaya manusia mengambil sarana – sarana (Asbaab/ Wasaa’il), tetapi jangan sampai bersandar dengan hal tersebut. Harits al-Muhasibi berkata: “Barang siapa menyangka bahwa bertawakkal adalah meninggalkan aktivitas pekerjaan (Kasab), maka hendaklah dia meninggalkan segala aktivitas dunia dan akhirat. Dan sesudah itu, hendaklah dia menerima disebut sebagai orang bodoh.”

Wallahu a’lam.

[1] H.R. at-Turmudzi dalam “an-Nawaadir”, Bazzar dalam “al-Musnad”, Hakim dalam “al-Kunaa Wal Alqaab” serta ath-Thabarani. Seluruhnya bersumber dari Abu Hurairah t.

[2] Lihat al-Fawaaid / 60

images (21)