Rasa Syukur Ala Si Mbok

Oleh: Dandik Syaifudin
(Santri Pesma al-Midroor/mahasiswa UNTAG surabaya)

Sore itu dengan kondisi badan yang kurang fit saya memaksakan diri untuk pulang ke kampung halaman. Kondisi badan yang kurang fit membuat perjalanan dari Gresik menuju Tuban sangatlah melelahkan. Beberapa bulan ini saya yang semula tinggal di Surabaya harus pindah di Gresik karena adanya program kerja praktek dari kampus tempat saya kuliah.
Perjalanan tiga jam pun telah terlalui. Setelah mengucap salam dan mencium tangan kedua orang tua, saya langsung nyelonong masuk ke kamar mandi. Karena badan yang tambah meriang, malam itu saya sengaja tidak mandi. Saya hanya sekedar cuci muka untuk menghilangkan debu yang menempel di wajah. Kasurpun menjadi tujuan utama saya setelah dari kamar mandi.
Sudah jadi kebiasaan, tiap pulang dengan kondisi badan tidak fit, saya selalu mencari tukang pijat. Tapi lebih banyak emak (ibu)-ku yang menjadi sasaran untuk saya minta memijat. Berhubung malam itu Emak juga capek karena dari ladang, saya disuruh untuk minta pijat pada si Mbok sebelah rumah. Sayapun segera berangkat ke rumah si Mbok agar cepat dipijat. “Lebih cepat lebih baik” kayaknya kata itu pantas jadi motto-ku malam itu.

Rasa Syukur Ala Si Mbok

www.flickriver.com

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Si Mbok yang biasanya keluar, malam itu terlihat sedang santai di teras rumahnya. Dengan sedikit senyum saya segera menyapanya dan mengutarakan tujuan saya. Si Mbok pun membalas dengan senyum ramah hingga terlihat gigi ratanya. Segera saya disuruh masuk dan berbaring di tempat tidur yang ada di ruang tamu. Balsem yang saya bawa dari rumahpun saya siapkan di pinggir saya agar si Mbok mudah mengambilnya saat membutuhkan.
Setelah saya berbaring, segera si Mbok mengoleskan balsem ke badan saya dan setelah itu mulai memijat mulai dari kaki hingga punggung. Sambil meringis menahan sakit, saya melihat ke beberapa sudut ruangan. Terlihat di salah satu sudut ada beberapa karung yang dari luar tampak isinya jagung.
Untuk menghilangkan keheningan, saya pun langsung membuka percakapan dengan si Mbok. “Bar panen, Mbok (Habis panen, Mbok)?” tanyaku kepada si Mbok.
“Iyo Cong, gang gek ingi (Iya Nak, kemarin lusa),” jawabnya sambil tangannya mengurut punggung. “Iku bandane tok entek wolungatus Cong, gawe tuku bibit karo emes e (Itu modalnya aja habis delapan ratus Nak, buat beli bibit dan pupuknya).” Si Mbok melanjutkan kata-katanya setelah terhenti sejenak karena fokus mengurut betisku.

“Loh, kok akeh Mbok (Lhoh kok banyak Mbok)?” tanyaku.

“Yo uwes sak mono iku (Ya memang segitu itu).” jawabnya dengan tangan yang mulai berpindah memijat jari kakiku.

Karena penasaran sayapun melanjutkan pertanyaan “Bondo semono iku kiro-kiro hasil panene lek didol oleh piro Mbok (Modal segitu kira-kira hasil panennya kalo dijual dapat berapa Mbok)??”

Dengan sedikit senyum si mbok menjawab, “Yo sak oleh-oleh e toh Cong, pokoke disyukuri ae (Ya sedapat-dapatnya toh Nak, pokoknya disyukuri aja).”

Jawaban si Mbok yang singkat itu terasa seperti pukulan telak yang mengenai ulu hati saya. Tak ada sepatah katapun yang dapat keluar dari mulut saya. Rasa kagum, malu, dan terharu bercampur menjadi satu mengelilingi otak saya. Rasa kagum akan ketawakalannya, rasa malu tak bisa sepertinya, dan terharu karena kata-kata itu terucap dari si Mbok yang tergolong orang dengan ekonomi pas-pasan. Sedangkan di sisi lain saya yang tingkat ekonomi bisa dibilang lebih baik dari si Mbok belum bisa sesyukur itu.
Kata – kata si Mbok seakan-akan mengingatkan bahwa sering saya lupa bahwa rizki itu sudah ada yang mengaturnya. Sering saya tak sadar bahwa selalu ada tempat untuk berpasrah. Berpasrah dengan sepenuh jiwa kepada yang Maha Mengatur Segalanya.
Banyak hal penting yang terkandung dalam jawaban si Mbok: ketawakalan, kesyukuran yang efek dari syukur tersebut tak gelap mata dengan harta dunia. Si Mbok menyerahkan jumlah hasil panennya kepada yang Maha Mengatur Segalanya setelah sebelumnya menanam jagung dan membawanya ke rumah lalu menjualnya. Bukankah seperti ini yang dimaksud dengan tawakal yang sesungguhnya? Berusaha, berdoa dan kemudian menyerahkan semua kepada Allah ta’ala. Semua itu telah dilakukan si Mbok.
Rasa syukur yang tinggi juga terkandung dalam jawaban si Mbok. Meskipun belum tahu berapa untung atau bahkan rugi akan hasil panen jagungnya, ia telah mensyukurinya. Hal itu mengingatkanku pada artikel tentang syukur yang pernah kubaca. Rasa syukur merupakan salah satu maqom (derajat) yang tinggi dari seorang hamba. Rasa syukur itulah yang dapat membuat seorang hamba menjadi sadar dan termotivasi untuk terus beribadah kepada Allah. Allah berrfirman, “Dan sedikit sekali golongan hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Q.S. 34: 13) Si Mbok petani desa mungkin bagi saya layak menjadi golongan yang sedikit tersebut.
“Wis Cong, wis roto kabeh, na muleh, mugo-mugo cepet waras (Sudah nak, sudah rata semua, pulanglah, semoga cepat sembuh).” Kata-kata si Mbok sambil berdiri mengusapkan tangan bekas balsem ke kakinya.
Dengan sedikit terkejut karena masih melamun banyak hal, saya pun menjawab dengan singkat, “O iyo Mbok matur suwon (O iya Mbok terima kasih).”
Segera saya beranjak dari tempat tidur, sambil kedua tangan saya menutup balsem, kaki pun mencari-cari sandal di kolong tempat tidur. Sayapun pamit dan beranjak meninggalkan ruangan sambil bilang dalam hati, “Terima kasih si Mbok. Engkau telah mengajariku banyak hal. Semoga Allah melebihkan rizki hasil panenmu karena usaha, doa, tawakal, dan syukurmu.”
[]