Berbisnis dengan Shadaqah

Oleh: Hasbi Maula

Apakah Anda sungguh ingin menjadi pengusaha dan kaya raya? Ada jerih payah untuk mendapatkan kekayaan, ribuan kehati-hatian untuk mempertahankannya, dan ribuan kesedihan jika kehilangan (Thomas Draxe). Sebuah sub judul pada halaman awal sebuah buku pegangan bagi calon pengusaha sukses di tanganku.

“Mmm… pengusaha dan kaya raya. Sebuah dua sisi mata uang. Selalu berhubungan,” pikirku. Sejak kecil impian untuk menjadi seorang pengusaha selalu terngiang. Saya melihat kakek yang senantiasa berproses tidak kenal lelah menerima pekerjaan proyek bangunan (pemborong) di kampung yang sangat terkenal. Termasuk sekolah SD dan SMP-ku merupakan karya kakek. Setiap pagi selalu keliling kebun dan mampir ke rumah sambil menunjuk sesuatu ini bisa jadi uang. Apa yang ditunjuk senantiasa ia katakana, “Ini bisa jadi uang.” Setiap selesai belajar selalu terngiang kata-kata itu, sehingga saya kepingin jadi pengusaha. Namun bagaimana caranya?

Jadi pengusaha merupakan impian kebanyakan orang. Menjadi pengusaha tentulah selalu dikelilingi oleh berbagai kekayaan dan kesenangan. Mudah untuk meraup uang, kepuasan materil tercukupi, dikelilingi kemewahan dan kenyamanan. Menjadi pengusaha yang kaya menjadi impian banyak orang. Kekayaan selalu menjadi tujuan utamanya. Ya, sekali lagi, kaya telah menjadi sesembahan baru di zaman ini.

Sungguh mengagetkan pendapat Robert T. Kiyosaki dalam menanggapi definisi “bagaimana mencapai level kaya”. Dia mengatakan bahwa alasan kenapa banyak orang tidak bisa kaya adalah karena mereka tidak cukup atau kurang memberi kepada sesamanya. Atau dengan kalimat yang lebih sederhana: seseorang yang mempunyai manfaat atau nilai tambah bagi orang banyak, maka orang tersebut akan menjadi kaya raya. Saya pikir itu adalah prinsip yang sungguh Islami.

Saya teringat sebuah dialog dengan rekan seorang pengusaha yang sungguh menarik sekaligus memperkuat penjelasan di atas. Pada saat kutanya bagaimana caranya membangun bisnisnya, beliau mengatakan, “Yang terpenting dalam targetku adalah aku berbuat bisnis seperti ini bukan karena ingin memupuk kekayaan, sungguh sekali-kali tidak! Yang kuingin adalah aku punya sekumpulan pegawai layaknya kumpulan umat di bawah wilayah perusahaanku. Aku berharap dengan di bawah kepemimpinanku, tidak ada teriakan kata lapar lagi dari para pegawai maupun anak-anak mereka. Aku ingin menjadikan kantorku sebagai tempat perlindungan sekumpulan umat kecilku itu. Aku sayang mereka, dan semakin sayang kepada mereka, dan juga kepada anak-anak mereka. Tidak pernah terpikir olehku berapa besar biaya yang akan dikeluarkan untuk merealisasikan hal ini. Aku bina perusahaan tersebut dengan landasan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ayah. Aku berusaha keras sekuat tenagaku untuk menahkodai kapal bisnis ini untuk sampai di pantai kebahagiaan kelak secara bersama-sama. Dan selalu kulibatkan kehadiran Allah dalam setiap langkah kami. Kuingin suasana perjuangan selalu hadir, agar hati kami selalu hidup dan umatku merasa bahagia. Dan aku berkeyakinan hal itu akan menjadi persembahan kami dalam meraih keberkahan dan akan menjadi bekal di akhirat kelak…! Kami yakin pasti Allah akan selalu menolong kami.”

Tak terasa mataku berkaca-kaca dan keharuanku mengalir bersama dengan uraiannya. Lain lagi Bob Galvin yang bercerita tentang ayahnya, pendiri Motorola. Sewaktu dia mengamati deretan pekerja wanita dan dia termenung, “Mereka semua mirip dengan ibuku. Mereka semua punya anak yang harus dicukupkan, rumah yang harus dirawat, dan orang-orang yang masih memerlukan mereka yang berada di bawah tanggungan mereka.” Hal itulah, ujar Galvin, yang membuat ayahnya selalu termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi agar tercipta kehidupan yang lebih baik bagi mereka, karena ayahnya melihat sosok ibunya dalam diri semua pekerja itu. “Begitulah bisnis kami semuanya dimulai dengan rasa hormat yang mendalam,” katanya.

Bahkan salah satu sosok kaum beriman, Umar bin Abdul Azis, karena rasa belas kasih dan rasa cintanya, dia selalu memberikan upah kepada pegawainya lebih besar dari apa yang ia terima. “Allahu akbar,” gumamku. Dan saya yakin bila hal ini kusampaikan kepada para pegawaiku, mereka semua akan tersenyum lebar dan berharap hal itu menjadi kenyataan setelah membaca ini.

Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat Nabi radhiyallahu anhu juga telah mempraktikkan tentang bagaimana menggunakan kekayaannya. Beliau seorang pengusaha yang sukses, tetapi memandang kekayaannya hanyalah sebagai fasilitas untuk beramal shalih. Beliau mencontohkan dalam kisahnya yang telah mensedekahkan separuh harta miliknya sebanyak 40.000 dinar pada Rasulullah r, kemudian mensedekahkan lagi hartanya sebanyak 40.000 dinar, dan kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar. Semuanya itu berlangsung dalam jangka waktu yang berdekatan. Lalu beliau menanggung 500 kuda untuk kepentingan fi sabillillah, dan setelah itu kembali menanggung 1.500 unta untuk kepentingan fi sabilillah. Sebagian besar harta milik Abdurrahman tersebut adalah yang beliau peroleh murni dari hasil berbisnis.

Mereka melakukan semua itu, tidak lain karena mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai hasil akhir yang ingin dicapai, melainkan mereka menggunakan kekayaan yang dimilikinya untuk meraih janji Tuhannya dengan mendapatkan ganjaran yang luar biasa yaitu surga-Nya.

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. At-Taubah: 111)

Said Nursi, ulama dari Turki, mengomentari ayat tersebut dan berkata, “Seandainya saya memiliki seribu nyawa, dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi kejayaan Islam. Bagaimana tidak? Karena sesungguhnya saya kini sedang menunggu di alam Barzakh (alam antara kematian dan kebangkitan), kereta yang akan membawa saya ke akhirat. Saya sudah ikhlas dan siap melakukan perjalanan ke dunia lain untuk bergabung bersama di tiang gantungan. Saya ingin sekali dan sudah tidak sabar untuk melihat akhirat. Cobalah Anda bayangkan keadaan pikiran seorang anak kampung dari sebuah dusun yang seumur hidupnya belum pernah melihat sebuah kota besar dengan berbagai kesenangan, kemewahan, dan kemegahan. Maka Anda akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk mencapai hari akhir itu.”

Akhirnya, tiada kata lain saudaraku, sudah siapkah kita menjadi entrepreneur langit seperti itu? Yang senantiasa memikirkan kesuksesan namun untuk kepentingan orang banyak. Semoga semakin banyak umat Islam sadar bahwa peluang hari ini sukses cukuplah besar sebesar peluang untuk memberi kepada sesama yang akan kembali pada diri sendiri. Percayalah apa yang kita berikan kepada sesama tidak akan pernah habis karena Allah akan menggantikannya yang lebih besar dari apa yang kita berikan.

[]