Berkelana ala Tentara Garuda

Oleh: Sodiman

Pasukan Garuda

IMG-20170112-WA0031Adalah sebuah kehormatan bagi saya, seorang prajurit Marinir, terpilih sebagai salah satu Pasukan Garuda, yang bertugas untuk menjaga perdamaian di Timur Tengah. Tepatnya di Lebanon. Saya sangat sadar, bahwa saya mewakili bangsa saya, bangsa Indonesia untuk mengemban tugas mulia tersebut. Bahwa seluruh tindak-tanduk Pasukan Garuda adalah cerminan bangsa kami, Indonesia. Dan itulah yang akan dilihat oleh dunia terhadap kami, bangsa Indonesia. Setelah persiapan sedemikian rupa, pemberangkatan Pasukan Garuda dilaksanakan pada bulan Desember 2015. Kami akan bertugas selama satu tahun di Lebanon.

Sesampainya kami di Lebanon, kami langsung bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian dari negara-negara lain. Di sepanjang garis perbatasan antara kedua negara, terdapat beberapa pos pasukan PBB. Kami bertugas di salah satu pos penjagaan yang berada di sebuah daerah terpencil di perbatasan antara Lebanon dan Israel. Setiap hari 24 jam, 7 hari, sepanjang tahun, patroli pasukan PBB tidak pernah berhenti ataupun libur. Setiap satu kendaraan patroli datang dari pos belakang kami, maka segera mobil patroli dari pos kami akan segera berpatroli menuju pos yang ada di depan kami, begitu terus, dan tidak putus pada setiap pos penjagaan.

Setiappos dijaga oleh satu kompi pasukan yang senantiasa bersiaga. Mengingat wilayah yang dijaga adalah wilayah konflik, dan jauh dari pemukiman penduduk, sudah tentu yang sehari-hari yang tampak adalah para pasukan penjaga perdamaian PBB dari berbagai negara. Untuk menghindari kejenuhan, biasanya diadakan perlombaan antar pos. Ada lomba menembak, renang, lari, basket, dan lain sebagainya, dimana banyak Pasukan Garuda yang tampil sebagai pemenang. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami, Pasukan Garuda. Demikianlah keseharian kami sebagai pasukan penjaga perdamaian dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

***

Mayoritaspenduduk Lebanon adalah muslim.Namun banyak juga kaum Kristen. Kelompok Islam terpecah antara sunni dan syiah.Keruwetan telah melanda negara kecil ini sejak lama. Kuatnya perselisihan antar kelompok membuat negara ini tanpa Perdana Menteri. Sebab, setiap kali diadakan pemilihan umum, selalu geger.

Karena wilayah operasi pasukan penjaga perdamaian PBB jauh dari pemukiman penduduk, kami jarang sekali berinteraksi dengan penduduk. Namun untuk kehidupan beragama, saya kira Indonesia lebih semarak. Karena selama saya di Lebanon, hampir tidak pernah mendengar suara azan. Memang penduduknya mayoritas muslim, akan tetapi di wilayah Lebanon, hampir tidak pernah mendengar suara azan. Bahkan selama saya bertugas, hanya satu kali saja melihat penduduk Lebanon melaksanakan shalat di masjid. Saya belum pernah melihat shalat Jum’at di Lebanon. Masjid juga sangat jarang, bisa dikatakan di satu daerah setingkat kabupaten, hanya ada satu masjid. Ini yang menurut saya sangat berbeda dengan kita di Indonesia.

Kondisi alam Lebanon seperti umumnya kawasan Timur Tengah,dimana hanya beberapa jenis tumbuhan seperti pohon zaitun dan pohon tiin saja yang dapat tumbuh di tanah berbatu. Lebanon mengalami empat musim, dan yang ekstrim adalah musim dingin dimana suhu bisa mencapai -7 oC. Pada musim dingin seperti itu, kami harus hati-hati dalam beraktivitas, dikhawatirkan jika kita tidak merasa apabila terjadi suatu patah tulang atau cidera, ini sangat berbahaya. Musim dingin berlangsung selama tiga bulan.Pada puncak musim dingin seperti itu, bukan lagi salju lembut yang turun, akan tetapi bongkahan es.

Perang antara Lebanon dan Israel seperti perang abadi, silih berganti dan tidak pernah berhenti saling mengintai. Sewaktu saya bertugas, pernah sekali terjadi perang antara kedua pihak dimana timbul satu korban jiwa di pihak Israel. Ini terjadi pada bulan April 2016. Saling “mengirim” roket juga masih terjadi antara Lebanon dan Israel.

Satubulan sebelum tugas kami berakhir, terjadi kebakaran hebat yang melanda Israel.Meski kami berada di sisi Lebanon, akan tetapi dari kejauhan saya melihat sendiri bagaimana kebakaran hebat tersebut. Saya menyebutnya hujan api, sebab tidak seperti kebakaran pada umumnya dimana api membakar dan membubung tinggi ke angkasa. Akan tetapi yang saya lihat dengan mata kepala ini adalah langit merah yang penuh dengan api dan lidah api menjilat ke bawah dan membakar hutan, pemukiman, dan apa saja yang berada dibawahnya. Bahkan Israel yang konon sebagai negara paling maju di Timur Tengah tidak mampu mengatasi kebakaran itu. Saya memandangnya sebagai kekuasaan Tuhan yang Ia tunjukkan kepada bangsa Israel, sebagai peringatan atas kesewenang-wenangan mereka.

Namun selama bertugas, Alhamdulillah seluruh pasukan PBB tidak mengalami gangguan berarti. Kami pasukan PBB terdiri dari berbagai negara, yang cukup sering bertemu adalah pasukan PBB dari Thailand, Malaysia, Singapura. Yang unik dari pengalaman saya adalah banyak sekali tentara Malaysia yang mahir bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Jawa. Hal ini karena mereka keturunan atau bahkan lahir di Indonesia, namun mereka kini sudah menjadi warga negara Malaysia. Pernah sekali saya bertemu dengan pasukan PBB asal Malaysia yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur. Walhasil, kami ngobrolnya pakai bahasa Jawa.

Hal menarik yang lain adalah Pasukan Garuda ternyata cukup disegani di Lebanon. Selain dikenal sering juara lomba menembak dan renang, pasukan kita dikenal pemberani dan cakap. Bahkan milisi semacam ISIS yang sering mengganggu pasukan PBB dari negara lain, herannya tentara Garuda tidak pernah mendapat gangguan. Demikian juga dengan penduduk lokal yang segan dengan Pasukan Garuda. Entahlah mengapa bisa demikian, tapi yang jelas seperti itulah keadaannya.

Demikian juga dengan umroh. PBB memfasilitasi pasukan PBB yang muslim untuk bisa umroh ke kota Makkah. 90 % yang memanfaatkan kesempatan umroh itu ya Pasukan Garuda. Bahkan tentara Arab Saudi jika melihat kami, rombongan TNI melaksanakan umroh, mereka mengacungkan jempolnya dan sangat segan dengan askar Indonesi.Mungkin perawakan kami lebih kecil, tapi kami sangat kompak dan selalu tampil berombongan.

Dalam hati kecil kami mulai menyadari, bahwa bangsa kita sebenarnya adalah bangsa yang besar yang cukup diperhitungkan dan disegani oleh dunia. Apabila kesadaran ini berlaku kolektif dalam benak semua rakyat, insya Allah akan segera menjadi kenyataan.

[]