Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Berkualitas dalam Kebaikan | LAZIS AL HAROMAIN

Berkualitas dalam Kebaikan

Berkualitas dalam Kebaikan

Oleh: Ust. Abdul Fatah

 

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ اَبِىْ يَعلَى شَدَاد بِنْ اُوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ الرَّسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ: إِنِّ اللهَ كَتَبَ اْلِاحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوالْقِتْلَةَ وَاِذَا ذَ بَحْتُمْ فَاَحْسِنُوالذِّ بْحَةَ وَاْليُحِدْ اَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَ بِيْحَتَهُ (رواه المسلم)

Artinya: Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ”Allah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, perbaguskanlah pembunuhannya, dan jika engkau menyembelih, maka perbaguskanlah penyembelihannya. Dan hendaklah salah satu di antara kalian mempertajam pisaunya dan menggembirakan sembelihannya. (H.R. Muslim).

Keterangan

Sehubungan dengan hadits ini, konon zaman dahulu ada perbuatan yang dilakukan oleh orang jahiliyah. Mereka melakukan penyembelihan binatang dengan bermacam-macam cara yang sadis, di antaranya dengan memotong hidungnya, ada yang memotong tangan dan kakinya, ada pula yang menyembelih dengan pisau yang tumpul, dengan tulang, bambu, dan melakukan penyembelihan yang menyiksa dan menyakitkan yang lain. Islam datang dengan diutusnya Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan memberikan bimbingan melalui sabdanya dalam hadits ini.

Hadits di atas memberikan tarbiyah yang sangat berharga bagi kita, bagaimana agar ibadah kita yang mencakup seluruh aktivitas yang dijalankan sehari-hari ini menjadi nilai kebaikan yang berkualitas, berbobot, maksimal, dan mendapatkan pahala di sisi Allah yang berlipat ganda serta mendapatkan kemuliaan, derajat yang tinggi. Untuk itu, kita harus benar-benar selektif dalam berbuat, beramal, beribadah, baik itu ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun hati.

Dalam hadits tersebut ada rangkaian kalimat: ان الله كتب الاحسان على كل شئ. Sesungguhnya Allah mewajibkan/menetapkan kebaikan pada segala sesuatu. Maksudnya adalah segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya dilakukan yang terbaik, tidak asal-asalan atau sekedarnya, agar mendapatkan hasil yang terbaik pula. Ini merupakan kewajiban dan anjuran dari Allah melalui sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam tersebut.

Secara umum, perintah kebaikan ini pada segala sesuatu. Menurut sebagian ulama ada yang sifatnya wajib ada yang sunnah. Yang wajib misalnya: melaksanakan rukun Islam yang lima yang merupakan ibadah mahdhah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, terutama shalat lima waktu. Sedangkan selain shalat lima waktu mungkin masih ada yang perlu dimaklumi kalau memang benar-benar tidak mampu, misalnya zakat; bila belum mampu karena hartanya tidak sampai satu nishab, maka ia belum wajib mengeluarkan zakat secara mutlak. Kebaikan yang merupakan ibadah mu’amalah adalah hubungan dengan sesama manusia; yang wajib misalnya birrul waalidain, yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua, sanak kerabat, dan lain sebagainya. Sedangkan kebaikan yang berupa ibadah sunnah seperti shalat sunnah, bershadaqah, menolong orang lain, dan seterusnya.

Penjelasan secara khusus adalah selalu memperhatikan etika dalam Islam, yaitu bahwa kita harus berakhlakul karimah kepada semua makhluq, kepada manusia secara umum, bahkan kepada musuh dalam peperangan pun harus punya etika yang santun, tidak menzhalimi, sebagaimana dalam hadits diatas ada kalimat: فاذا قتلتم فاحسنوالقتلة (maka jika kalian membunuh, perbaguskanlah pembunuhannya). Maksudnya adalah sekalipun kita membunuh musuh kita misalnya dalam peperangan, maka kita dianjurkan membunuh dengan beretika yang baik, tidak ngawur, memakai pedang atau panah yang tajam, tidak menyayat-nyayat tubuhnya, apalagi mutilasi. Perbuatan demikian sangat keterlaluan, melampaui batas, dan itu adalah penghinaan besar. Kita berbuat zhalim kepada musuh saja tidak boleh, apalagi dengan sesama saudara muslim sendiri.

Berkualitas dalam Kebaikan

depoki.go.id

 

Selanjutnya kitapun dianjurkan berbuat baik pada binatang termasuk sembelihan, sebagaimana lafadh dalam hadits tersebut :واذا ذ بحتم فاحسنوا لذ بحة (jika kalian menyembelih, perbaguslah sembelihan). Artinya kita juga harus punya sifat kasih sayang terhadap binatang sembelihan seperti binatang unta, sapi, kerbau, kambing, ayam dan yang lain. Bila mau menyembelih, kita harus tahu dan paham bagaimana cara menyembelih yang baik dan benar menurut tuntunan syari’at agama Islam, di antaranya: 1). Baca bismillah, 2). pisau yang tajam, 3). mempercepat pisau ke leher binatang, 4). tidak melepaskan pisau di leher binatang selama pisaunya belum memutuskan kerongkongan dengan sempurna, 5). tidak mengelupas kulitnya sampai sudah mati dengan sempurna, 6). tidak menampakkan di depan binatang yang hidup, 7). tidak mengasah/mempertajam pisau di hadapan binatang yang mau disembelih.

Maka dari itu, bila kita mau berusaha menjadikan diri kita sebagai manusia mulia di sisi Allah dan juga di sisi manusia, seyogyanya kita selalu berbuat ihsan/kebaikan kepada semua makhluq, karena keutamaan dan manfaatnya besar. Di antara manfaat berbuat ihsan adalah:

  1. Allah tidak akan menyia-nyiakan orang berbuat ihsan dan pasti Allah akan membalas dengan kebaikan pula. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. ar-Rahman: 60, yang artinya: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.”
  2. Selalu mendapatkan kebaikan di dunia, hidupnya selalu diberkahi oleh Allah dan di akhirat kelak akan memperoleh anugerah yang lebih baik, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-Nahl: 30, yang artinya: “…Kebaikan bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan balasan yang baik dan negeri akhirat pasti akan lebih baik.”
  3. Selalu dekat dengan rahmat Allah, sebagaimana firman Allah dalam S. al-A’raf: 56, yang artinya: ”Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang–orang yang berbuat baik.”
  4. Akan mendapatkan surga dan kenikmatannya, sebagaimana firman Allah dalam S. Yunus: 26, yang artinya: “Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya/kenikmatan melihat Allah…”
  5. Mendapatkan kabar gembira, sebagaimana firman Allah dalam S. Al-Hajj: 37, yang artinya: “Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik.”
  6. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah: 195, yang artinya: “Dan berbuat baiklah, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
  7. Selalu bersama Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Ankabut: 69, yang atinya: “Sesungguhnya Allah bersama-sama orang-orang yang berbuat kebaikan.”
  8. Pahalanya selalu tidak dia-siakan oleh Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Yusuf: 90, yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Dan masih banyak lagi keutamaan dan manfaat bagi orang-orang yang selalu berbuat yang terbaik yang sesuai dengan aturan Allah dan tuntunan Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dalam kehidupannya di dunia ini.

Sebagai himbauan terakhir, marilah kita jadikan kehidupan ini untuk selalu beramal, berbuat, berperilaku yang terbaik, karena hanya inilah sebagai kunci kesuksesan, keberhasilan, kejayaan, keberuntungan, dan kebahagiaan dunia dan akhirat, terutama di akhirat kelak ketika kita menghadap keadilan Allah Subhanahu wata’ala.

Demikian semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara iman kita, Aamiin.

Wallahu a’lamu bishshawab.

Maraji’:

  1. Bulughul Maram, Syekh Imam Nawawi.
  2. Syarah bulughul Maram, Syekh Ahmad Sulaiman.
  3. Al-Majalisus Saniyyah (syarah Bulughul Marom), Syekh Ahmad ibnu Syekh Alhijazi Alfasyani.