Bermodal Cinta Berharap Surga

Ada cerita dari Rasulullah yang sering kita dengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa: ”Ya Allah, karuniakan cinta-Mu padaku dan cinta orang yang mencintai-Mu dan cinta orang-orang yang mengantarkan diriku pada cinta-Mu. Serta jadikan cinta-Mu samudera cinta pada diriku melebihi air yang amat dingin.“ Maka bertanyalah seorang Badui kepada beliau: “Ya Rasulallah, kapan Kiamat tiba?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Apa persiapanmu untuk menghadapinya?”  Badui itu menjawab: “Demi Allah, saya tidak pernah shalat sunnah, juga tidak pernah puasa sunnah, dan tidak ada pekerjaan besar (pahala) yang aku lakukan. Namun dalam diriku (masih) ada cinta pada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.” Tersenyumlah Kanjeng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berucap: “Al-mar’u ma’a man ahabba. Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai.”

Pengakuan cinta tak hanya cukup di lisan saja. Akan dikata omong kosong belaka jika cinta tiada pembuktian. Pembuktian cinta tentu dengan sebuah pengorbanan, waktu, tenaga, harta. Bahkan nyawa pun bisa sebagai pengorbanan untuk menjelaskan wujud cinta.

Ketika seorang ibu mencintai anaknya, tentu sudah dapat kita lihat secara langsung bagaimana pengorbanan sang ibu sejak mengandung hingga melahirkan, berat dan tersiksa hingga nyawa sebagai taruhan. Merawat dari anak-anak hingga dewasa, lautan keringat dan airmata telah dicurahkan. Tetapi karena cinta, pengorbana yang begitu besar tak terasa.

images (10)

Begitu juga Baginda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mencintai kita. Sejarah telah mencatat bagaimana perjuangan pengorbanan beliau demi umatnya agar selamat dunia akhirat. Bagaimana umatnya agar selamat di kehidupan yang abadi, yaitu kehidupan setelah kematian. Di akhir hayat, beliau masih selalu memohonkan ampun dan keselamatan umatnya. Dan kelak menebar syafaat menaungi ummatnya di padang mahsyar.

Bagaimana dengan kita yang mengaku cinta? Bukti apa yang bisa kita tunjukkan sebagai tanda cinta kita kepadanya? Sudah seberapa besar pengorbanan kita? Atau bahkan sebaliknya kita sering membuat resah dan malah menyakiti Beliau? Sungguh tiada sebanding apa yang telah kita lakukan dengan pengorbanan Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Cinta Rasulullah harus ada pada setiap insan yang berkecerdasan hati. Cinta yang walaupun, yaitu walaupun kita tidak pernah melihat dan hidup bersama Beliau. Sebagai wujud cinta, alangkah indahnya jika kita bisa membahagiakan Beliau dengan melaksanakan sunnahnya dan menjadikan Beliau suri tauladan dalam menjalani kehidupan ini. Tetapi jika tidak mampu kita membahagiakan dengan sepenuhnya, maka janganlah berbuat hal yang menyakiti dengan mengingkari sunnahnya dan melanggar syariat yang baginda Rasulullah ajarkan pada kita.

Semoga dengan cinta kita kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam akan membawa kita bersama Beliau di surga kelak. Karena, al-mar-u ma’a man ahabba.

Wallahu a’lam.

[]