Bersegera Berzakat

BERSEGERA MENUNAIKAN ZAKAT

Oleh: Ust. Fahd Abdurrahman

 

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

 ” بَاكِرُوا بِالصَّدَقَةِ ، فَإِنَّ الْبَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّى الصَّدَقَةَ “

Artinya: “Bersegeralah bersedekah, karena sesungguhnya malapetaka tidak bisa melangkahi sedekah.

Arti kalimat

  1. بَاكِرُوا : Lakukanlan di awal siang (waktu pagi buta sampai terbitnya matahari). Yakni bersegeralah melakukannya sedini mungkin. Perintah ini mengandung hukum wajib, bagi shadaqah wajib (zakat) yang sudah jatuh tempo, dan mengandung hukum sunnah bagi shadaqah sunnah dan zakat yang belum jatuh tempo.
  2. الصَّدَقَة : Setiap sesuatu yang diberikan kepada orang lain dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Adapun yang dimaksud dalam hadits ini mencakup kepada shadaqah sunnah (sedekah/derma) dan shadaqah wajib (zakat).
  3. البَلاَء : Sesuatu yang tidak disukai sesorang menimpa dirinya. Diturunkan oleh Allah untuk mengujinya. Bisa berupa kebaikan agar mau bersyukur, bisa juga berupa keburukan agar mau bersabar.
  4. لَايَتَخَطىَّ : Malapetaka tidak melangkahi shadaqah, artinya malapetaka tidak bisa melewati/menembus benteng pertahanan shadaqah sehingga tidak menimpa orang yang bersedekah atau berzakat dan hartanya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dalam hadits mursal-nya Imam Hasan al-Bashri, bahwa zakat/shadaqah menjadi benteng harta:

  ” حَصِّنُوا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ “

yang artinya: “Bentengilah harta-harta kalian dengan mengeluarkan zakatnya.“

 

Perawi Hadits

Menurut pustaka rujukan yang ada pada kami, Hadits yang agung ini hanya diriwayatkan oleh dua orang shahabat Nabi, yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib Rodhiyallohu ‘anh dan Sayyidina Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anh. Namun ada perbedaan sangat tipis pada teks dari jalur Sayyidina Anas bin Malik yang mungkin dapat dikatakan tidak ada perbedaan sama sekali. Sebab perbedaan tersebut hanya bertajuk pada subyek zhahir (dijelaskan: لا يتخطى الصدقة ) dan subyek mudhmar (tersimpan: لا يتخطاها ) saja.

Pengorbit Hadits

Demikian pula Hadits ini dengan menggunakan kedua teks tersebut, hanya diorbitkan oleh dua orang pakar Hadits yang cukup tersohor, yaitu Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi (384 – 458 H) dan Imam Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi asy-Syami ath-Thabarani (260 – 360 H/873 – 971 M).

Bersegera Berzakat

doc. Lazis

Status dan Derajat Hadits

Ada dua pandangan pendapat ulama’ pakar Hadits di dalam menilai status dan kedudukan Hadits ini.

  1. Menurut Imam Abu Nashr Ahmad bin ‘Ali al-Fami (guru al-Baihaqi), tergolong Hadits Marfu’. Akan tetapi al-Baihaqi meluruskannya, bahwa hal tersebut hanyalah rekayasa semata.
  2. Menurut Imam al-Baihaqi sendiri, Hadits ini tergolong Hadits Mauquf Qauli (perkataannya) Shahabat Anas bin Malik. Dan derajat terendah untuk ukuran Hadits Mauquf adalah dha’if, namun tidak sampai jatuh ke derajat di bawah dha’if. Apalagi riwayat ini dikuatkan oleh riwayat jalur Sayyidina Ali bin Abi Thalib, maka bisa terangkat ke derajat Hadits Hasan Li Ghairih (sebab didukung riwayat lain). Terlebih lagi ada riwayat shahih Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari Shahabat Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anh, menegaskan akan larangan menunda-nunda shadaqah sunnah (apalagi shadaqah wajib/zakat). Abu Hurairah berkata, “Seorang lelaki mendatangi Rasulullah Sholallohub ‘alaihi wasallam sembari bertanya, ‘Wahai Rasulullah, shadaqah apa yang paling besar/afdhal pahalanya?’ Beliau menjawab:

أَمَا وَأَبِيكَ لَتُنَبَّأَنَّهُ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْبَقَاءَ وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

Artinya: “Sungguh demi ayahmu, niscaya kamu akan tahu hal tersebut, yaitu bersedekahlah selama kamu masih sehat, (walaupun) keadaanmu pas-pasan, khawatir jatuh miskin, sedangkan kamu berharap hidup kekal. Dan jangan sampai kamu menunda-nunda sehingga nyawamu sudah sampai di tenggorokan, kamu berkata, untuk si fulan sekian dan untuk si fulan (yang lain) sekian, sedangkan si fulan telah mampu.”

Uraian Hadits

Hadits yang cukup singkat dan terdiri dari dua unsur perintah dan illat-nya (alasan bagi perintah) ini, menyeru kepada kita akan pentingnya peran shadaqah dan zakat dalam kehidupan masyarakat Islam. Sehingga kedua jenis dana kesejahteraan masyarakat ini seharusnya diperhatikan betul waktu pen-tasharrufan/alokasinya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan untuk zakat. Dan seloyal mungkin untuk waktu shadaqah sunnah. Dengan demikian tidak ada kata kekurangan dan kemelaratan dalam sejarah perjalanan hidup umat Islam di muka bumi. Yang kaya dan mampu harus menyadari kalau mereka bertanggung jawab untuk menyejahterakan yang miskin dan yang kurang mampu (khususnya), serta keenam golongan lainnya yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an surat at-Taubah ayat 60, melalui kedua jalur dana kesejahteraan tersebut. Sangat jelas Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam melemparkan tanggung jawab ini dan melimpahkan amanat ini kepada orang-orang yang mampu atau kaya. Lewat sabda dan perintah beliau kepada Sayyidina Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu ‘anh –pada saat beliau mengutusnya berdakwah ke Yaman—dalam Hadits Shahih, riwayat kedelapan pakar hadits papan atas yang tergolong pemilik Kutubut Tis’ah, dari shahabat Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anh:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِم

Artinya: “Maka umumkanlah kepada mereka bahwa Allah yang Maha Mulia dan Agung telah mewajibkan kepada mereka zakat harta mereka yang diambil dari orang-orang yang kaya dan diperuntukkan orang-orang yang faqir/miskin di kalangan mereka. Manakala mereka telah mentaatimu untuk itu, maka jangan sekali-kali kamu mengusik harta benda berharga milik mereka (yang lain).”

Ini adalah asas koperasi yang dirintis oleh Baginda Rasul untuk menyejahterakan taraf kehidupan masyarakat Islam di muka Bumi. Yang tidak mampu, bekerja dan menyalurkan jasa kepada yang mampu, lalu yang mampu bertanggung jawab menyalurkan hasil jasa mereka kepada mereka sendiri. Dari si miskin ke si kaya untuk si miskin kembali. Roda kehidupan sejahtera akan terus berputar dengan stabil, manakala asas ini dijadikan prinsip hidup.

Bersegera Berzakat

dok. Lazis

Kandungan Hadits

Betapa besar perhatian Rasulullah Sholallohub ‘alaihi wasallam atas kesejahteraan umatnya, sehingga memberi solusi kepada mereka yang berkecukupan harta untuk bersegera mengeluarkan zakatnya sebelum datang murka dan kemarahan Allah. Dengan demikian, yang kaya akan terhindar dari malapetaka kehancuran pada hartanya dan si miskin pun akan terhindar pula dari malapetaka kesengsaraan hidup di dunia. Dalam Hadits Shahih riwayat para pemuka ilmu riwayat yang dipelopori oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, terdapat dua malaikat Allah yang satu berdo’a:

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

(Wahai Allah, berilah ganti bagi orang yang mau berinfaq), dan yang lain berdo’a:

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

(Wahai Allah, berilah kehancuran bagi orang yang tidak mau berinfaq)

Selain daripada itu, Rasulullah Sholallohub ‘alaihi wasallam mengisyaratkan beberapa hal penting, terkait perintahnya untuk menyegerakan shadaqah dan zakat, di antaranya:

  1. Mengawali hidup kita setiap kali membuka mata di pagi hari dengan bershadaqah agar mendapat jaminan dan perlindungan dari Allah selama sehari.
  2. Disunnahkannya mengeluarkan zakat wajib sebelum masuk tempo. Ini adalah pendapat mayoritas ulama’ dari kalangan madzhab empat.
  3. Orang yang cerdas akan menempuh langkah antisipasi daripada menangani sebagaimana dikatakan:

الْوِقَايَةُ خَيْرٌ مِنَ الْعِلَاجِ

Artinya: “Mencegah lebih baik daripada mengobati.“

Jadi untuk mengantisipasi turunnya malapetaka dari Allah, bersegeralah menunaikan zakat wajib atau bersedekah.

  1. Ancaman menunda-nunda zakat bagi orang yang telah mampu dan sudah jatuh tempo.
  2. Zakat dan shadaqah menjadi peredam dan penangkal murka Allah sebagaimana sabda Rasulullah Sholallohub ‘alaihi wasallam dalam Hadis Shahih Riwayat Ibnu Hibban dari Sayyiduna Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘anh:

 الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ ، وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوء

Artinya: “Sedekah (sunnah/wajib) dapat meredam kemurkaan Tuhan (Allah) dan menolak kematian yang buruk.”

Wallahu a’lam.

 

Al-Maraji’:

  1. Ath-Thabarani: Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi asy-Syami Ath-Thabarani, “al-Mu’jam al-Awsath“: 12 / 379
  2. Al-Baihaqi: Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, “as-Sunan al-Kubra: 4 / 189
  3. As-Suyuthi: Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr as-Suyuthi, “Tadrib ar Rawi“: 2 /367
  4. Al-Maliki: as Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani, “al-Manhal al-Lathif“: 69 – 75