Bijak Mengatur Keuangan Keluarga Islami

Oleh: H. Mohammad Arif, M.A.

Dosen UIN Sunan Ampel

Surabaya

 

pengelolaan-keuangan-engineeryourfinances.com_-755x510Allah subhanahu wata’ala telah mengatur tugas kewajiban suami istri dalam sebuah firman-Nya di surah Al-Baqarah ayat 233, yaitu: “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan seorang ayah menderita karena anaknya, ahli warispun berkewajiban seperti itu pula.

Dari ayat tersebut bisa dipahami bahwa kewajiban seorang ibu adalah menyusui anak – anaknya selama dua tahun penuh. Sedangkan kewajiban seorang bapak adalah mencari nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan bagi istri serta anak – anaknya, yang tidak membebani kadar kesanggupannya. Maknanya bagi istri dan anak tidak boleh membebani ayah melebihi dari kapasitasnya. Seumpama gaji yang diperoleh ayah sekitar lima juta rupiah perbulan, tidak boleh bagi istri dan anak  menuntut kebutuhan melebihi dari gaji tersebut. Oleh karenanya, suami istri harus mengetahui bagaimana cara mengatur keuangan keluarga yang ideal dan bijak dalam Islam.

Adapun langkah-langkah mengatur keuangan keluarga yang ideal dalam Islam, yaitu, pertama menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembayaran kredit atau pelunasan hutang-piutang, Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (H.R. al-Bukhari no. 2393). Selama kita masih berniat membayar utang yang dimiliki, Allah akan membantu kita membukakan pintu-pintu rezeki untuk mencapainya, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (H.R. Ibnu Majah no. 2400).

Sebaliknya jangan pernah berniat untuk tidak membayar hutang, karena akan sama derajatnya dengan pencuri seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (H.R. Ibnu Majah no. 2410).

Langkah kedua, menunaikan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan nafkah lahir kepada istri dan hak-hak dasar anak seperti hak hidup, kesehatan, serta pendidikannya yang layak  tanpa membebani kadar kemampuan income bulanan seorang ayah sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surah Al-Baqarah ayat 233. Kemudian orangtua harus bisa meyakinkan keluarga akan pentingnya mengalokasikan dananya untuk membayar zakat jika hartanya sudah mencapai nisab. Bisa menunjukkan bahwa zakat harta atau zakat mal itu wajib hukumnya. Misalnya harta yang menjadi kategori kebutuhan primer yang disimpan dan nilainya telah mencapai nisab seperti barang dagangan yang telah digunakan untuk jual beli dengan maksud mengembangkan barang dagangan tersebut.

Orangtua juga harus bisa menjelaskan kepada putra-putrinya tentang keutamaan membayar Zakat, di antaranya dapat menambah keberkahan harta pemiliknya, terjauhkan dari penyakit bakhil, menjadikan masyarakat Islam keluarga besar, serta memadamkan kemarahan kaum fakir/miskin, dengan membayar zakat bisa menolong kaum fakir/miskin dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian karena banyak kaum wajib zakat yang mempedulikan mereka. Di samping kewajiban dan keutamaan membayar zakat, sebagai orangtua harus bisa menerangkan kepada putra-putrinya tentang siksaan/ancaman yang diberikan bagi orang-orang yang menyimpan harta tapi tidak mau menafkahkannya pada jalan Allah (berzakat).

Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allâh, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. Ingatlah, pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’” (Q.S. at-Taubah:34-35)

Langkah ketiga, yaitu sebaiknya ada alokasi dana yang diinvestasikan baik investasi jangka pendek ataupu jangka panjang. Investasi jangka pendek bisa dengan menabung, tapi pastikan menabung di Bank yang berbasis syari’ah. Investasi jangka panjangnya bisa melalui Reksadana Syari’ah. Reksa Dana Syariah adalah reksa dana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip Syariah Islam baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta dengan manajer investasi sebagai wakil, maupun antara manajer investasi sebagai wakil dengan pengguna dana. Reksa dana syariah tidak akan menginvestasikan dananya pada obligasi dari perusahaan yang pengelolaan atau produknya bertentangan dengan syariat Islam. Diharapkan alokasi dana investasi ini bisa memberikan proteksi keluarga dari pengeluaran-pengeluaran yang tak terduga, seperti dalam firman Allah subhanahu wata’ala dalam suarah Yusuf: 48, “Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.”

Langkah keempat, yaitu pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan nomor dua yang dipenuhi setelah kebutuhan primer. Kebutuhan sekunder bersifat melengkapi kebutuhan primer. Bukan berarti kebutuhan sekunder tidak penting, justru kebutuhan inilah yang mendukung supaya kehidupan manusia berjalan dengan baik. Contohnya, motor, televisi, tempat tidur, meja, kursi, dan lain-lain. sedangkan kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang dapat dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi dengan baik. Pada umumnya, pemenuhan kebutuhan tersier dilakukan oleh orang-orang yang berpenghasilan tinggi dan biasanya digunakan untuk menunjukkan status sosial. Akan tetapi semuanya harus ada prioritas disesuaikan dengan income bulanan yang diterima, tidak terlalu boros dan berlebih-lebihan, hanya memenuhi hawa nafsu trend gaya hidup yang materialistik dan hedonistik. Gaya hidup seperti ini akan merusak pengelolaan keuangan keluarga. Hindari perilaku boros dan berlebih-lebihan, karena perilaku boros itu adalah perilaku syaitan dan sangat merugikan, sebagaimana firman Allah subahanahu wata’ala dalam surah al-Isra’ ayat 26-27:

“…dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu  sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Di samping juga penting bagi keluarga mengalokasikan dana untuk infak/shadaqah,  sebagai bekal  kehidupan di akherat sebagaimana firman Allah subahanahu wata’ala dalam surah Saba’: 39. Katakanlah, dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam memberitahukan kepadanya. “Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam! Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberikan rezeki) kepadamu.”

Semoga kita bisa bijak dalam mengatur keuangan keluarga yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga bisa bermanfaat dan penuh barakah.

Wallahu’alam bish-shawaab.