Bila Ananda Berkata Buruk

BILA ANANDA BERKATA BURUK

       

BILA ANANDA BERKATA BURUK

ohpida.blogspot.com

 

  Liburan telah tiba. Naf’an banyak menghabiskan waktunya dengan bermain bersama teman-temannya di sekitar rumah. Suatu hari, ibunya terkejut ketika mendengar Naf’an berkata saat mengerjakan latihan matematika, “Sialan, sulit sekali soal ini. Aku tidak bisa mengerjakannya!” Dan masih ada beberapa perbendaharaan kata-kata baru yang tidak pantas untuk didengar. Namun ibu mencoba bersikap tenang ketika mendengarnya, sambil menanyakan apa Naf’an mengerti arti kata tersebut. Kemudian menjelaskan arti dari kata tersebut, serta menjelaskan bahwa kata-kata tersebut tidak baik bila diucapkan, dan termasuk maksiat lisan. Oleh karena itu, ibu meminta Naf’an untuk membaca istighfar dan tidak mengucapkan kata-kata buruk itu lagi.

****

Berkata buruk pada anak dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:

  1. Berkata tidak senonoh, yaitu mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, tentang sesuatu yang dianggap suci seperti mengolok-olok nama Tuhan
  2. Menyumpah, yaitu berkata-kata dengan maksud menyakiti hati seseorang, seperti: “Dasar bodoh kamu!”
  3. Berkata cabul/jorok, yaitu perkataan yang mengarah pada pembicaraan ke arah seks atau mengungkapkan topik tersebut dengan cara yang lucu maupun tersamar

Pada umumnya, kebiasaan anak mengucapkan kata-kata yang buruk, kurang pantas atau bahkan jorok sekalipun, lebih sering muncul karena proses meniru. Apakah meniru dari lingkungannya (di rumah, teman bermain, maupun tetangga) sebagai hasil pengamatannya bahwa ternyata kata-kata tersebut menjadi semacam sImbol seseorang diterima lingkungannya. Atau bisa juga lewat stimulus melalui media seperti TV. Kita sadari atau tidak, pesawat televisi menjadi media yang paling banyak berinteraksi dengan anak, dibandingkan interaksi mereka dengan orang tua maupun teman. Dan celakanya, ekspresi dan lontaran kata-kata dari pemain sinetron maupun film anak, banyak yang tidak pantas didengar dan dilihat oleh orang dewasa, apalagi oleh anak-anak yang belum bisa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk.

Melihat fenomena yang sering terjadi pada anak-anak yang berkata buruk, baik yang masih balita maupun yang remaja, biasanya cukup sulit untuk dicegah apalagi dihentikan. Hal ini biasanya terkait dengan bagaimana kita sebagai orang tua menyikapinya. Orang tua sebenarnya dapat melakukan beberapa tindakan yang dapat mencegah maupun mengatasi perilaku anak-anak yang mengatakan kata-kata yang buruk bahkan jorok, yaitu:

  1. Bersikap tenang, tidak terlalu menanggapi/ mempedulikan apa yang telah diucapkan oleh anak. Cukup dengan melakukan pengawasan dan mewaspadai supaya ia tidak mengutarakan kepada teman bermainnya. Bila perkataan tersebut kurang/ tidak menjadi perhatian orang tua, maka anak akan kehilangan motivasi untuk melakukannya kembali.
  2. Tidak mentertawakan, memarahi dan menghukum anak, jika anak belum mengerti terhadap apa yang disampaikan. Tetapi cukup memberikan perhatian dan pengertian agar anak dapat berkata halus, sopan dan baik. Namun bila orang tua marah tanpa mengajak dialog dengan anak, maka bukannya perkataan buruk tersebut bukannya berkurang atau hilang, malah semakin menguat dan dijadikan senjata oleh anak untuk menarik perhatian orang tua.
  3. Bila anak mengeluarkan kata buruk tersebut pada kondisi ketika marah atau kesal, maka orang tua perlu menyadari bahwa kondisi emosi anak sedang labil dan ia perlu cara untuk pelepasan emosinya tersebut, sehingga empati kita baik itu berupa tawaran bantuan atau sekedar bertanya masalahnya, dapat membantu mengurangi ekspresinya melalui kata-kata yang kurang pantas tersebut. Selain itu perlu dibiasakan ketika orang tua sedang kesal atau dalam kondisi marah, sikap dan perkataan orang tua sebaiknya bisa lebih terjaga. Hal ini agar anak bisa belajar bagaimana cara mengekspresikan emosi ketika dalam kondisi yang sama.
  4. Mengajak diskusi anak mengenai kata-kata yang sering ia lontarkan dan buat perbedaan dengan kata-kata yang baik, kemudian biarkan anak menilainya sendiri.
  5. Berikan contoh kata-kata yang halus, sopan dan baik serta membiasakan kalimat thayyibah

sehingga anak dapat terbiasa mendengar dan merasakannya. Seperti kata-kata “Subhaanallah, bagus sekali pemandangan di desa ini”, “Alhamdulillah, kita bisa bertemu bulan puasa kembali”, “Astaghfirullah, mengapa adik membuang mainan itu?”, “Jazaakumullah, terima kasih, adik telah membantu merapikan mainan”, “Maaf, melihat tv-nya nanti setelah belajar ya”, dan seterusnya.

  1. Selektif dalam memilih program televisi dan lagu-lagu, serta membimbing dan mendampingi anak ketika melihat televisi agar agar anak dapat menyeleksi dan terhindar dari kata-kata yang kasar dan jorok.
  2. Menjelaskan pada anak bahwa lisan (mulut) adalah karunia Allah yang amat besar. Dengan lisan kita bisa merasakan dan menikmati berbagai makanan dan minuman, bisa mencontohkan kebaikan pada orang lain serta berbicara. Namun dari lisan pun bisa timbul pertengkaran dan permusuhan, karena perkataan buruk yang keluar darinya. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita hendaknya mencontoh Rasulullah dalam menjaga lisan, diantaranya sabda beliau yang artinya: “Seorang mukmin (yang baik) bukanlah orang yang suka mencela, suka mengutuk (menyumpah), suka berbuat keji dan kotor.” (H. At-Tirmidzi)

Di samping itu, kita jelaskan pada mereka bahwa ada malaikat yang khusus diberi tugas mencatat setiap ucapan yang keluar dari mulut kita, yaitu malaikat Raqib ‘Atid sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam Q.S. Qaf: 11

  1. Jika anak terlanjur mengucapkannya, maka pilih dan gantikan kata-kata buruk tersebut dengan ungkapan lain yang lebih halus dan sopan. Kemudian minta anak untuk membaca istighfar, sebagai wujud permintaan maaf kepada Allah (karena telah berkata buruk), serta meminta anak untuk tidak mengulangi kembali perkataan buruk tersebut.
  2. Memberi penghargaan saat anak berkata dengan perkataan yang baik dan sopan, dan sebaliknya memberi sanksi jika anak masih sering melakukannya padahal sudah berkali-kali diingatkan.
  3. Meningkatkan komunikasi dan kerjasama antara keluarga dan pihak sekolah, agar dapat mengontrol jenis perkataan yang berkembang di lingkungan sekolah maupun rumah.

 

Semoga segala upaya yang kita lakukan tersebut dapat menjadi imunitas bagi anak kita dalam memilih dan memilah yang baik dan buruk, sehingga mereka menjadi orang yang dapat menjaga lisannya dari perkataan buruk. Dan dengan lisannya, bisa mengantarkan diri mereka, orang tua mereka serta orang lain ke surga, lantaran do’a-do’a yang mereka panjatkan, tutur kata mereka yang santun yang tidak lepas dari mengingat Allah serta mengajak ber’amar ma’ruf nahi munkar.

 

Wallaahu a’lam.

Referensi

  1. Miftahul Jinan dan Choirus Syafruddin, Alhamdulillah Anakku Nakal. Filla Press, Cetakan II, Juni 2010, hal 157-166
  2. Seri Ayah Bunda, Problematika Anak Sehari-hari. Gramedia, Cetakan II, 1997, hal. 86
  3. Asep Hikmatillah dan Ahmad Zakky, Akhlak Anak: Tuntunan Lengkap Anak dalam berakhlaq. Penerbit Dzikrul Hakim, Jakarta, hal 100.

 

Oleh : Ulinnuha, S.Psi.