Bisik-Bisik Sedekah

Bisik-Bisik Sedekah

Oleh: K.H. Muhammad Ihya Ulumiddin

doc. doamustajab.com

doc. doamustajab.com

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِى كَثِيْرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوْفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْمًا

“Tidak ada kebaikan apapun dalam bisik-bisik mereka kecuali (bisikan) dari orang yang menyerukan bersedekah, atau berbuat baik, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami (Allah) akan memberinya pahala yang besar.” Q.S. An-Nisa’: 114.

Analisa Ayat

Hal yang mesti diingat kembali bahwa sedekah, seperti halnya shalat, adalah termasuk salah satu dari pilar-pilar agama, karena sedekah juga bagian dari zakat dengan keluasan maknanya. Oleh karena itulah, sedekah harus secara intens disuarakan karena sebagaimana dimengerti bahwa untuk bisa bersedekah secara baik seseorang harus menyingkirkan 70 setan.

Ayat di atas memberikan penegasan bahwa sebuah forum pertemuan, diskusi atau apapun, berapapun yang hadir sama sekali tidak memiliki nilai kebaikan di sisi Allah kecuali di dalamnya ada seruan, ada saling mengingatkan dan mendorong salah satu tiga hal, yaitu:

  1. Seruan sedekah dengan pemahamannya yang luas sehingga Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

[اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ التَّمْرَةِ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ]

“Jagalah dirimu dari neraka meski hanya dengan secuil kurma; bila kalian tidak menemukannya (tidak memilikinya), maka dengan ucapan yang baik.” (H.R. Ahmad, al-Bukhari, Muslim)[1]

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam begitu mengasihi dan menyayangi umatnya. Beliau sangat berharap mereka mendapatkan keberuntungan serta terlindungi dari hal yang membahayakan. (Jika demikian), bagaimana (bisa) beliau tidak menunjukkan mereka kepada hal yang menjadi perlindungan dari neraka? Maka, beliau pun menjelaskan, sesungguhnya sedekah adalah perlindungan dari neraka, dalam arti bahwa barang siapa yang mendermakan harta demi mencari ridha Allah Subhanahu Wata’ala, niscaya apa yang telah ia dermakan menjadi pagar kuat dan penghalang kokoh yang bisa melindunginya dari nyala api neraka. Sedikit harta dari seorang yang memang tidak mampu selain itu, apabila dia memberikannya dengan jiwa yang rela dan keikhlasan hati, adalah besar di sisi Allah. Maka, Dia pun terus mengembangkan sebuah kurma kecil, bahkan secuilnya, sehingga menjadi seperti gunung menjulang tinggi, memiliki pengaruh besar dan pahalanya berlimpah. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham. Seseorang memiliki dua dirham. Ia mengambil satu dirham dan lalu menyedekahkannya. Dan seorang (lain) memiliki banyak harta. Lalu ia mengambil dari kekayaannya seratus ribu lalu menyedekahkannya.” (H.R. an-Nasai)[2].

Jadi sedekah tidak bisa dianggap sedikit meski berupa secuil kurma atau sepotong roti karena sangat mungkin bisa memenuhi kebutuhan orang yang lapar atau bahkan menyelamatkan seorang yang telah berada dekat dalam bahaya (kematian karena lapar).

Seruan-seruan sedekah harus disuarakan di mana saja menjadi semakin penting ketika sedekah pada dewasa ini menjadi termasuk pilar-pilar dakwah Islam sebagaimana kita menyaksikan tradisi dan budaya sedekah (berderma) di kalangan musuh-musuh Islam demi memerangi Islam. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

[إِذَا كَانَ فِى آخِرِ الزَّمَان لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيْهَا مِنَ الدَّرَاهِيْمِ وَالدَّنَانِيْرِ يُقِيْمُ الرَّجُلُ بِهَا دِيْنَهُ وَدُنْيَاهُ]

Kelak ketika di akhir zaman, keharusan bagi manusia memiliki dirham-dirham dan dinar-dinar yang (dibutuhkan) seseorang untuk menegakkan agama dan dunianya.” (H.R. ath-Thabarani)[3]

  1. Seruan memberikan kebaikan

Betapa indah perumpamaan Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam terkait saling terikatnya kaum muslimin antara satu dengan yang lain dalam sabda beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mengasihi, menyayangi, dan berbelas kasih sesama mereka adalah seperti tubuh yang ketika ada satu anggota darinya sakit, maka karenanya seluruh tubuh saling mengundang (memberitahukan) dengan tidak bisa tidur dan panas.” (H.R. Ahmad-Muslim)[4]

Taraahum, tawaadud, dan ta’aathuf semuanya dalam bab tafaa’ul yang menuntut peran serta semua orang (jamaah) dalam asal pekerjaan. Kalimat-kalimat ini meski berdekatan dalam makna, di antara semuanya ada sedikit perbedaan. Taraahum adalah kasih sayang sebagian mereka kepada sebagian lain dengan dasar persaudaraan keimanan, bukan karena sebab lain. Tawaadud adalah saling menyambung yang bisa menjadi penarik kecintaan sebagaimana saling mengunjungi dan saling memberi hadiah. Dan Ta’aathuf adalah pertolongan sebagian mereka kepada sebagian lain seperti halnya baju dilipat di atas baju yang lain untuk memperkuatnya.

Dalam tiga hal ini Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan dengan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit sehingga tidak akan bisa tidur dan panas pun menjalar. Maka begitulah orang-orang beriman sebenarnya yang jika salah satu dari mereka terkena musibah, maka seluruhnya ikut merasakan deritanya sehingga lalu dengan modal kasih sayang yang telah ada, mereka berusaha maksimal menolak derita itu darinya serta mendatangkan kebaikan kepadanya. Dan ketika salah satu dari mereka mendapatkan kebaikan, maka seakan kebaikan itu didapatkan oleh semuanya.

  1. Seruan mendamaikan perseteruan

Sungguh ciri paling kelihatan bagi seorang muslim adalah rasa cintanya kepada saudara-saudaranya dengan kecintaan yang tinggi fillah, bersih dari segala manfaat dan kepentingan apapun. Sesungguhnya itu adalah kecintaan karena persaudaraan yang jujur yang diikat oleh satu ikatan, sehingga mereka saling terikat dengan saudaranya, apapun jenis, warna kulit dan bahasanya. Itulah ikatan keimanan “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah bersaudara.”

Persaudaraan iman adalah ikatan jiwa yang paling kuat, tali hati yang paling kokoh dan penghubung akal dan roh yang paling mulia. Oleh karena itulah, termasuk hal yang wajib dalam rangka peduli dengan urusan kaum muslimin, adalah berusaha maksimal menciptakan perdamaain di antara mereka ketika mereka sedang terlibat dalam perseteruan. Nash-nash tentang kewajiban hal ini cukuplah banyak sehingga lembaran-lembaran ini tidak bisa memuatnya. Di antaranya adalah firman Allah:

[إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ]

Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”[5]

Begitu penting langkah mendamaikan perseteruan sehingga Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam memperbolehkan kata-kata yang sengaja dirangkai indah meski berlebihan untuk mempengaruhi jiwa-jiwa yang meradang dan melunakkan hati-hati yang membatu dan beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam tidak menilai kata-kata ini sebagai sebuah kebohohan yang diharamkan dan tidak pula menilai orang-orang yang mengucapkannya sebagai para pembohong yang berbuat dosa. Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

[لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيُنْمِيْ خَيْرًا أَوْ يَقُوْلُ خَيْرًا]

Bukanlah seorang pembohong, orang yang membuat perdamaian di antara manusia, lalu ia menyampaikan berita kebaikan atau mengucapkan kebaikan.” (H.R. al-Bukhari, Muslim dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ith ).

Wallahu yatawal jami’a liri’ayatihi

[]

[1]Al-Jami’ ash-Shaghir, no: 144

[2]Al Jami’ as Shaghir no 4650

[3]Al Jami’ as Shaghir no 812

[4]Al Jami’ as Shaghir no 8155

[5]Q.S. al-Hujurat: 10