Brigjen Abdul Manan Wijaya Mujahid Kelahiran Pujon

Oleh: M. Muhim Kamaluddin

abdul mananBagi pembaca yang asli Malang, khususnya warga Pujon, atau para alumni PP. Nurul Haromain Pujon, pasti tidak asing dengan nama tersebut. Ya, nama Brigjen Abdul Manan diabadikan sebagai nama jalan sepanjang jalan provinsi yang membentang dan membelah daerah Pujon, termasuk PP. Nurul Haromain yang beralamatkan nama jalan mujahid ini.

Abdul Manan Wijaya adalah sosok santri pejuang yang turut memperjuangkan kemerdekaan NKRI dari cengkeraman asing. Abdul Manan dilahirkan di desa Ngroto, Pujon, Malang pada tahun 1910 M.Ayahnya yang bekerja sebagai mandor jalan memberinya nama Rumpoko sebagai nama asli. Ketika beranjak remaja, ayahnya mengirim Abdul Manan ke pesantren Tebuireng, Jombang, dibawah asuhan Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari untuk menimba ilmu agama.

Ketika kesatuan PETA dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang, Abdul Manan langsung bergabung ke kesatuan militer tersebut. Cukup dimaklumi banyak sekali kaum santri khususnya alumni pesantren Tebuireng yang bergabung dengan PETA mengingat terbentuknya PETA tak lepas dari diplomasi cerdik dari K.H. Abdul Wahid Hasyim dalam memenuhi tuntutan Jepang. Dikisahkan Jepang hendak merekrut pemuda pribumi untuk membantu tentara Jepang dalam menghadapi tentara sekutu di pertempuran di laut Pasifik, dengan dalih Indonesia sebagai saudara tua dan Jepang berjasa membebaskan Indonesia dari jajahan Belanda.

Jepang berkonsultasi dengan K.H. Wahid Hasyim sebagai salah satu tokoh nasional.Dengan halus K.H. Wahid Hasyim berargumen, mengirim pemuda pribumi ke pertempuran laut Pasifik justru akan membebani Jepang, karena mereka belum mahir memainkan senjata dan diperlukan waktu untuk berlatih. Akan tetapi, tetap dibutuhkan sebuah kesatuan militer pemuda-pemuda Indonesia untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan sekutu, sebagai musuh bersama.Lagipula Jepang menjadikan Jawa sebagai basis kekuatan mereka.

Maka atas usulan K.H. Wahid Hasyim dibentuklah Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih secara militer dengan tujuan utama membantu tentara Jepang apabila pulau Jawa mendapat serangan dari sekutu.

Maka, kemudian tidaklah heran apabila tentara PETA didominasi oleh kaum santri.Salah satunya adalah kera ngalamAbdul Manan Wijaya.Meski aktif di militer, sebagai alumni Ponpes Tebuireng, Abdul Manan terbina sebagai santri kader NU.Hal ini terlihat dari kebiasaannya yang selalu berlangganan Suara NU dan Suara Ansor.

Pertempuran Ngroto 1949

Malang adalah daerah yang dikembangkan oleh Belanda, pada tahun 1948 mempunyai pemerintahan Federal,sehinggaWalikota Malang yang saatitudijabatoleh R. SoehariHadinotodisebutWalikota Federal. Posisi Belanda di kota Malang dan Batu pada waktu itu masih cukup kuat.Hal itu masih bisa terlihat dari beberapa markas militer dan kegiatan zending protestan masih dikuasai dan dilindungi oleh Belanda.

Meskipun Indonesia sudah merdeka, beberapa markas militer di daerah Malang masih dikuasai oleh Belanda. Perlawanan kecil-kecilan dari gerilyawan republik sesekali terjadi. Namun secara umum, kondisi sosial masyarakat Malang cenderung kondusif, tanpa gejolak yang berarti.

Tahun 1948, ketika Belanda berupaya menjajah kembali melalui Serangan Agresi Militer Kedua yang berkode Operatie Kraai atau Operasi Gagak, hampir seluruh wilayah Indonesia terlibat pertempuran mengusir Belanda. Termasuk kota Malang yang sebelumnya adem-ayem. Salah satunya adalah pertempuran Ngroto tahun 1948.

Desa Ngroto terletak di Pujon Timur. Desa yang memiliki tiga Dusun itu dibelah oleh jalan Provinsi Malang-Kediri. Di daerah tersebut ada markas militer Belanda yang mendapatkan serangan dari pejuang Indonesia.

Cerita itu berawal dari Desa Madiredo, dimana ada petani yang akan pergi kesawah ditembaki oleh Belanda. Alasannya adalah ketika itu para petani tersebut membawa bambu panjang yang dianggap seperti bambu runcing milik pejuang. Tanpa ampun, Belanda menghujani mereka dengan desingan peluru hingga roboh dan tewas seketika. Peristiwa ini memancing reaksi yang cukup keras dari para pejuang Pujon. Beberapa komandan kompi dan kordinator laskar lantas saling bertemu untuk membahas serangan balasan terhadap tentara Belanda.

Pertemuan awal menghasilkan kesepakatan untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap markas Belanda di desa Ngroto. Selanjutnya Januari 1949 Abdul Manan yang waktu itu berpangkat mayor, kembali melakukan konsolidasi bersama Mayor Soenandar dan Letnan Soemadi untuk persiapan serangan umum ke markas Belanda di desa tempat kelahirannya tersebut.

Akhirnya pasukan batalyon II dan kompi Macan Putih dibawah komando Letnan Soemadi melakukan serangan secara frontal kemarkas Belanda pada malam hari. Pasukan Belanda yang takmenyangka akan adanya serangan secara besar-besaran dari pejuang, terdesak dan hanya bisa bertahan. Baku tembak antara pasukan republik dan tentara Belanda terjadi 12 jam mulai pukul18.00 sore sampai 06.00 pagi.

Ketika pasukan Belanda makin terdesak dan markas mereka hampir hancur, datang bala bantuan dari pasukan Belanda yang berkedudukan di daerah Batu. Serdadu dengan persenjataan lengkap, kendaraan lapis baja serta pesawat terbang berhasil memukul mundur pasukan yang dipimpin Letnan Soemadi. Belanda dapat kembali menduduki markas di Ngroto,namun kondisi bangunan yang digunakan sebagai markas tersebut sudah mengalami kehancuran yang parah. Setelah terpukul mundur, pasukan republik kembali ke daerah gerilya.

Menurut saksi sejarah, saat itu banyak jatuh korban dari pihak Belanda.Mayat pasukan Belanda yang tewas diangkut dengan truk dan dibawa ke arah timur (Batu).Sedangkan dari pihak pejuang, jumlah korban yang teridentifikasi sebanyak 2 orang, yaitu prajurit Koesnan dan Sersan Moedasik.

Selain ahli strategi tempur, Abdul Manan juga seorang negosiator handal. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Abdul Manan menghindarkan pasukan batalyon II yang ia pimpin dari sanksi Komisi Tiga Negara (KTN) atas insiden penyerangan markas Belanda di Ngroto tersebut. KTN adalah sebuah komisi yang beranggotakan tiga negara yang bertindak sebagai penengah atas konflik Indonesia-Belanda. Ketiga negara tersebut adalah Australia, Belgia, dan AS.

Selepas perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Abdul Manan masih tetap aktif sebagai militer dan pensiun sebagai TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jendral. Abdul Manan meski aktif sebagai militer, ia juga masih aktif mengamati perkembangan NU dan turut menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng pada tahun 1967.

Abdul Manan Wijaya dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu. Atas permintaannya sendiri, ia tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Wallahu a’lam bisshowaab