Buku Kecil Berhulu Nuklir

AHMAD SYARIFUDDIN

Penulis adalah Pembina Al-Ghazali Islamic Study Club Surakarta

 

Buku Kecil Berhulu Nuklir

www.ngaji.web.id

Kita saksikan di dunia muslim ada buku-buku kecil, tapi berhulu nuklir. Kitab-kitab itu kecil bentuknya, sedikit isinya, praktis dan ringkas, namun banyak memberikan manfaat, dibutuhkan, diterima, dan dihargai. Buku-buku tersebut diterbitkan, dicari, dibeli, dibaca, diterjemahkan, diulas, dan digemari dari generasi ke generasi. Entah sudah berapa milyar umat manusia, generasi muslim khususnya, yang tercerahkan, terinspirasi, dan terarahkan oleh buku-buku itu. Berapa juta juga rumah tangga yang mengoleksinya. Ibarat nuklir. Dahsyat. Alangkah bahagianya sang penulis buku-buku semacam ini.

Di antara buku kecil yang berhulu nuklir itu adalah kitab Taqrib (Al-Ghayah wa At-Taqrib) karya Abu Syuja’ Al-Isfahani. Kitab yang berisi dasar-dasar Fiqh madzhab asy-Syafi’i ini dipelajari di berbagai pesantren dan madrasah di Nusantara dan di belahan dunia muslim lain. Ia bahkan menjadi kurikulum wajib. Para santri pemula belajar dari kitab ini dasar-dasar amaliah Islam. Pelajaran pertama dan utama ini lalu mereka serap dan mereka genggam hingga akhir hayat, selain ditularkan pada sanak keluarga dan murid-muridnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya Imam Abu Syuja’ ini, banyak ulama terkemuka memberikan syarah (komentar) atas karya ini. Ibnu Qasim Al-Ghazzi mensyarahnya menjadi Fathul Qarib Al-Mujib. Fathul Qarib, sebagaimana Taqrib, juga amat terkenal dan diterima dunia Islam. Syarah Taqrib lainnya adalah Kifayatul Akhyar karya Ad-Dimasyqi dan Iqna karya Asy-Syarbini. Dua kitab ini juga populer (banyak dikaji di berbagai tempat). Iqna disyarah lagi oleh Al-Bujairimi dalam satu kitab berjudul Tuhfatul Habib. Sementara Fathul Qarib Al-Mujib, juga disyarah oleh Al-Bajuri. Syeikh Nawawi Al-Bantani, ulama terkemuka Makkah asal Banten, juga menulis At-Tausyih sebagai ulasan terhadap karya Ibnu Qasim Al-Ghazzi tersebut. Subhanallah.

Selain itu, kita juga banyak mendapati buku-buku terjemah Kitab Taqrib. Ada terjemah bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Jawa/Pego, bahasa Madura, dan sebagainya. Dari kitab kecil Taqrib, muncul berbagai kitab-kitab ulasan dan terjemahnya. Entah berapa juta generasi muslim yang tercerahkan dari kitab karya Abu Syuja’ ini.

Seorang ulama menggubah bait-bait syair, memuji Abu Syuja’ dan buah karyanya ini,

 

“Wahai yang menghendaki faedah yang berkesinambungan

demi peroleh keluhuran dan kemanfaatan

Dekatilah ilmu-ilmu itu

Jadilah kau pemberani

dengan Taqribnya (pendekatan) Imam Abu Syuja’ (Bapak Para Pemberani).”

 

Selain Taqrib, cukup banyak lagi karya-karya kecil yang daya ledaknya bak nuklir, seperti Al-Burdah karya Al-Bushiri, Sullamut Taufiq karangan Sayyid Abdullah Ba Alawi, Fathul Muin karya Al-Malibari, Safinatun Najah karya Syeikh Salim bin Sumair Al-Hadrami, Bidayatul Hidayah karya Al-Ghazali, Ta’limul Muta’allim karya Al-Zarnuji, Aqidatul Awam gubahan Syeikh Ahmad Al-Marzuqi (disyarah oleh murabbi kita; K.H. M. Ihya’ Ulumuddin menjadi Jalaul Afhaam fi Syarah Aqidatul Awam), Al-Arbain An-Nawawiyah (kitab kumpulan berisi 42 hadits pokok ajaran Islam) karya Imam Nawawi, Al-Ajurumiyah (dalam bidang Nahwu) karya Ibnu Ajurum, Al-Kalim Ath-Thayyib karya Ibnu Taimiyah, Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim, An-Nashaihud Diniyah karya Imam Al-Haddad, Nashaihul Ibad, Ratibul Haddad, Ratibul Aththas, Antologi Syair Imam Syafii (Diwan Al-Imam Asy-Syafii), dan banyak lagi lainnya.

Buku Qaidah Baghdadiyah (Turutan), yakni buku tentang tata-cara praktis belajar membaca Al-Qur’an, termasuk juga buku kecil yang berhulu nuklir. Begitu pun kitab Dalailul Khairat karya Syeikh Sulaiman Al-Jazuli dan kitab Maulid Simtud Durar (untaian pujian kelahiran Sang Nabi) bersampul hijau karangan Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi,

Dari dalam negeri, banyak juga kitab-kitab kecil berhulu nuklir, seperti buku Tuntunan Shalat Lengkap dari penerbit Karya Toha Putra Semarang yang telah mengalami cetak ulang hingga 400 kali. Metode Cepat Baca Al-Qur’an Metode Iqra’ karya K.H. As’ad Humam (AMM Yogyakarta) termasuk juga kitab kecil berhulu nuklir, selain Metode Qiraati karya K.H. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang. Buku Kisah 25 Nabi dan Rasul karangan Zaid Husein Alhamid dan terjemah Juz Amma serta buku Tajwid Praktis karya K.H. Bashori Alwi dari Singosari termasuk juga kitab kecil berhulu nuklir. Manfaat dan diberkahi. Sudah beberapa dasawarsa, tapi banyak orang masih mencarinya. Termasuk pula buku Karakteristik Peri Hidup 60 Sahabat Rasul (terjemahan) karya Khalid Muhammad Khalid dari Penerbit Diponegoro Bandung, Fiqih Islam karya H. Sulaiman Rasyid, buku kisah Wali Songo dari Penerbit Menara Kudus, bukunya Hamka, Kamus Arab-Indonesia karya H. Mahmud Yunus, Guruku Orang-orang dari Pesantren karya K.H. Saifuddin Zuhri, Mukjizat Al-Qur’an karya Prof. Dr. Quraish Shihab, dan 40 Masalah Agama karya penulis dari Pulau Sumatera, yaitu K.H. Sirajuddin Abbas.

Kitab An-Nur Al-Burhani karya K.H. Muslih Mranggen Demak, terjemah dari kitab Al-Lujain Ad-Dani (tentang Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani), juga termasuk berkah dan laris. Begitu pun kitab Al-Amtsilah Al-Tashrifiyah (di bidang ilmu shorof) karya K.H. Ma’shum Ali dari Jombang (kelahiran Gresik). Kitab kecil, berisi Yasin, Tahlil, dan beberapa surat Al-Qur’an pilihan serta doa-doa keseharian, yang dikenal bernama Majmu’ Syarif, juga laris-manis dan banyak dikoleksi dari dahulu hingga kini, meski tidak diketahui siapa penyusunnya. Kitab berisi kumpulan Maulid Nabawi (Maulid Ad-Dibai, Al-Barzanji, Syaraful Anam, Al-Burdah, Shalawat Badar, dll.) termasuk juga buku laris dan banyak dikoleksi tiap rumah tangga muslim.

Di bidang tafsir Al-Qur’an tingkat awal, kitab tafsir karya Syeikh Nawawi Al-Bantani, berjudul Marah Labid, lalu Tafsir Al-Jalalain karya Al-Mahalli dan As-Suyuthi, dan kemudian kitab tafsir berbahasa Jawa Pegon Al-Ibris karya K.H. Bisri Musthafa, merupakan buku-buku tafsir pemula yang digemari dan laris.

Demikianlah ada banyak buku-buku kecil, tapi manfaat dan faedahnya besar. Alangkah berbahagia orang-orang yang menulis dan menerbitkannya dengan ikhlas. Mereka sudah meninggal lama, tapi karyanya masih hidup nan abadi. Sebuah amal jariyah yang luar biasa agungnya. Kiranya tinta mereka menjadikan derajat mereka unggul dan mulia sebagaimana derajat keunggulan dan kemuliaan para syuhada’ di surga dengan darahnya. Buku-buku yang berkah juga memberikan royalti yang melimpah hingga sampai pada anak cucu. Ibarat pepatah orangnya sudah mati, tapi masih bisa menghidupi. Akan tetapi, di balik itu celakalah oknum-oknum yang melakukan pembajakan terhadap buku-buku tersebut.

Adapun jika kita tidak menulis buku, kita bisa menulis dalam bentuk lain, yaitu menulis (membina dan mencetak) generasi seperti para ustadz dan para guru atau menulis (mengukir) karya yang bisa dinikmati banyak orang dan abadi, misalnya menemukan obat mujarab atas suatu penyakit, menemukan teknologi persenjataan untuk jihad, menanam pohon, membangun jembatan,  membikin sumur, membangun pesantren, mewakafkan tanah untuk kemaslahatan umum, dan sebagainya. “Ya Allah, masukkan kami dan anak-cucu kami dalam golongan mereka. Aamin.”

Wallahu a’lamu bish shawab.