Bumi Awliya Hadramaut Yaman (Bagian 1)

Oleh: Zein bin Abdullah Ba’abud

Ini adalah pertama kalinya kami menginjakkan kaki di bumi leluhur kami, Hadramaut Yaman, setelah bertahun-tahun tertunda karena kondisi negara Yaman yang dirundung konflik dan perang sehingga bandara-bandara masih ditutup dan tidak ada penerbanganke Yaman.

Namun kali ini tekad kami sudah bulat untuk sampai ke Hadramaut.Kami memilih masuk ke Yaman melalui jalur darat melewati perbatasan antara Yaman dengan Oman di sebuah daerah yang bernama Mazyunah.

Oman adalah negara makmur aman dan maju.Ketika keluar dari perbatasan Oman, suasana terlihat berubah padang pasir yang terhampar luas di kanan kiri, diapit pagarkawat berduri yang tinggi.Suasananya mengingatkan kami pada perbatasan antara Israel dan Palestina yang biasa kita saksikan di televisi.

Sampailah mobil yang kita sewa di gerbang negara Yaman.Terlihat pagar besar kusam, dengan lambang negara Yaman,dibuka, dan mobil kami masuk. Suasananya mencekam. Bagaimana tidak? Orang-orang berpakaian sipil berlalu lalang dengan membawa senjata laras panjang dan ada puluhan mobil bersenjata besar berlalu lalang di kawasan ini. Kami turun dari mobil dan mencari kantor imigrasi untuk menyelesaikan administrasi keimigrasian untuk memasuki wilayah Yaman. Kantor pun tutup dan kami harus mengetuknya. Ini adalah pengalaman teraneh bagi kami dalam memasuki sebuah negara.

Suasana di Manfadz (pintu masuk) negara Yaman ini jujur saja membuat kami tidak nyaman dan merasa takut. Belum apa-apa suasana sudah mencekam dan sangatberbeda dengan Oman. Panas gersang dan semua orang membawaAK-47. Puluhananak kecil berkulit hitam keturunan Afrika mengejar kami dan menarik-narik pakaian kami untuk meminta uang. Nampak di wajah mereka raut kemiskinan yang sangat memprihatinkan.Ternyata mereka adalah warga perkampungan yang tak jauh dari pintu masuk ini. Sebuah perkampungan kumuh yang dihuni oleh orang-orang keturunan Afrika.

Namun jangan salah. Tempat ini bukanlah tujuan kami dan tanah leluhur kami. Tujuankami adalahkota Tarim, sebuah kota kecil penuh keamanan,keajaiban, dan ketenteraman, serta pusat ilmu dan ulamadi provinsi Hadramautyang masih berjarak lebih kurang 900 km dari tempat ini.

Perjalanan menuju kota Tarim pun dimulai. Ayyub, seorang yang menjemput kami di perbatasan, siap membawa kami ke Tarim. Sementara ini Yaman tidak memiliki pemerintah yang sah sehingga kebanyakan kendaraan berjalan tanpa ada plat nomor, termasuk mobil Ayyub yang kita gunakan.

Kami menyusuri panjangnya perjalanan menuju Tarim dalam keadaan berpuasa di bulan Ramadhan. Sepanjang mata memandang hanya terlihat luasnya padang pasir yang seakan takberujung. Sesekali terlihat beberapa unta berlalu-lalang, namun dalam beberapa jam berjalan tidak satupun rumah atau perkampungan atau manusia yang kita jumpai.

Sampailah terlihat ada beberapa rumah ditengah padang pasir yang luas. Bukan sebuah kota ataupun perkampungan, namun hanya ada beberapa buah rumah orang orang Baduiyang menjadi pemeras susu onta di tengah padang pasir.

Kami memutuskan berhenti dan berbuka puasa disinidengan perbekalan makanan dan minuman yang sudah kami beli di Oman.

Sesuatu yang mengejutkan adalah ketika kami turun dari mobil dengan membawa makanan,tiba-tiba seorang dari beberapa buah rumah yang ada itu mendatangi kami dan mengatakan atau meminta kami untuk mengembalikan semua makanan kami kedalam mobil. Bahkansatu botol air mineral pun tidak diperbolehkankami bawa.

Awalnya kami tidak tahu apa tujuannya.Tapi ternyata subhanallah, mereka sangat luar biasa dan menganggap kami tamu yang akan dijamu oleh mereka untuk berbuka puasa.Kami sangat terharu dan tersentuh dengan keadaan mereka yang sangat sederhana dan memprihatinkan, namun mereka berusaha menjamu di halaman rumah mereka.Kami pun berbuka puasa bersama.Sungguh, walau makanan yang disajikan sangat sederhana dan asing bagi kami,tetapi terasa sangat nikmat, lebih-lebih kami diberi susu onta segar yang langsung diperas dan langsung minum.

***

Setelah menempuh perjananan yang panjang, akhirnya sampai juga kami di lembah Hadramaut, tanah yang dulu di huni oleh Nabi Hud u.Kami langsung menuju kota Tarim. Sungguh sangat berbeda dengan suasana perkampungan Badui yang kami singgahi diperjalanan tadi. Suasana Tarim sangat tenang, tenteram, dan cukup maju dan lengkap.Segala sesuatu tersedia di Tarim.

Tarim menurut kami adalah salah satu kota paling istimewa di dunia saat ini. Tidak banyak dizaman ini kota seperti Tarim yang masih terjaga dari huru-hara akhir zaman.

Tarim adalah gudang ilmu agama dan sebuah kota kecil yang dihuni oleh puluhan ribu keturunan Rasulullah r. Bahkan berasal dari tempat inilah para saadah (sebutan kaum keturunan Rasulullah) yang datang menyebarkanIslam ke Nusantara,termasuk mayoritas dari Wali Songo.

***

Padazaman kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar As-shiddiq t, beliau menemui Ziyad bin Lubayd Al-Anshary, amil Rasulullah r di Yaman.Beliau memerintahkan kepada Ziyad agar mengambil baiat penduduk Hadhramaut.Hal tersebut disambut gembira oleh penduduk Tarim.Sedangkan penduduk disekelilingnya dari beberapa qabilah ada yang menolak, sehingga mereka dianggap melakukan makar, yang kemudian dikenakan sanksi yang keras.Ketika baiat penduduk Tarim yang mengikrarkan kesetiaan mereka kepada Khalifah Rasul Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq t disampaikan kepada beliau, Sayyidina Abu Bakar tmendoakan penduduk Tarim dengan tiga do’a, yaitu:
1. Dibanyakkan oleh Allah orang-orang shalih di Tarim,

  1. Agar Tarim diberkahi oleh Allah.
  2. Tidak dipadamkan api agama Allah di Tarim sampai hari Kiamat.

Subhanallah, sangat nyata ketiga doa sayyidina Abubakar ini dikabulkan oleh Allah bila kita melihat keadaan kota Tarim saat ini. Oleh karena itulah, Tarim juga dijuluki dengan “Balad Abu Bakar Ash-Shiddiq” (Negerinya Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq).

[]

(bersambung)