Cinta Tanah Air

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

Aminul A’m Persyadha Al Haromain

Pengasuh Ma’had Nurul Haromain

Pujon – Malang

Q.S. Hud:06

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا, كُلٌّ فِى كِتَابٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah–lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh).”

Di antara hal yang ditunjukkan oleh ayat ini kepada kita adalah bahwa tanah air semua makhluk adalah tempat berdiamnya (menetapnya). Seringkali kita menyaksikan seekor burung yang merasa cemburu atas sarangnya (bila diganggu) atau biawak atas lubangnya. Oleh karena itu jangan sampai manusia lebih minim perasaannya daripada hewan (tersebut).Demi tanah air, sesungguhnya Allah memperbolehkan (seseorang) mengalirkan darah (orang lain yang mengganggu) dalam usaha mempertahankannya sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

[أُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوْا وَأَنَّ اللهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ. الَّذِيْنَ أُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُوْلُوْا رَبُّنَا اللهُ…

 

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’.”[1]

 

لَا يَنْهَاكُمْ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَأَخْرَجُوْكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Allah tiada melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari rumah-rumah (negeri) kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai kawan, orang-orang yang memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari rumah-rumah (negeri) kalian, dan memberi bantuan untuk mengusir kalian. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.”[2]

Jadi tanah air (al-wathan) memiliki tafsir lebihdari sekedar unsur tanah (seperti banyak diartikan). Tanah air adalahkumpulan tradisi-tradisi, kebaikan-kebaikan dan sarana-sarana, terutama yang terkait dengan agama. Jadi, tidak ada tanah air bagi seorang yang mendapatkan tekanan (dan tidak bebas menjalankan) agama di tanah airnya sendiri.

Kemudian (perlu dimengerti bahwa) pemerintahan yang berkuasa atas tanah air tersebut, didirikan untuk menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman. Pemerintahan itu laksana garam bagi tanah air. Akan tetapi, seringkali garam ini (justru) merusak makanan. Pemerintahan itu adalah naunganAllah yang meluas hingga ke bumi. Akan tetapi, setan-setan berwajah manusia (justru) seringkali bernaung di bawahnya. Apapun kondisinya, tetap saja segala urusan tidak akan bisa tegak tanpa ada pemerintahan. Bila pemerintahan itu nyawa, maka umat adalah jasadnya. Atau jika pemerintahan itu jasad maka umat adalah nyawanya.

Sukses keduanya secara bersama bisa diraih dalam keseimbangan kekuatan danhak-hak keduanya secara bergantian yang senantiasa dijaga.Kuasa pemerintahan yang melebihi batas mengantarkan pada tindak kesewenang-wenangan.Dan kebebasan umat yang melebihi batas juga berdampak pada banyak kekacauan. Tak ada sukses bagi keduanya. Kesimpulannya, hendaknya masing-masing dari keduanya menjaga diri agar tetap pada posisinya.

Kemudian (perlu pula diketahui bahwa) kepemimpinan adalah karakter dalam diri manusia, dan bahkan banyak dari hewan juga tidak lepas dari karakter ini.Kepemimpinanitu tidak berbilang. Cukup (menjadi bukti bagi Anda) bahwa sesungguhnya kepemimpinan tidak berbilang, (realitas di mana) sesungguhnya Allah telah menciptakan hanya satu kepala yang ada di antara dua pundak. Banyak orang yang merindukan kepemimpinan (kekuasaan), meski sedikit orang-orang yang mumpuni.

Prinsip kepemimpinan dalam Islam adalah melayani rakyat sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu bangsa adalah pelayan mereka.”(H.R. al-Khathib dari Ibnu Abbas)[3].

Akan tetapi, seringkali direbut dengan paksa dari pemiliknya yang sah hanya karena menuruti ego berkuasa, seperti diisyaratkan oleh firman Allah: “Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa, kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan telinganya serta dibutakan penglihatannya.[4]

 

Setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits, yang artinya: “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai tanggung jawab dari rakyatnya.”[5]Jadi rakyat itu berada dalam tanggungan pemimpinnya, bukan pemimpin berada dalam tanggungan rakyatnya sebagaimana diwasiatkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau:

((أُوْصِي الْخَلِيْفَةَ مِنْ بَعْدِيْ بِتَقْوَي اللهِ وَأُوْصِيْهِ بِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يُعَظِّمَ كَبِيْرَهُمْ وَيَرْحَمَ صَغِيْرَهُمْ وَيُوَقِّرَ عَالِمَهُمْ وَأَنْ لَا يَضْرِبَهُمْ فَيُذِلَّهُمْ وَلَا يُوْحِشَهُمْ فَيُكَفِّرَهُمْ وَأَنْ لَا يُغْلِقَ بَابَهُ دُوْنَهُمْ فَيَأْكُلُ قَوِيُّهُمْ ضَعِيْفَهُمْ))

Aku wasiatkan ketaqwaan kepada para khalifah setelahku. Aku wasiatkan kepadanya jamaah kaum muslimin. 1) agar ia memuliakan orang tua, mengasihiyang muda dan memuliakan orang alim di antara mereka, 2) agar ia tidak memukul mereka sehingga membuat mereka terhina, 3) janganlah ia membuat mereka resah sehingga menjadikan mereka tidak menghargai kebaikannya (prestasinya) dan justru mengungkap keburukannya, 4) dan janganlah ia menutup pintu dari mereka (untuk mengadu) sehingga orang kuat memakan yang orang lemah di antara mereka.” (H.R.al-Baihaqi dari Abu Umamah radhiyallahu anhu)[6]

Berdasarkan ini, maka wajib bagi rakyat patuh kepada pemimpinnya. Kepatuhan ini adalah hal mendasar bagi terwujudnya kesatuan, dan sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah juga oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Wajib untuk terus berkomitmen pada kepatuhan meski apa yang diperintahkan sama sekali tidak menyenangkan hati orang yang diperintah, dan bahkan meski orang yang diperintah tidak menyukainya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Mendengar dan mematuhi adalah hak (yang wajib dipenuhi oleh) seorang muslim; dalam hal yang disukai maupun yang tidak disukainya, selama ia tidak diperintah bermaksiat. Jika diperintah bermaksiat, maka (sama sekali) tidak perlu mendengarkan dan tidak pula menuruti.”(H.R. Ahmad,al-Bukhari, Muslim) dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu.[7]

Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah berkata:

((Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat menyentuh sehingga membuat hati merinding dan mata berderai. Kami lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang berpamitan, maka berikanlah wasiat kepada kami!” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar, dan menurut meski kalian dipimpin oleh seorang sahaya. Dan sesungguhnya barang siapa dari kalian yang hidup (sesudahku) kelak akan menyaksikan banyak perselisihan, maka tetapilah oleh kalian sunnahku dan sunnah para penggantiku yang benar dan mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Waspadailah oleh kalian hal-hal yang diperbaruhi, karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.”)) (H.R. Abu Dawud& at-Tirmidzi)[8].

 

Di sini kita melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan taqwallah bersama kepatuhan kepada pemimpin. Dan hal itu tiada lain, kecuali karena pentingnya kepatuhan.Jika hati menyambut wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ini, maka sesungguhnya kepatuhanakan bisa menjadi salah satu karakter dari sekian karakter seorang mukmin yang terbina sehingga hatinya tidak pernah akan terbersit untuk  membangkang dan melawan perintah, atau diam tidak melaksanakan perintah, meski perintah-perintah itu berlawanan dengan pendapatnya, bahkan meski hatinya tidak bisa menerima perintah itu. (Tentu saja) selama perintah itu bukan berupa hal/perbuatan dosa. Semua hal tersebut demi persatuan, menjaga (aktivitas ber) jamaah yang merupakan perintah Allah serta memantapkan kepemimpinan agar bisa melaksanakan segala urusannya.

Para duta dari Kufah datang kepada Abu Dzarr. Mereka meminta kepadanya supaya mengangkat bendera pembangkangan melawan Khalifah (Utsman). Beliau pun membentak mereka dengan kata-kata yang tajam: “Demi Allah, andaikan Utsman menyalibku di atas kayu tertinggi dan tali terpanjang, niscaya aku mendengar dan menurut.Aku pasti bersabar dan berharap pahala dari Allah serta melihat hal itu sebagai hal yang lebih baik bagiku. Andaikan Utsman mengarakku dari satu ujung dunia ke ujung dunia (lain), niscaya aku mendengar dan menurut, aku pasti bersabar dan berharap pahala dari Allah serta melihat hal itu sebagai hal yang lebih baik bagiku.”

Demikianlah Islam mengajarkan kepada kita agar menegakkan kehidupan bermasyarakat yang adil yang terdiri dari pemerintahan dan rakyat, dengan politik yang bijaksana. Sangat berbeda dengan realitas yang kita saksikan hari ini, berupa kekacauan yang menguasai kehidupan yang jauh dari ajaran-ajaran Islam.

Apapun adanya, meski pemerintahan yang bijaksana merupakan sebuah kewajiban, jika memang di dalam pemerintahan itu terdapat tindakan penyimpangan, maka sungguh dalam hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيُؤَيِّدُ الْإِسْلَامَ بِرِجَالٍ مَا هُمْ مِنْ أَهْلِهِ

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguatkan agama ini dengan seorang figur yang menyimpang agamanya.” (H.R.ath-Thabarani dari Amar bin Nu’man bin Muqarrin)[9].

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguatkan Islam denganorang-orang yang bukan ahli (di bidangnya).”(H.R.ath-Thabarani dari Abdullah bin Amar)[10]

Jika dalam pemerintahan itu terdapat dua bahaya, maka sungguh dikatakan dalam kaidah ushul fiqih: “Apabila dua bahaya berkumpul, maka diperhatikan (dipilih) yang lebih ringan di antaranya.”

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Hajj:39-40

[2]Q.S. al-Mumtahanah:8-9

[3]Lihatal-Jami’ as Shaghir no:4751

[4]Q.S. Muhammad: 22-23

[5]H.R.al-Bukhari no: 2409

[6]Al-Jami’ as-Shaghir no: 2787

[7]Al-Jami’ as-Shaghir no: 4827

[8]RiyadhusShalihin no: 158

[9]Al-Jami’ as-Shaghir no: 1790

[10]Al-Jami’ as-Shaghir no:1789