Cita-cita Si Kaki Satu

Oleh :

Muhammad Ali David

Direktur Pusat Pengembangan SDM CV. Golden Generation Leadership Center

Manajer Divisi Pengembangan dan Penghimpunan LAZIS Al Haromain

images (3)Sebelas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Maret 2005, penulis melihat salah satu reality show di salah satu stasiun televisi yang mengkisahkan seorang ibu yang buta huruf mencari alamat saudaranya. Beliau hanya bermodal tulisan alamat yang tentunya tidak bisa ia ketahui isi tulisan tersebut, sehingga beliau mencari pertolongan kepada siapa saja yang ia temui  untuk mengantarkannya ke alamat yang ada pada tulisan yang dipegangnya. Telah belasan orang ia minta pertolongan, tetapi tidak satupun yang bisa menolongnya. Akhirnya beliau  memutuskan untuk mencari sendiri dengan naik angkot.

Ketika dia naik angkot, secara tidak sengaja dia naik ke jurusan lain. Ketika diingatkan oleh orang lain bahwa alamat yang dituju ternyata salah jurusan, kemudian beliau minta kepada sopir angkot untuk menurunkannya di tempat tersebut. Ketika beliau turun, seorang gadis juga turun. Seorang gadis yang hanya memiliki satu kaki. Si ibu ini pun meminta pertolongan kepada si gadis yang masih memakai seragam sekolah ini. Gadis itu bernama Atik.

“Dik, saya mau tanya. Tahu alamat ini ndak?” tanya si ibu.

Atik menjawab, “Oh, inggih Bu. Tahu.”

“Bisa ngantar, ndak?” harap si Ibu.

“Ngantar panggen mriko, Bu?” kata Atik meyakinkan.

”Soalnya saya ndak bisa membaca, Dik,” jawab si Ibu polos.

 “Oh, inggih monggo,” jawab Atik.

Demikianlah, Atik pun kemudian mengantarkan si Ibu ini sampai pada tempat tujuan.

            Diakhir kisah, Atik menceritakan bahwasanya dia kasihan terhadap ibu tersebut, karena dia teringat dengan Ibunya. Ibunya setiap hari bekerja di tempat orang jadi tukang cuci, padahal ibunya sedang sakit jantung. Kemudian dia menceritakan tentang harapan dan cita-citanya.

Walaupun saya cacat, saya masih punya harapan dan cita – cita, katanya. “Saya cita-citanya ngebahagiain ibu sampai tua, walaupun saya memiliki kaki satu.

***

Begitu luar biasanya Atik yang menghargai ibunya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki harapan dan cita-cita seperti Atik? Menghargai seorang ibu yang telah membawa kita selama 9 bulan dalam kandungannya.

Penulis teringat sebuah hadits yang diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa seorang datang kepada Rasulullah SAW meminta izin untuk pergi berjihad. Rasulullah SAW lalu bertanya kepadanya: ”Apakah orangtuamu masih hidup?” Ia menjawab: “Ya.” Rasulullah SAW kemudian berkata: “Lakukanlah jihad dengan berbuat baik kepada keduanya.”

Hal ini pula yang ditegaskan Rasulullah SAW ketika beliau ditanya oleh sahabat Ibnu Mas’ud ra tentang amal yang paling dicintai di sisi Allah SWT.

Saya bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat tepat pada waktunya.” Saya bertanya: “Kemudian apa lagi?” Rasulullah SAW bersabda, ”Berbuat baik kepada kedua orangtua.” Saya bertanya lagi: “Lalu apa lagi?” Maka Rasulullah SAW bersabda: ”Berjihad di jalan Allah.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.