Da’i Full Power

Da’i Full Power

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

Abuya Sayyid Muhammad Alawi AlMaliki

Q.S. Yusuf: 108

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِيْ أَدْعُوْ إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah: Inilah jalan (dakwahku), aku senantiasa menyeru kepada Allah, dan (sungguh) diriku dan orang yang mengikutiku (benar-benar) berada di atas petunjuk (hujjah yang kuat). Maha Suci Allah, dan tiadalah aku termasuk orang-orang yang menyekutukan.”

Analisa Ayat

Sesungguhnya agama kita adalah agama yang lurus dan jalan terang yang dakwahnya berlandaskan pada dalil serta berdiri di atas hujjah. Karena inilah agama kita menyeru kepada perenungan akan ciptaan Allah di mana segala sesuatu (sekecil apapun) pasti di dalamnya terkandung sekian hikmah, banyak rahasia, dalil-dalil, dan pertanda. (Sebaliknya agama kita) mencela perilaku mengekor begitu saja (taklid buta) yang hanya berdasar pada kemauan hati (wijdan) dan menilainya sebagai tingkat terendah dari hewan. Allah berfirman yang artinya: “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang (setan) yang menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?”[1]

kan tetapi di hadapan semua petunjuk ini (ternyata) manusia di antara beriman dan mengkufuri. Bahkan dalam setiap masa dan tempat, yang kedua (mengkufuri) justru itulah yang lebih banyak sebagaimana difirmankan Allah: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.[2]

Karena itulah, kebenaran ini harus memiliki kekuatan yang bisa selalu meneguhkan dan memberinya pengawalan. Orang-orang beriman wajib mengambil posisi di jalan perjuangan sebagai usaha membela agama dan menjaga aqidah mereka seperti difirmankan Allah:

وَأَعِدُّوْا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ…

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”[3]

Kekuatan yang mesti dimiliki seperti ilmu dan berbagai ragam bekal merupakan senjata kita untuk membela agama sehingga kita bisa menghadapi setiap kondisi dengan hal yang sesuai. Barang siapa meminta hujjah (dalil), maka kita menghadapinya dengan hujjah. Dan barang siapa yang menolak kecuali kekuatan (fisik), maka kita menggunakan kekuatan untuk menghadapinya sebagaimana firman Allah: “…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”[4]“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”[5]

Abuya As-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani dalam bukunya Sabilul Huda war Rasyad hal 79 mengatakan:

Sesungguhnya Islam itu agama yang lapang dadanya, luas hatinya, murah hingga mencapai puncak garis kemurahan, dan mudah sampai mencapai batas terjauh kemudahan. Sesungguhnya Islam tidak suka memantik permasalahan dan tidak pula rela akan munculnya kekacauan di jalan kehidupan yang tenteram sejahtera. Sesungguhnya Islam tidak menyerukan agar api peperangan dikobarkan dan tidak pula rela menyakiti orang non Islam selama mereka berlaku damai.

Demikianlah dan sungguh Allah ta’ala berfirman: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena Agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”[6] sebagaimana Islam telah menjadikan salam sebagai syiar baginya dalam segala situasi dan setiap kesempatan sehingga andai dalam situasi perang sedang berlangsung dan musuh meminta perdamaian, maka dalam pandangan Al-Qur’an tak ada alasan untuk menolaknya karena lebih memenangkan prinsip menciptakan perdamaian. “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[7]

Dan di antara hadits-hadits yang memberikan bimbingan supaya menyiapkan kekuatan demi membela kebenaran adalah:

  1. Sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ :لَوْأَنِّي فَعَلْتُ كَذَا  كَان َكَذَا , وَلكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan dalam masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah atas hal yang bermanfaat bagimu. Dan memohonlah pertolongan kepada Allah. Dan jangan rapuh, jika pun sesuatu menimpamu, maka jangan katakan: “Andai aku melakukan seperti ini, maka akan terjadi seperti ini” tetapi ucapkanlah: “Keputusan Allah, apa yang Dia Kehendaki, maka Dia Melakukannya”, karena sesungguhnya kata andai (lau) membuka peluang bagi setan.)[8]

  1. Sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّي يَرْجِعَ

Barang siapa keluar mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali.[9]

  1. Sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam:

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa-jiwa, dan lisan-lisan kalian.[10]

Bahasa Lisan  memberikan isyarat bahwa sebelum perang di medan laga berkobar, maka terlebih dahulu perang itu terjadi dalam rupa makna-makna di dalam hati, letupan dalam pikiran, ucapan dalam lisan, serta promosi-promosi dalam tulisan. (Demikian seperti dikatakan oleh Abuya).

= والله يتولي الجميع برعايته =

 

[1]Q.S. Muhammad: 14

[2]Q.S. al-An’am: 116

[3]Q.S. al-Anfal: 61

[4]Q.S. an-Nahl: 25

[5]Q.S. al-Baqarah: 190

[6]Q.S. al-Mumtahanah: 8

[7]Q.S. al-Anfaal: 61

[8] H.R. Muslim no: 2664

[9] H.R. at-Turmudzi no: 2785

[10] H.R. Abu Dawud no: 2504