Dari Kan’an Menuju Mesir

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh:

download (20)

KH. M. Ihya Ulumiddin

 ‘Aminul’ Am Persyada Al Haromain dan Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang

Setelah berterus terang dan memberikan maaf, maka Nabi Yusuf as mengatakan kepada saudara-saudaranya:

اذْهَبُوْا بِقَمِيْصِي هَذَا فَأَلْقُوْهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيْرًا وَأْتُوْنِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِيْنَ

 “Pergilah kalian dengan membawa  gamisku ini, lalu letakkanlah ia ke wajah ayahku, maka beliau akan bisa melihat kembali; dan bawalah keluarga kalian semuanya kepadaku”[1]

Disebutkan oleh Imam al Qurthubi bahwa gamis itu bukan gamis sembarangan. Itu adalah gamis yang dipakai oleh Khalilullah Ibrahim as saat berada di tengah kobaran api Namrudz. Oleh Nabi Ibrahim baju itu kemudian diwariskan kepada Nabi Ishaq. Lalu diwariskan kepada Nabi Ya’qub as. Dan kemudian oleh Nabi Ya’qub  dilipat sedemikian rapi menjadi begitu kecil sehingga lalu bisa dimasukkan dalam kotak perak yang kemudian dijadikan kalung di leher Nabi Yusuf as. Hal demikian dilakukan ketika Nabi Ya’qub as khawatir putera kesayangannya ini terkena penyakit ain.

Inisiatif mengirimkan gamis kepada sang ayah yang telah lama berpisah tidak lain adalah berasal dari wahyu Allah melalui malaikat Jibril as. Kepada Nabi Yusuf as Jibril mewahyukan: “Kirimkanlah gamismu karena di dalamnya terdapat bau surga dan sesungguhnya bau surga tidak menerpa orang yang sakit kecuali pasti ia sembuh seketika!”

Yahudza, yang menerima dan membawa baju tersebut berkata: “Aku yang dulu membawa gamismu kepada ayah dengan darah bohong sehingga membuat beliau susah. Dan sekarang aku pula yang akan membawa gamis ini agar beliau bahagia dan penglihatannya kembali pulih”[2]

negeri syamDan rombongan kecil itupun bergerak meninggalkan Mesir, pulang kembali ke tanah Syam, tepatnya di bumi Kan’an. Saat itulah, nan jauh di sana sekitar perjalanan unta selama delapan, sepuluh atau satu bulan, di tanah Kan’an Nabi Ya’qub alaihissalam yang sedang berada di rumah tiba-tiba dengan aneh mengatakan kepada orang yang bersamanya yaitu cucu-cucu dan sebagian anaknya yang tidak ikut berangkat ke Mesir: “Sesungguhnya aku benar-benar mencium bau Yusuf, andaikan saja kalian tidak menilaiku sedang mengigau!” Keajaiban ini diabadikan oleh Alqur’an:

[Tatkala kafilah itu keluar (dari Mesir), berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kalian tidak menuduhku lemah akal”][3]

Menurut Ibnu Abbas ra, anginlah yang bertiup dan membawa bau gamis Nabi Yusuf  as itu kepada Nabi Ya’qub as. Bukan angin tetapi yang membawa bau harum gamis itu kepada Nabi Ya’qub as adalah orang yang mengantarkan singgasana Bulqis kepada Nabi Sulaiman as sebelum mata beliau berkedip. Demikian menurut Imam Malik bin Anas ra.

Mendengar  ucapan Nabi Ya’qub as maka anak-anak dan cucunya menyahut: “Dan mereka mengatakan: Sesungguhnya engkau berada dalam kecintaanmu yang lama”[4]

Dan ketika rombongan itu telah sampai di rumah, maka Yahudza yang sebelumnya telah meminta kepada saudara-saudaranya agar diberikan kesempatan menyampaikan berita gembira kepada sang ayah seperti dulu ia menjadi pembawa berita duka, segera meletakkan gamis Yusuf as di wajah sang ayahanda. Seketika itulah Nabi Ya’qub as kembali bisa melihat dengan sempurna. “Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya´qub, lalu kembalilah dia dapat melihat…“ dan selanjutnya beliau menegaskan kepada anak-anaknya: “…Berkata Ya´qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya[5]

Imam Hasan (al Bashri) mengatakan:

Mendengar kabar gembira (tentang Yusuf as) maka Ya’qub as yang kebetulan sama sekali tidak memiliki apapun untuk bisa diberikan ketika itu, berkata kepada si pembawa kabar gembira (Yahudza) : “Demi Allah, aku tidak memiliki apapun. Bahkan sudah sejak tujuh hari tidak ada bahan untuk membuat roti tetapi aku berdo’a semoga Allah meringankan bagimu beratnya kematian

Imam al Qurthubi menjelaskan:

Do’a ini adalah bonus, hadiah dan pemberian paling besar. Ayat ini (QS Yusuf 96) menjadi dalil keabasahan memberikan hadiah saat kedatangan suasana yang menggembirakan. Ini sangat terkait dengan kisah Ka’ab bin Malik ra.

Menyadari akan segala kesalahan yang selama ini dilakukan maka semua saudara Nabi Yusuf as merasa sangat menyesal telah menyebabkan selama ini ayah mereka sangat bersedih hati sehingga mereka pun meminta maaf: “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)“[6] Nabi Ya’qub dengan kebesaran hatinya menjawab: “Ya´qub berkata: “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“[7].

Berpindah ke Mesir

“…dan bawalah keluarga kalian semuanya kepadaku” pesan Nabi Yusuf as yang disampaikan oleh Yahudza inipun diterima dan direspon sangat antusias oleh Nabi Ya’qub as sehingga beliau memutuskan mengajak seluruh anak dan keluarganya meninggalkan tanah Kan’an untuk berpindah ke Mesir. Apalagi bukan hanya sekedar berpesan. Disebutkan bahwa saat itu Nabi Yusuf as juga sekaligus mengirimkan bersama saudara-saudaranya yang pulang dari Mesir, dua ratus kendaraan unta serta segala yang diperlukan dalam perjalanan agar seluruh anggota keluarga dan sanak familinya bisa secara keseluruhan berpindah ke Mesir.

images (1)

Persiapan berpindah tempat pun segera dilaksanakan. Dan pada saat yang ditentukan rombongan besar itupun bertolak menuju Mesir. Sementara itu di Mesir, Nabi Yusuf as yang sudah mendapatkan kabar bahwa rombongan sang ayahanda dan keluarga sudah dekat dan sebentar lagi akan memasuki kota, segera melakukan persiapan upacara penyambutan. Sang raja waktu itu yaitu Ar Royyan langsung ikut menyambut bersama para pejabat tinggi, empat ribu infantri, 300 ribu tentara berkuda, para tokoh masyarakat dan banyak sekali rakyat.

Nabi Ya’qub as yang sudah melihat dari atas perbukitan pemandangan menakjubkan tersebut tentu saja merasa heran. Saat itulah Jibril as datang dan berkata kepadanya: “Lihatlah ke atas, sungguh malaikat telah hadir karena ikut merasakan kegembiraan akan keadaanmu kini seperti sebelumnya mereka bersedih dengan kondisimu sebelumnya!”

Dan saat sudah berada dekat, Nabi Ya’qub as turun dari kendaraan dan langsung menghambur kepada sang putera tersayang yang telah sangat lama dirindukannya sejak puluha tahun. Keduanya pun berpelukan erat seraya meneteskan air mata bahagia. Sambil masih memeluk sang ayah Nabi Yusuf as bertanya: “Wahai ayahanda, engkau menangisi diriku sampai hilang penglihatanmu, bukankah engkau meyakini bahwa kelak hari kiamat pasti akan mengumpulkan kita?! Nabi Ya’qub as menjawab: “Memang, kiamat pasti akan mempertemukan kita. Akan tetapi aku sangat khawatir agamamu tercabut sehingga kita tidak akan bisa bertemu”[8]

Dan selesai upacara penyambutan serta ramah tamah. Mereka pun dipersilahkan menempati tempat tinggal baru yang sudah dipersiapkan. Kepada mereka Nabi Yusuf as meyakinkan:

وَقَالَ ادْخُلُوْا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللهُ آمِنِيْنَ

“…dan Yusuf berkata: Masuklah Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman sentosa!”[9]

Karena rasa senang dan terima kasih yang begitu mendalam atas bakti dan keluasan hati Nabi Yusuf as maka seluruh saudara dan kedua orang tuanya yaitu Nabi Ya’qub as dan Layyi’ah seluruhnya bersujud kepadanya. Layyi’ah adalah ibu dari seluruh saudara Nabi Yusuf as kecuali Bun’yamin yang berarti ibu tirinya tetapi masih bibinya sendiri. Adapun ibu kandung Nabi Yusuf dan saudara kandungnya yaitu Bun’yamin adalah Rahel yang terlebih dahulu wafat.

Menyaksikan kedua orang tua dan saudaranya bersujud maka: “…Nabi Yusuf as berkata: “Wahai ayahku, ini adalah ta’wil mimpiku sebelumnya. Sungguh Dia telah menjadikannya sebagai sebuah kebenaran (kenyataan)…”[10]

Mimpi yang dimaksudkan adalah seperti dalam firman Allah:

إِذْ قَالَ يُوْسُفُ لأَبِيْهِ يَآأَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا والشمس وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِيْنَ

“Dan ketika Yusuf berkata kepada ayahandanya: Wahai ayahku sesungguhnya aku melihat sebelas bintang, matahari dan rembulan, aku melihat mereka semua bersujud kepadaku”[11]

Mulai saat itulah Nabi Ya’qub as (Israel as) dan seluruh keluarganya resmi menjadi penduduk Mesir. Mereka tinggal di sana dengan memiliki prestise sosial yang tinggi. Begitu dihormati dan dicintai oleh rakyat Mesir karena mereka adalah ayah, sang Nabi Allah dan keluarga penguasa adil yang bisa memberikan ketentraman dan kesejahteraan bagi bangsa Mesir, Nabi Yusuf as.

Hari berjalan, merambat mencapai satu minggu, sampai satu bulan lalu satu tahun. begitu berjalan hingga delapan belas tahun lamanya. Nabi Ya’qub as yang dianggap rakyat Mesir sebagai tokoh utama dan guru bangsa dalam istilah kita pun akhirnya wafat.

[1] QS Yusuf: 93

[2] Tafsir al Qurthubi tafsir QS Yusuf 93

[3] QS Yusuf:94

[4] QS Yusuf:95

[5] QS Yusuf:96

[6] QS Yusuf:97

[7] QS Yusuf: 98

[8]  Lihat Ruhul Bayan fi Tafsir al Qur’an karya Syekh Ismail Haqqi al Burusawi al Hanafi al Khalwati tafsir QS Yusuf:100

[9] QS Yusuf:99

[10] QS Yusuf:100

[11] QS Yusuf:4