Dari Peristiwa G 30 S/PKI Menuju Negeri Indonesia yang Beragama

Oleh : Ahmad Syarifuddin

Pembina Al-Ghazali Islamic Study Club Surakarta

Peristiwa atau tragedi G 30 S/PKI telah lewat dari kita 50 tahun lebih yang lalu. Dalam rentang waktu tersebut tentu kita bisa merenung dan mengambil pelajaran (i’tibar) dari sejarah anak bangsa Indonesia ini. Karena peristiwa sejarah biasanya suka berulang. Pepatah mengatakan, “Attarikh yuidu nafsahu.” Sejarah itu mengulangi kembali dirinya.

***

Alkisah, suatu pagi di sekolah dasar, seorang guru berkata kepada murid-muridnya, “Anak-anak, coba angkat tangan, pejamkan mata, dan mintalah kalian kapur pada Tuhan.” Murid-murid serentak melaksanakan perintah gurunya.  Guru itu menuntun murid-muridnya berdoa, “Ya Tuhan, beri aku kapur.” Setelah itu, sang guru berujar, “Bagaimana anak-anak?Kalian sudah berdoa pada Tuhan?!Apakah ada kapur di tanganmu?! Apakah Tuhan kasih pada kalian kapur?!” “Tidak!!!” seru murid-murid lugu.

Berikutnya sang guru kembali menyuruh murid-muridnya mengangkat tangan sambil memejamkan mata dan bermohon. Dituntunnya para murid, “Wahai Pak Guru, aku memohon kapur kepadamu.” Tiga sampai empat kali. Dia berjalan berkeliling seraya menaruh kapur di tangan masing-masing murid yang tengah memejamkan matanya. “Coba anak-anak, sekarang buka mata, dan lihat apa yang ada di tangan kalian. Ada kapurkah di tangan kalian? Siapa yang kasih? Apakah Tuhan yang kasih? Berarti pak guru ada dan Tuhan tidak ada, bukan?”

Demikianlah guru atheis ini mendoktrin murid-murid dengan segala daya upayanya agar anak-anak itu kelak mengikuti dirinya menjadi generasi manusia yang tidak bertuhan dan tidak beragama.

***

 

Peristiwa Bangkuning

Bangkuning adalah sebuah kampung terletak agak ke dalam dari Jalan Raya Darmo, Surabaya. Di sana ada sebuah masjid kuno, dikenal dengan sebutan “Masjid Bangkuning”. Konon, masjid tersebut adalah peninggalan Raden Rahmat alias Sunan Ampel, seorang wali penyebar Islam di Jawa, sehingga masjid tersebut terkenal juga dengan sebutan Masjid “Raden Rahmat”.

Suatu hari terjadi musibah yang menimpa masjid tersebut. Sekelompok Pemuda Rakyat dan Gerwani (generasi muda PKI) tiba-tiba menyerbu masjid Bangkuning, masuk ke dalamnya, menginjak-injak dengan kaki dan sepatu berlumpur, menari-nari sambil menyanyikan lagu “genjer-genjer” lalu menguasai masjid tersebut dan menjadikannya sebagai markas kegiatan mereka.Perbuatan tersebut langsung membangkitkan emosi keagamaan masyarakat muslim Surabaya.

Beberapa hari kemudian sekelompok pemuda Islam berintikan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) menyerbu balik masjid tersebut dengan semangat Jihad fi Sabilillah. Mereka menyeret keluar pemuda-pemudi anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani yang ada di dalam masjid, dan masjid pun berhasil diselamatkan.

Ormas NU Surabaya meneruskan kejadian tersebut melalui prosedur hukum. Melalui serangkaian sidang, Pengadilan Negeri Surabaya memutuskan agar masjid dikembalikan kepada fungsinya semula, sedangkan mereka yang terlibat dalam penyerbuan dan penodaan masjid divonis penjara. (Lihat K.H. Saifuddin Zuhri: Eksistensi Agama dalam Nation Bulding, dalam Menteri-Menteri Agama RI Biografi Sosial Politik, hal. 230).

Propaganda Daging Tikus

Dalam sebuah rapat umum di Istora Senayan, Pemuda Rakyat beramai-ramai mendemonstrasikan pesta makan daging tikus. Pesta ini merupakan refleksi dari sikap mereka untuk melecehkan hukum Islam, sekaligus sebagai pertanda dimulainya gerakan pengganyangan sistematis mulai dari tikus (koruptor dan manipulator), setan desa, setan kota, kapitalis birokrat, dan semua musuh PKI.

Isu daging tikus merupakan bagian dari propaganda anti agama yang sistemats terbukti dengan dimunculkannya isu tersebut pada sidang DPA yang dipimpin Presiden Sukarno. Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri, yang saat itu merangkap anggota DPA, duduk di sebelah kanan D.N. Aidit (Ketua CC PKI) pada jarak kira-kira hanya 20 cm. Tetapi dengan nada sinis, Aidit tidak bertanya langsung baik-baik secara pribadi melainkan secara antipati melalui forum. Katanya, “Saudara Ketua, tolong tanyakan kepada Menteri Agama yang duduk di sebelah kanan saya, bagaimana hukumnya menurut agama Islam makan daging tikus?”

Refleks spontan santri Saifuddin Zuhri muncul dan dengan enteng menjawab, “Saudara Ketua, tolong beritahukan kepada si penanya di sebelah kiriku ini bahwa aku sedang berjuang agar rakyat mampu makan ayam goreng. Karena itu jangan dibelokkan (mereka) untuk makan daging tikus!” Jawaban ini konon mengundang gelak-tawa seluruh hadirin, termasuk Bung Karno sendiri, yang memimpin sidang. (Lihat K.H. Saifuddin Zuhri: Eksistensi Agama dalam Nation Bulding, dalam Menteri-Menteri Agama RI Biografi Sosial Politik, hal. 231).

Kisah ini menimbulkan tanya di benak kita, siapakah D.N. Aidit (ketua CC PKI). Bukankah dia juga seorang yang beragama Islam? Sebagaimana timbul pertanyaan juga di benak kita untuk kisah sebelumnya. Bukankah para penyerbu Masjid Raden Rahmat Kembang Kuning Surabaya juga adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam? Mengapa bisa demikian, sesama pemeluk agama Islam dan sesama anak bangsa pula harus bentrok dan saling olok-mengolok?

I’tibar Kita dari Peristiwa G 30 S/PKI

Pasca tragedi G 30 S/PKI konon masyarakat Indonesia berduyun-duyun mendatangi masjid dan musholla. Dan sebagian lagi di antara anak bangsa memilih menyeberang ke agama selain Islam, karena ngeri melihat ‘keganasan’ sebagian (oknum) umat dalam menghabisi siapa yang dianggap sebagai musuhnya secara di luar kemanusiaan. Menurut fakta, pihak gereja menuai pengikut yang cukup banyak di beberapa daerah dari peristiwa geger G 30 S/PKI ini.

Secara umum, kita (anak bangsa Indonesia) dan secara khusus umat Islam, apakah mendapatkan manfaat dan keuntungan dari peristiwa G 30 S/PKI ini? Apakah PKI dan PNI beruntung? Apakah NU dan Masyumi beruntung? Serta apakah negara besar ini juga beruntung? Jika semua pihak merasa rugi, lalu siapakah yang beruntung? Jangan-jangan pihak yang beruntung adalah setan dan pihak lain yang berhasil menghasut dan mengadu-domba kekeluargaan kita.

Dari peristiwa ini ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik.

  1. Naluri bangsa Indonesia adalah beragama dan bertuhan, sebagaimana naluri-naluri bangsa-bangsa lain di dunia yang masih lestari. Melepas naluri ini dari bangsa Indonesia akan menimbulkan pantulan petaka yang amat besar.
  2. Aqidah Islam itu perlu kita pelajari, kita tanamkan, dan kita kokohkan pada generasi, agar sewaktu-waktu nyawa kita dan mereka tercerabut, kita dan mereka dalam keadaan beriman dan beragama Islam.
  3. Jangan menumpahkan darah orang muslim secara tidak haq, apalagi dengan cara mencincang. Satu nyawa orang muslim itu bahkan konon lebih bernilai daripada Ka’bah.
  4. Jangan bertempur sesama saudara.
  5. Tragedi keganasan dan bentrok antar internal umat Islam adalah satu doa Nabi Muhammad  yang tidak dikabulkan oleh Allah . Artinya peluang bentrok antar sesama muslim ini selalu terbuka kapan saja dan di mana saja.
  6. Sesuai dengan falsafah Ajisaka (Hanacaraka), utusan-utusan anak negeri (partai politik atau ormas) suka tidak akur, berselisih (data sawala), sama-sama kuat (pada jayanya), dan akhirnya semua hancur (mangga batanga). Yang mengambil keuntungan jelas-jelas malah adalah pihak asing.
  7. Ketahui musuh sejati kita adalah kebodohan, keserakahan, keangkuhan, ketidakadilan, kemiskinan, dan ketiadaan pemimpin pengayom.
  8. Carilah pemimpin yang berilmu, pemberani, tegas, kuat fisik dan moralnya, dan dapat dipercaya.
  9. Kemayoritasan umat Islam di negeri ini merupakan karunia ilahi yang patut disyukuri, bukannya diingkari dan dikufuri.
  10. Kita mau suku, golongan, partai, dan ormasnya apa saja, tetapi hanyalah dapat memilih satu dari tiga kategori, yakni sebagai (1) orang-orang yang beriman; (2) orang-orang kafir; dan atau sebagai (3) orang-orang munafiq, sebagaimana termaktub di awal Kitab Suci Al-Qur’an.

Wallahu a’lamu bis-shawab.