Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Dasar Pengembangan Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik dalam Pendidikan Islam | LAZIS AL HAROMAIN

Dasar Pengembangan Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik dalam Pendidikan Islam

Oleh:

Masitha Achmad Syukri

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Di dalam penyusunan dokumen kurikulum di seluruh jenjang pendidikan, baik guru maupun dosen diharuskan dapat mengidentifikasi dan memetakan beberapa jenis kemahiran atau ketrampilan yang menjadi target proses pendidikan dan atau pengajaran. Terkait dengan itu, klasifikasi jenis kemahiran atau ketrampilan yang sering atau bahkan selalu digunakan adalah taksonomi Bloom yang dicetuskan dan dikembangkan sejak pertengahan abad ke 20. Padahal taksonomi serupa sudah pernah digagas 6 abad sebelumnya oleh seorang ulama, seorang ilmuwan muslim yakni Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tepatnya pada abad 14. Jadi, sudah seharusnya kita mengenal dan memajankan nama Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam pengembangan dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam.

Sains-Teknologi-PendidikanTaksonomi Bloom

Seorang psikolog pendidikan yang bernama Benjamin Samuel Bloom (yang lahir di Pennsilvania, USA pada tahun 1913 dan meninggal di Chicago, USA pada tahun 1999) telah mengembangkan konsep taksonomi tujuan pendidikan pada tahun 1956. Konsep tersebut kemudian lazim dikenal dengan taksonomi Bloom. Konsep tersebut sangat melekat pada para pendidik di dunia, termasuk pendidik di Indonesia. Di dalam konsep tersebut, Bloom mengkategorisasikan tiga ranah tujuan pendidikan, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif berkaitan dengan penalaran/pemikiran, yakni mencakupi fungsi memroses informasi/pengetahuan/keahlian. Ranah afektif berkaitan dengan afeksi atau rasa/sikap. Ranah psikomotorik meliputi fungsi kemampuan/ketrampilan/gerakan fisik yang terkait dengan jiwa. Ketiganya sangat penting dan saling berkaitan dalam menentukan tujuan pendidikan. Proses kognitif/berpikir meliputi proses mengenal dan memahami suatu konsep/ilmu/informasi. Kemudian, dari pemahaman yang diperoleh, pencari ilmu diharapkan mau (bersikap/afektif) dan mampu mengaplikasikan ilmu/konsepnya dalam kehidupannya (psikomotorik).

Taksonomi Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Ibnu Qayyim Al Jauziyah lahir di Damaskus pada tahun 691 H (1292 M) dan wafat pada tahun 751 H (1350 M). Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa’ad bin Haris Az Zar’i Ad Damasqy. Sebagai murid utama dari Ibnu Taimiyah, beliau juga merupakan ulama yang mencurahkan seluruh tenaga dan pemikirannya dalam dunia pendidikan Islam. Beliau adalah pemikir yang sangat produktif.

Diantara konsep-konsepnya yang terkait dengan pendidikan, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menekankan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tiga aspek dasar penciptaan manusia, yakni ruh, akal, dan jasad. Artinya, dasar, proses, dan tujuan pendidikan harus memperhatikan ketiga aspek tersebut. Aspek ruh meliputi pendidikan untuk pembinaan aspek ruhani, yakni iman, akhlak, dan iradah (kehendak). Aspek akal meliputi pendidikan untuk pembinaan aspek kecerdasan dan pemberian pengetahuan. Aspek jasad meliputi pendidikan untuk pembinaan ketrampilan jasmani. Fokus utama di antara ketiganya adalah pendidikan ruh, yakni pendidikan dan pembinaan akhlak yang didasari keimanan kepada Allah. Di antara makhluk Allah, yang paling mulia adalah manusia karena manusia diciptakan memiliki akal yang dengannya manusia dapat berpikir, membedakan yang haq dari yang batil, membedakan yang baik dari yang buruk. Di antara manusia, yang paling mulia adalah manusia yang berakhlak tinggi atau berakhlak mulia.

Jika dicermati lebih jauh, dapat dikatakan bahwa tiga aspek tersebut pada dasarnya sama dengan tiga aspek dalam tujuan pendidikan yang digagas oleh Bloom atau yang dikenal dengan taksonomi Bloom. Aspek akal adalah aspek kognitif, aspek ruh adalah aspek afektif, dan aspek jasad adalah aspek psikomotorik.

Akan tetapi, terdapat perbedaan antara taksonomi Bloom dan taksonomi Ibnu Qayyim Al Jauziyah, yakni perbedaan pada dasar penentuan tujuan pendidikan dalam ketiga aspek tersebut dan prioritas tujuan pendidikan. Dasar penentuan tujuan pendidikan dalam taksonomi Bloom adalah kaidah-kaidah umum universal yang baik dan buruknya ditentukan oleh akal manusia. Sementara itu, dasar penentuan tujuan pendidikan dalam taksonomi Ibnu Qayyim Al Jauziyah adalah keimanan kepada Allah Sang Maha Pencipta yang memiliki otoritas penuh untuk mengatur dan menetapkan baik buruknya perbuatan manusia dalam kehidupannya sehari-hari.

Terkait dengan prioritas tujuan pendidikan, berdasarkan pada salah satu tujuan nubuwwah, yakni, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berpendapat bahwa prioritas tujuan pendidikan adalah pendidikan akhlak yang dilakukan untuk mencetak anak didik yang berakhlak mulia. Dalam hal itu, mereka senantiasa diharapkan melakukan kebiasaan yang terpuji sehingga akhlak mulia tersebut menjadi karakter atau sifat yang tertanam dalam kepribadian anak sehingga anak dapat meraih kebahagiaan hidup serta dapat terhindar dari akhlak yang rendah dan hina.

Konsep Dasar Pengembangan Pendidikan di dalam Islam

Dasar penentuan tujuan pendidikan di dalam Islam adalah keimanan kepada Allah dan tujuan pendidikan itu sendiri adalah agar peserta didik mendapatkan ilmu yang manfaat. Hubungan diantara keduanya ditunjukkan oleh hadirnya dua tanda pada ilmu yang manfaat. Pertama, ilmu yang manfaat akan mendatangkan dan meningkatkan keimanan kepada Allah dan selanjutnya iman diwujudkan melalui amal shalih. Kedua, ilmu yang manfaat akan mendatangkan rasa takut kepada Allah pada pemilik ilmu tersebut.

Dengan demikian, jelas bahwa:

  • ilmu yang tidak mendatangkan dan atau meningkatkan iman pada si pemilik ilmu bukanlah ilmu yang manfaat.
  • Ilmu yang tidak membuat si pemilik ilmu bertambah amal shalihnya bukanlah ilmu yang manfaat.
  • Ilmu yang tidak mendatangkan rasa takut kepada Allah pada si pemilik ilmu bukanlah ilmu yang manfaat.

Untuk itu, guru dan atau dosen sudah semestinya lebih menyadari dan semangat untuk menguraikan kemahiran dan atau ketrampilan ketiga ranah tersebut (akal/kognitif, ruhani/afektif, dan jasmani/psikomotorik) dan mengimplementasikannya dalam setiap bidang yang diajarkan hingga peserta didik menjadi semakin bertambah imannya kepada Allah, semakin bertambah amal shalihnya, dan semakin bertambah rasa takutnya kepada Allah. Wallaahu a’lam.