DAULAH ABBASIYAH DI MESIR (660H/1261M – 916H/1517M)

Oleh: Bahtiar HS

Departemen Media Lazis alHaromain

kecilSetelah khalifah Al-Musta’shim Billah berikut seluruh keluarganya dan sekalian penduduk Baghdad dibantai oleh pasukan Hulagu Khan dari Mongol pada 1258M hingga menjadikan Baghdad banjir darah, maka praktis runtuhlah kekhalifahan Abbasiyah di kota seribu satu malam itu.

Pada saat peristiwa tragis itu, ada seorang yang dilepaskan oleh tentara Tartar dari penjara Baghdad. Dia adalah Ahmad bin Azh-Zhahir Biamrillah. Azh-Zhahir, ayah Ahmad ini adalah khalifah Abbasiyah ke-35 yang berkuasa pada 1225M-1226M. Ahmad bin Azh-Zhahir Biamrillah pun melahirkan diri dan berjalan ke perbatasan Irak. Ia tinggal di sana untuk beberapa waktu. Sumber yang lain menyatakan ketika terjadi peristiwa pembantaian di Baghdad itu, ia sedang berada di luar kota, sehingga selamat.

Pasca serbuan Tartar ke Baghdad, Hulagu Khan mengirim pasukan di bawah panglima Kitbuqa menghadapi pasukan dari Kesultanan Mamluk di Mesir di bawah pimpinan Sultan Syaifuddin al-Qutuz bersama panglima perangnya, Baibars. Keduanya bertemu di Ain Jalut di Palestina pada 1260M, sehingga peristiwa itu disebut Pertempuran Ain Jalut. Di sinilah, pasukan Mongol yang terkenal ganas, kejam, dan tak mengenal belas kasihan, serta tak terkalahkan selama ini berhasil dihancurkan dengan sangat meyakinkan dan dipukul mundur oleh Al-Qutuz dan pasukannya. Sejak saat itu, pasukan Tartar itu tidak pernah kembali dan tidak pernah membalas sebagaimana sebelumnya, sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi kaum muslimin.

Sultan Syaifuddin al-Qutuz meninggal 40 hari kemudian pasca Pertempuran Air Jalut. Sebagai penggantinya, sang panglima perang Baibars atau lengkapnya Al-Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari menjadi sultan Dinasti Mamluk di Mesir pada 1260M.

***

Pada Juni 1261M, Sultan Azh-Zhahir Baibars mengundang keturunan khalifah Abbasiyyah yang selamat dan lolos dari kekejaman tentara Mongol, yakni Ahmad bin Azh-Zhahir Biamrillah ke Kairo. Ahmad datang bersama sepuluh orang dari Bani Muharisy. Sultan Baibars dan segenap hakim kerajaan menyambut kedatangannya. Tak hanya itu, Ahmad bin Azh-Zhahir dinobatkan sebagai khalifah Abbasiyyah yang baru setelah kosong selama tiga tahun sejak 1258M. Sultan Baibars sendiri membaiatnya pertama kali, diikuti hakim Tajuddin bin Al-A‘aaz dan Syekh Izzuddin bin Abdus Salam, serta sekalian pejabat kesultanan yang hadir. Khalifah Abbasiyah pertama di Mesir tersebut diberikan gelar Khalifah Al-Mustanshir II atau Al-Mustanshir Billah seperti gelar saudaranya.

Penduduk menyambut gembira pelantikan Al-Mustanshir sebagai khalifah. Setiap Jumat, khalifah keluar untuk melakukan shalat. Dia sendiri yang naik mimbar dan berkhutbah di tengah manusia dengan menyebutkan keutamaan Bani Abbas. Tidak lupa dia juga selalu mendoakan sultan dan kaum Muslimin secara keseluruhan. Setelah itu dia menjadi imam shalat Jumat.

Dari penobatan ini, Sultan Baibars memperoleh pengakuan / ijazah penobatan sebagai sultan Mamluk dan memberikan kekuasaan penuh atas Mesir, Suriah, Diarbekir, Hijaz, Yaman, dan daratan Efrat.

Tiga bulan kemudian, Sultan Baibars mengantar khalifah Al-Mustanshir Billah dari Kairo dan mengukuhkan kedudukannya di Baghdad sebagai khalifah Abbasiyah. Tetapi saat tiba di Damaskus, Suriah, ia meninggalkan al-Mustanshir Billah menentukan nasibnya sendiri. Khalifah sempat menaklukkan al-Haditsah, lalu Hita. Ketika itulah ia diserang tentara Mongol  sehingga terjadi pertempuran sengit antara kedua belah pihak. Namun, sebagian pasukan muslim terbunuh pada peristiwa itu. Sedangkan khalifah Al-Mustanshir Billah dihukum pancung (ada sumber yang mengatakan selamat dan melarikan diri).

Setelah kematian Al-Mustanshir Billah, maka khalifah berikutnya adalah Al-Hakim Biamrillah dari keturunan Abbasiyah. Penobatannya juga dilakukan oleh Sultan Baibars ketika berada di Damaskus. Sama dengan Al-Mustanshir, penobatan Al-Hakim sebagai khalifah ini untuk melegitimasi kekuasaan kesultanan Mamluk atas wilayah Mesir dan sekitarnya.

Al-Hakim memerintah tak kurang 40 tahun lamanya. Dan khalifah-khalifah sesudahnya yang tak kurang ada 16 khalifah hingga lebih dari dua setengah abad adalah anak keturunan Al-Hakim mulai dari Al-Mustakfi (1302M-1340M) hingga Al-Mutawakkil III (1508M-1517M).

***

Tetapi khalifah Abbasiyah di Mesir lebih merupakan jabatan tanpa kekuasaan. Kekuasaan mereka semu, karena sultan dinasti Mamluk lebih berkuasa dibandingkan mereka. Eksistensi kekhalifahan tetap dipertahankan, tetapi esensinya mereka hanyalah boneka untuk melegitimasi kekuasaan kesultanan Mamluk Mesir kepada masyarakat muslim. Atau setidaknya keduanya saling memperkuat kedudukan satu dengan lainnya.

Tetapi tak jarang terjadi konflik antara khalifah dengan sultan Mamluk. Pada kasus khalifah Al-Mustakfi Billah misalnya. Pada 736 H, terjadi perselisihan antara sultan dan diri khalifah, hanya karena ada satu panggilan yang di atasnya ada tulisan khalifah yang meminta sultan untuk menghadiri pengadilan. Sultan marah dan akhirnya menangkap khalifah, dan kemudian memenjarakan di sebuah benteng dan tak seorang pun boleh menemuinya. Setelah itu, pada Dzulhijjah 737H, Khalifah Al-Mustakfi diasingkan ke Qush hingga meninggal pada 740H.

Padahal sebelumnya, kedua sultan dan khalifah ini pernah bekerja sama bahu membahu dalam peperangan melawan tentara Tartar. Pada 702H, pasukan Tartar menyerang Syam (Damaskus). Sultan Malik An-Nashir Muhammad bin Qalawun keluar menyongsong mereka bersama-sama dengan khalifah Al-Mustakfi Billah. Kemenangan berada di pihak kaum muslimin di mana tentara Tartar terbunuh sangat banyak dalam peperangan ini dan sisanya melarikan diri.

***

Khalifah terakhir dari Daulah Abbasiyah di Mesir adalah khalifah Muhammad Al-Mutawakkil Alallah III yang berkuasa dari 1510M – 1517M. Adalah Sultan Salim dari Kesultanan Turki Utsmani yang telah berhasil mengalahkan kekhalifahan Abbasiyah dan kesultanan Mamluk di Mesir dan menjadikan Mesir bagian dari kekuasaannya. Khalifah Al-Mutawakkil III dibawa ke Istanbul Turki. Saat itulah, Al-Mutawakkil III menyerahkan jabatan khalifah berikut lambangnya, pedang dan mantel Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada Sultan Salim. Sejak itulah, penguasa Turki disebut sebagai “khalifah” setelah sebelumnya mereka menamakan dirinya sebagai “sultan”.

Dengan demikian berakhirlah masa kekuasaan Daulah Abbasiyah yang telah membentang sejarah tak kurang 767 tahun sejak Abul Abbas As-Shafah mendirikannya pada 750M di Baghdad hingga Al-Mutawakkil III mengakhirinya di Mesir pada 1517M.