Fenomena Keterbalikan Masyarakat Di Akhir Zaman

Oleh : M. Muhim Kamaluddin

Guru TPQ As-Sakinah, Ds. Mancilan, Kec. Mojoagung, Jombang.

Dalam al-Ihya’ bab Amar Ma’ruf Nahi anil Munkar, Imam al-Ghazali menukil hadits yang diriwayatkan olehIbnu Abi Dunya dan Abu Ya’la  al-Maushili dari sahabat Abi Umamah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا طَغَى نِسَاؤُكُمْ وَفَسَقَ شَبَابُكُمْ وَتَرَكْتُمْ جِهَادَكُمْ قَالُوا وَإِنَّ ذَلِكَ لَكَائِنٌ يَا رَسُوْلَ الله قاَلَ : نَعَمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَأَشَدَّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ قَالُوا وَمَا أَشَدَّ مِنْهُ يا رَسولَ الله ؟ قالَ : كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَمْ تَأْمُرُوا بِمَعْرُوفٍ وَلَمْ تَنْهَوْا عَنْ مُنْكَرٍ قَالُوا وَكائِنٌ ذلكَ يا رَسولَ الله ؟ قالَ : نعَمْ وَالذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَأَشَدَّ مِنْهُ سَيَكُونُ قَالُوا وَمَا أَشَدَّ مِنْهُ ؟ قاَلَ : كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَعْرُوفَ مُنْكَرًا وَالْمُنْكَرَ مَعْرُوفًا قالُوا وكائن ذَلِكَ يَا رسولَ اللهِ ؟ قالَ : نَعَمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَأَشَدَّ مِنْهُ سَيَكُونُ , قًالُوا وماَ أَشَدَّ منهُ ؟ قال : كيفَ أنتمْ إذَا أَمَرْتُمْ بِالْمُنْكَرِ وَنَهَيْتُمْ عَنِ الْمعروفِ قَالُوا وَكَائِنٌ ذلكَ يَا رسولَ الله ؟! قال : نَعَمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ وَأَشَدَّ مِنْهُ سَيَكُونُ , يقول الله تعالى : بي حلفت لأتيحن لهم فِتْنَةً يَصِيرُ الْحَلِيم فِيهَا حَيْرَان .

“Bagaimana menurut kalian jika istri kalian menjadi orang yang senang membantah, dan anak-anak kalian menjadi orang cenderung pada kefasikan, dan kalian sendiri meninggalkan jihad kalian?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu sungguh akan terjadi, ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ya, dan demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, yang lebih dahsyat dari itu akan terjadi juga.” Para sahabat bertanya,“Apakah yang lebih dahsyat dari hal itu, wahai Rasulullah?”“Bagaimana menurut kalian, jika kalian tidak melaksanakan amar makruf nahi munkar?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu akan terjadi, ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ya, dan demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, yang lebih dahsyat dari itu akan terjadi juga.” Para sahabat bertanya,“Apakah yang lebih dahsyat dari hal itu, wahai Rasulullah?”“Bagaimana menurut kalian, jika kalian melihat kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kebaikan?” Para sahabat bertanya, “Apakah hal itu sungguh akan terjadi, ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ya, dan demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, yang lebih dahsyat dari itu akan terjadi juga.” Para sahabat bertanya,“Apakah yang lebih dahsyat dari hal itu, wahai Rasulullah?”“Bagaimana menurut kalian, jika kalian justru menyuruh untuk berbuat kemungkaran dan kalian malah melarang untuk berbuat kebaikan?Allah ta’ala berfirman: Aku bersumpah akan menimpakan atas mereka sebuah ujian yang membuat orang yang paling sabar diantara mereka pun menjadi bingung.”

Mencermati fenomena umat Islam saat ini, rasanya sangat tepat gambaran Rasulullahr tentang kondisi kita saat ini. Bahwa umat akhir zaman,yang terpaut jauh dengan zaman Nabi dan para sahabat, akan mengalami degradasi akhlak sampai pada tahap keterbalikan nilai ajaran Islam.

Berbagai macam kerusakan itu, dimulai dari rusaknya sentral pendidikan umat, yaitu kaum ibu. Bahwa sosok ibu sebagai sentral akhlak keluarga, sudah sering kita dengar dalam pepatah arab yang mengatakan  “Ibu adalah madrasah pertama” atau pepatah yang menyebut ibu adalah tiang negara, jika baik kaum ibunya, baik pula negara. Jika telah rusak kaum ibu, maka rusak pula negara”. Digambarkan oleh Nabi, bahwa kaum wanita akan menjadi orang-orang yang zalim, sewenang-wenang terhadap diri dan keluarganya. Hal ini karena sangat sedikit kepeduliannya kepada keluarga, sedikit perhatiannya dalam agama,dan sedikit pula bekal ilmunya membina tangga. Mereka menjadi orang yang susah untuk menerima nasihat, sebab yang memberikan nasihat juga bukan orang yang patut diteladani.

Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam keluarga yang kering dari nilai-nilai akhlak Islam. Lalu menjadi anak-anak yang tidak peduli dengan ajaran Islam. Bahkan mereka menjadi pemuda yang memperturutkan hawa nafsunya. Mereka betah menonton konser hingga larut malam, tapi berat bila mengikuti pelajaran di kelas, dan bahkan ogah untuk menghadiri pengajian. Mereka lebih senang dengan tontonan maksiat daripada datang ke majelis shalawat. Al-Qur’an tersusun rapi di rak buku tak tersentuh jari, sarung tetap terlipat rapi di almari. Datang kemasjid setahun dua kali saat Idul Adha dan Idul Fitri. Nasihat orang tua, mereka tidak peduli.Sebaliknya, mabuk dan pergaulan bebas diakrabi, ocehan teman ditanggapi, para biduan sangat mereka gemari. Mereka menjadi orang yang fasik, kerap melakukan dosa besar. Na’udhubillah min dzaalik. Semoga kita dan keluarga kita dijauhkan dari hal tersebut.

Sedangkan kaum dewasanya, menjadi orang yang tidak lagi peduli dengan urusan umat. Sibuk dengan urusan bisnis dan kerjanya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengajar agama dan tata krama kepada anak.  Tidak ada waktu lagi untuk jamaah ke masjid, tidak ada waktu luang untuk pergi ke pengajian, apalagi untuk berjihad membela islam.

Maka tatanan sosial masyarakat menjadi semakin rusak, para da’i yang mengajak kepada kebaikan malah ditentang dan ditinggalkan. Masjid dan mushalla semakin sepi,sampai pada tahap dimana tidak akan ada lagi yang mau beramar makruf nahi munkar, kecuali beberapa gelintir yang dikendaki Allah.

Apabila telah berlaku demikian, maka kebodohan melanda umat, kemaksiatan dan dosa besar dianggapnya sudah biasa. Zina, pelacuran, homoseks, pergaulan bebas dan korupsi dianggap manusiawi,tempat mabuk justru difasilitasi. Sebaliknya poligami, perda syariat, pernikahan dini  dianggap jahat dan tidak manusiawi. Maka kejahatan dianggap kebaikan dan kebaikan dinilai sebagai kejahatan.

Sehingga pada kondisi yang jauh lebih parah daripada kondisi sebelumnya, yaituketika tiba giliran umat Islam waktu itu diperintahkan untuk berbuat kemungkaran dan justru dilarang untuk berbuat baik dalam pandangan agama Islam. Dibeberapa negaraEropa, umat Islam dilarang untuk memakai busana muslim di sekolah dan justru diperintahkan agar umat Islam terbiasa memakan babi dan minum bir untuk menyesuaikan diri dengan budaya Eropa.

Di negeri ini, beramar ma’ruf menegakkan hukum atas penistaan Islam dihalang-halangi oleh kekuatan kapitalis dan liberal. Tetapi pejabat tukang gusur rakyat malah dijunjung tinggi dan dilindungi, oleh kapitalis dan liberal. Fenomena akhir zaman: ulama dicaci, orang kafir dipuji.

Fenomena keterbalikan nilai yang sering kita jumpai di zaman ini, hendaklah kita jadikan sebagai pengingat. Bahwa kita senantiasa harus mawas diri dan tetap teguh pada ajaran Islam. Bahkan kebenaran ajaran ini, haruslah tetap kita pegang teguh sebagaimana digambarkan “Gigitlah ia (ajaran Islam) dengan gigi gerahammu, meski engkau harus mati dalam keadaan seperti itu.” Demikian wasiat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, untuk kita, umat Islam.

Wallahu a’lam bisshowab.