Di Balik Kekurangan Ada Kelebihan

 

Oleh : KH. M. Ihya Ulumiddin

Q.S. At-Tiin: 4 

لَقَدْ خَلَقْـنَا اْلإِنْسَانَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ 

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

 Di Balik Kekurangan Ada Kelebihan

Analisa Ayat

Dalam ayat ini Allah menegaskan telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Secara maknawiyyah manusia seluruhnya tercipta dalam kondisi beraqidah tauhid, tetapi kemudian ada yang menjadi nashrani, yahudi dan majusi, serta beragama lain karena terwarnai lingkungan di mana ia tinggal. Berangkat dari prinsip inilah kemudian ketika ada anak manusia meninggal dunia dalam usia kanak-kanak, maka mereka seluruhnya masuk surga meski ia terlahir di tengah lingkungan kekafiran. Demikian pendapat kebanyakan ulama, sementara ada pula yang berpendapat bahwa status aqidah anak-anak adalah mengikuti status aqidah kedua orang tuanya. Allahu a’lam.

Jika demikian halnya, maka orang tua harus melakukan upaya menjaga aqidah anak. Orang tua harus berusaha maksimal bagaimana anak tetap berada dalam bentuknya yang sempurna. Dan seperti diketahui bersama bahwa prinsip dalam pendidikan aqidah yang diajarkan Rasulullah Sholalloh’alihis salam ‘alaihi wasallam adalah dengan membacakan ayat-ayat Allah, Al-Qur’an, dan alam semesta ini. Karena itulah pendidikan Al-Qur’an harus menjadi perhatian pokok orang tua dalam memulai usaha pendidikan anak. Sebab selain sebagai syarat membentuk pribadi rabbani, pendidikan Al-Qur’an secara nyata adalah membangun benteng Aqidah bagi anak.

Sementara secara fisik, manusia, apapun bentuknya baik normal atau cacat, tercipta juga dalam bentuk yang paling baik dan paling sempurna.

Postur tubuh yang utuh, memiliki panca indera, memiliki akal dan tentunya masing-masing manusia memiliki kelebihan dan keahlian di mana satu sama lain saling membutuhkan dan akhirnya bisa saling melengkapi
. Seorang yang secara fisik cacat ternyata memiliki kemampuan melebihi orang yang sehat. Orang yang buta misalnya banyak sekali dari mereka yang bisa melihat dan meneliti sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh orang yang bisa melihat. Seorang ahli pengobatan yang buta seringkali bisa melakukan diagnosa penyakit secara cepat dan tepat melebihi dokter dengan segala peralatan canggihnya. Inilah rahasia Allah S’alihis salambhanah’alihis salam waRadhiyalloh’alihis salam ‘anha’ala dan kiranya itu sudah ditegaskan bahwa Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik.

Artinya semua manusia bagaimanapun model dan bentuk fisiknya dan apapun statusnya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Seorang yang secara intelektual bodoh tetapi memiliki tubuh besar dan bertenaga jauh di atas seorang yang secara intelektual lebih tinggi darinya. Itu berarti orang bodoh sekalipun juga memiliki nilai yang menjadikannya layak dan harus dihargai. Ini berarti keduanya juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan menggunakan potensinya masing-masing. Sayyidina Ali Radhiyalloh’alihis salam ‘anh berkata:

قِيْمَةُ الْمَرْءِ مَا يُحْسِنُ

Harga seseorang adalah apa yang ia bisa.”

Salah satu wujud memiliki potensi, mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang sama, maka Allah melarang keras sifat sombong, melecehkan, dan merasa lebih baik daripada orang lain. Rasulullah Sholalloh’alihis salam ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ  مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ…

“Tidak masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebobot semut hitam kesombongan…”[1]

Mendengar ini seorang lelaki bertanya, “Sesungguhnya saya gemar berbaju bagus dan memakai sandal yang bagus?” Rasulullah Sholalloh’alihis salam ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Sesungguhnya Allah Dzat yang indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.”[2]

Adapun maksud tidak masuk surga di sini adalah memiliki beberapa penafsiran; 1) tidak masuk surga bersama rombongan-rombongan pertama, 2) hadits ini tidak lebih hanya penjelasan akan sifat penduduk surga seperti disebutkan dalam firman-Nya, “Dan Kami cabut apa yang ada dalam hati mereka berupa rasa dengki“,  3) merupakan bahasa peringatan.

Kenyataan bahwa manusia tercipta dalam keadaan terbaik dan pasti memiliki kebisaan yang tidak dimiliki oleh orang lain di satu sisi juga semestinya menjadi motivasi hati untuk tidak minder, merasa kalah dan rendah daripada orang lain. Jika orang lain mengungguli dirinya dalam satu hal, maka sebenarnya ia bisa mengalahkan orang tersebut dalam hal lainnya. Seorang santri dengan wawasan agama yang luas tidak perlu minder berhadapan dengan siapapun termasuk seseorang yang telah bergelar profesor doktor. Ini karena sang profesor hanya kuat dalam bidang ilmu tertentu, sementara di bidang ilmu lain ia lemah yang justru dalam ilmu itulah santri lebih kuat daripadanya. Dan bahkan apa yang dimiliki oleh santri jelas memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah. Begitu pula tak seharusnya seorang santri, orang yang berilmu merasa rendah berhadapan dengan orang-orang kaya raya karena sesungguhnya ilmu memiliki nilai lebih tinggi daripada harta benda. Dengan ilmu, seseorang memiliki sekian banyak keuntungan; sebagai tanda manusia yang dikehendaki mendapatkan kebaikan, sebagai manusia yang mewarisi warisan para nabi ‘alihis salam dan juga menjadi tanda kecintaan Allah.  Rasulullah Sholalloh’alihis salam ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ قَسَمَ  بَيْنَكُمْ أَخْلاَقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ الله يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ وَلاَ يُعْطِي الدِّيْنَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ …

Sesungguhnya Allah membagi akhlak kalian seperti Dia telah membagi rizqi kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya dan orang yang tidak dicintai-Nya dan Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang dicintai-Nya…” (H.R. Imam Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyalloh’alihis salam ‘anh)

Dalam tafsir Ruuhul Bayan disebutkan yang artinya;

[dan di antara hal yang menunjukkan terciptanya manusia dalam bentuk terbaik adalah realitas di mana Allah mengukir dalam diri manusia sifat-sifat yang menjadikan manusia mengingat sifat-sifat Allah dan membuatnya semestinya selalu mengingat-Nya; Allah Menjadikan manusia sebagai makhluk yang Alim, memiliki ilmu dan Muriid, mempunyai kehendak dan keinginan dan sebagainya.]

Wallahu A’lam.

[1]H.R. at-Turmudzi no: 1998, Kitab al-Birr wash-Shilah, bab (61) Maa Jaa’a fil Kibri

[2]H.R. at-Turmudzi no: 1999