DINASTI AL-MURABITHUN (448H/1056M-541H/1147M)

Oleh : Bahtiar HS

Pimred Majalah alHaromain

Pasca terpecahnya Daulah Umayyah di Andalusia di bawah khalifah Hisyam III menjadi 20 kerajaan kecil, yang disebut sejarawan sebagai masa Al-Muluk al-Thawaif (Raja Golongan), seperti di Toledo, Sevilla, Malaga, dan Granada pada 1031M, maka muncullah kekuatan-kekuatan lain di panggung sejarah. Kekuatan baru itu bangkit di Afrika Utara. Apalagi semenjak Daulah Fathimiyah dipegang oleh khalifah Abu Tamim Ma’ad al-Mustanshir Billah (1036-1094M) yang masih berumur 11 tahun, beberapa wilayah termasuk kota-kota di Afrika melepaskan diri dari kekuasaan Daulah Fathimiyah yang berpusat di Mesir.

Salah satu kekuatan yang muncul di Afrika Utara pada masa ini adalah DinastiAl-Murabithun di wilayah Maghribi. Dinamakan Al-Murabithun karena mereka biasa tinggal di “ribath” (semacam madrasah) yang dibangun di penghujung sungai Sinegal. Mereka disebut juga dengan Al-Mulassimun (orang-orang yang bercadar), karena mereka menyebarkan Islam dengan penuh semangat dan biasa menutup kepala mereka (bercadar) untuk menghindari panasnya matahari. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka disebut Al-Murabithun karena ibukota Maghribi di mana mereka tinggal bernama kota “Rabath”.

Al-Murabithun berasal dari bahasa Arab”murabith” yang dalam bahasa Perancis disebut “marabout”.Kata itu bermakna mengikat, menyimpulkan, memasang, melekatkan, mengaitkan, dan menambatkan. Seorang Marabout atau Murabith adalah orang yang terikat, tertambat kepada Tuhan, bagaikan seekor unta yang diikat pada tiang tambatan, atau kapal yang ditambat di dermaga. Al-Murabithun juga berasal dari sebuah akar kata Al-Qur’an “ra-ba-tha” yang merujuk pada tehnik pertempuran jarak dekat dengan pasukan infantri di barisan depan dan pasukan berunta dan berkuda pada barisan belakang. Model peperangan ini
lazim digunakan masyarakat Berber. Jadi, Al-Murabithun bermakna orang-orang yang terjun ke medan perang suci sebagaimana yang diisyaratkan al-Qur’an pada Q.S. al-Anfal: 60,

وَأَعِدّوا لَهُم مَا استَطَعتُم مِن قُوَّةٍ وَمِن رِباطِ الخَيلِ تُرهِبونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُم وَآخَرينَ مِن دونِهِم لا تَعلَمونَهُمُ اللَّهُ يَعلَمُهُم

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.”

***

Al-Murabithun berasal dari suku Lamtunah, bagian dari cabang suku Shanhajah dari Barbar. Gerakan ini dipelopori Yahya bin Ibrahim Al-Jaddali, salah seorang kepala suku Lamtunah. Gerakan ini dimulai sekembalinya Yahya bin Ibrahim dari perjalanan ibadah haji di mana ia berjumpa dengan seorang alim bernama Abdullah bin Yasin Al-Jazuli. Yahya bin Ibrahim meminta dengan kesungguhan hati agar Abdullah bin Yasin bersedia datang ke tempat tinggalnya dan mengajarkan ilmu agama yang benar kepada penduduk. Akhirnya mereka pergi ke tempat kelahiran Yahya bin Ibrahim. Namun sayang, dakwah yang disampaikan Abdullah bin Yasin tidak mendapat banyak sambutan – karena terlalu keras, kecuali dari keluarga Yahya bin Ibrahim, Yahya bin Umar dan keluarga adiknya Abu Bakar bin Umar. Melihat kegagalan itu, Abdullah bin Yasin akhirnya mengajak beberapa orang pengikutnya pergi ke sebuah pulau di Sinegal.

Orang-orang Berber yang berpandangan luas menyesali tindakan mereka terhadap Abdullah bin Yasin.Mereka datang meminta maaf serta menyatakan bersedia melaksanakan ajaran-ajarannya.Mereka lalu bersama-sama mendirikan ribath, semacam madrasah, di hulu sungai Sinegal sebagai pusat penggemblengan pengikut mereka. Orang–orang yang bergabung dengan kelompok Abdullah bin Yasin dan Yahya bin Ibrahim semakin bertambah banyak. Ketika jumlah pengikutnya mencapai seribu orang, Abdullah bin Yasin memerintahkan untuk menyebarkan ajaran mereka keluar ribath dan memberantas berbagai penyimpangan ajaran agama. Sasaran usaha kelompok ribath ini tidak hanya individu, tetapi juga para penguasa yang memungut pajak terlalu tinggi tanpa ada distribusi yang jelas kepada masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya ketika pengikut mereka semakin bertambah banyak, mereka pun mulai memasuki wilayah politik militer dan kekuasaan.Untuk kepentingan itu, Yahya bin Umar diangkat menjadi panglima militer. Kelompok ini kemudian melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Sahara Afrika dan menaklukan penduduknya. Penguasa Sijilmash bernama Mas’ud bin Wanuddin al-Magrawi misalnya, melakukan perlawanan sengit.Ia akhirnya gugur dalam pertempuran dan ibu kota Wadi Dar’ah direbut oleh kelompok Al-Murabithun pada tahun 1055M.

Setelah Yahya bin Umar meninggal pada tahun 1056M, tampuk kekuasaan Al-Murabithun diambil alih oleh adiknya yang bernama Abu Bakar bin Umar dan kemenakannya bernama Yusuf bin Tasyfin. Abdullah bin Yasin pun meninggal pada tahun 1059 M dalam suatu pertempuran di Samudera Atlantik. Sepeninggal Abdullah bin Yasin, tampuk kekuasaan dan wilayah-wilayah kekuasaan kaum ribath diambil alih oleh Abu Bakar dan Yusuf bin Tasyfin.

Ketika terjadi konflik di antara suku-suku yang ditinggalkannya di bagian utara, keduanya berpisah. Abu Bakar kembali ke Sahara untuk mengembalikan keamanan dan ketertiban. Sementara Yusuf bin Tasyfin melanjutkan usaha penaklukannya ke wilayah Utara. Usaha keduanya berhasil dengan baik. Ketika Abu Bakar pergi ke Sudan,ia meninggal di tempat tersebut. Tinggallah kini Yusuf bin Tasyfin memimpin Dinasti Al-Murabithun.

Yusuf bin Tasfin lalu membangun kota Marrakech dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya. Ekspansi wilayah masih terus dilanjutkan dan bahkan sampai ke Aljazair. Ia menganggkat pejabat dari kalangan Al-Murabithun untuk menduduki jabatan gubernur pada wilayah taklukan, sementara ia memerintah di Maroko. Bahkan Yusuf bin Tasyfin berhasil menyeberang ke Andalusia.

Ia berangkat ke Andalusia atas undangan Amir Cordoba, Al-Mu’tamid bin Abbas, yang terancam kekuasaannya oleh raja Alfonso VI (raja Leon Castelia). Yusuf bin Tasyfin mendapat dukungan penuh dari al-Muluk al-Thawaif Andalusia. Demikianlah, dalam sebuah pertempuran besar di Zallakah pada 12 Rajab 479 H/23 Oktober 1086M, ia berhasil mengalahkan raja Alfonso VI serta merebut kota Granada dan Malaga. Mulai saat itulah, Yusuf bin Tasyfin memakai gelar Amir al-Mukminin. Pada akhirnya ia juga berhasil menaklukan al-Muluk al-Thawaif dan menggabungkan wilayah Andalusia ke dalam kerajaan yang dibangunnya.Yusuf bahkan juga berhasil menaklukkan Almeria, Badajoz, Saragosa, dan pulau Balearic.

Yusuf bin Tasfin wafat dalam usia seratus tahun pada 1106M. Pada waktu itu, kekuasaannya telah sampai ke Liberia Selatan termasuk Valencia dan Afrika Utara, dari kepulauan Atlantik sampai dengan Aljazair. Anaknya yang bernama Ali bin Yusuf bin Tasyfin kemudian melanjutkan dinasti Al-Murabithun.

***

Dinasti Al-Murabithun memegang tampuk kekuasaan selama sembilan puluh tahun dengan melahirkanenam orang penguasa sejak Abu Bakar bin Umar (1056-1061M), Yusuf bin Tasfin (1061-1107M), hingga terakhir Ishak bin Ali (1147M).

Pada masa Dinasti Al-Murabithun inilahir ilmuwan dan filosof seperti Ibnu Bajjah,Ibnu Thufail, dan Ibnu Rusyd. Sains pun berkembang pesat, terutama di Cordoba, seperti kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia, dan lain-lain. Abbas bin Farmas, sang ahli kimia dan astronomi satu di antaranya. Abbas adalah orang yang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ada nama Ibrahim bin Yahya Al-Naqqash yang terkenal dalam astronomi dengan keberhasilan riset yang dilakukannya dalam menentukan beberapa lama terjadinya gerhana matahari. Di samping itu, ia juga berhasil membuat teropong bintang modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ada pula Ahmad bin Abbas dari Cardoba yang ahli dalam bidang obat-obatan, Ummul Hasan bin Ja’far dan saudara perempuannya Al-Hafidz yang ahli kedokteran dari kalangan wanita.

Dinasti Al-Murabithun merupakan yang pertama membuat uang dinar memakai huruf Arab dengan tulisan Amir al-Mukminun dibagian depannya. Ia mencontoh uang Abbasyiah yang bertuliskan kalimat iman di belakangnya.

Namun sayang, perubahan sikap mental karena kemewahan yang berlebihan menjadi awal penyebab kemunduran dinasti ini. Dari yang semula keras dalam kehidupan Sahara menjadi lemah lembut dalam gemerlap Cordoba. Dan memang pengganti Yusuf bin Tasyfin adalah pemimpin-pemimpin yang lemah. Di samping itu, para ulamanya sering mengkafirkan orang lain dan menindas orang-orang non Muslim.

Tak ayal, beberapa kesultanan Muluk al-Thawaif Andalusia menolak otoritasnya. Demikian juga masyarakat non muslim-nya. DiMaroko, sebuah gerakan keagamaan bernama Al-Muwahidun mulai mengingkari Dinasti Al-Murabithun. Gerakan Al-Muwahidun inilah yang pada akhirnya mengalahkan Dinasti Al-Murabithun.Dipimpin oleh Abdul Mukmin, mereka menaklukkan Marokko pada tahun 1147M, ditandai dengan terbunuhnya Penguasa Al-Murabithun yang terakhir, Ishak bin Ali.

[]