Dinasti Al-Muwahhidun (1121 M/515 H –1269 M/663 H)

Oleh: Bahtiar HS

Wilayah Kekuasaan alMuwahhidun

*Wilayah kekuasaan alMuwahhidun

Selalu saja kemewahan yang berlebihan menjadi sebab runtuhnya sebuah kejayaan. Perubahan sikap mental yang demikian juga menjadi awal penyebab kemunduran Dinasti Al-Murabithun. Dari yang semula keras dalam kehidupan Sahara menjadi lemah lembut dalam gemerlap Cordoba. Apalagi pengganti khalifah Yusuf bin Tasyfin memang kurang cakap dalam memimpin. Beberapa kesultanan Muluk al-Thawaif Andalusia menolak otoritasnya. Masyarakat non muslim-nya demikian pula.Dan diMaroko, sebuah gerakan keagamaan lain mulai menggeserkeberadaan Al-Murabithun.

Adalah Ibnu Thumart yang mula-mula memelopori kelompok baru ini. Tokoh Berber dari suku Masmuda ini seorang penganut Asy’ariyah yang hanya mengakui al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber hukum dan tidak mengakui otoritas madzhab fikih. Ia seorang yang suka berkelana untuk mencari ilmu. Pernah pergi ke Cordoba di Barat mempelajari pemikiran Ibnu Hazm al-Andalusi. Pernah pula pergi ke Timur, ke kota Baghdad, dan belajar di madrasah Nizhamiyah yang kesohor itu di bawah bimbingan Imam al-Ghazali. Ia lalu pergi ke Mekkah, belajar ke beberapa ulama sufi hingga dirinya menjadi sufi.Ketika kembali ke Afrika Utara, ia juga sempatkan diri berguru kepada Abu Bakar at-Thurthsyi.Dan dalam perjalanan menuju Maghribi, ia bertemu dengan seorang alim bernama Abdul Mu’min bin Ali dan merasa cocok satu sama lain. Keduanya lantas menuju Marakech, ibukota al-Murahithun dan memulai debut dakwahnya.

***

Prinsip dakwah Ibnu Thumart adalah pemurnian tauhid dari anasir-anasir yang mengotorinya. Karena itu, kelompok ini disebut Al-Muwahhidun atau kelompok orang-orang yang mewahidkanAllah. Mengesakan Allah. Mereka memerangi paham tajsim yang saat itu berkembang di Afrika Utara yang menganggap Tuhan itu mempunyai bentuk jasmaniah, punya tangan, kaki, wajah, dan sebagainya seperti jamaknya jasmaniah manusia. Menurut Ibnu Thumart, paham tajasum itu identik dengan syirik dan orang yang berpaham tajasum jatuh ke dalam kemusyrikan. Ia juga memberantas bid’ah dan khurafat di masyarakat saat itu. Hanya saja, sikap dia yang keras dalam berdakwah membuatnya tidak disenangi penduduk di ibukota al-Murabithun itu.Masih beruntung sultan Ali bin Yusuf bin Tasyfin hanya mengusir dia beserta pengikutnya keluar dari Marakech.

Ibnu Thumart lantas tinggal di Tinmallal dan membangun dakwahnya di kota ini. Dakwahnya ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari suku-suku Berber seperti suku Harrabah, Hantamah, Jadniwah, dan Jansifah. Kelompok yang pada mulanya murni untuk menegakkan tauhid itu kemudian berkembang ke ranah politik. Ini setelah al-Muwahhidun memiliki pengikut yang semakin banyak dan sambutan yang meluas, sementara di sisi lain, Dinasti Al-Murabithun mulai menunjukkan kemundurannya. Ibnu Thumart lantas memproklamirkan dirinya sebagai al-Mahdi pada 515 H / 1121 M.

Mulailah Ibnu Thumart meluaskan wilayahnya. Beberapa suku Berber yang menolak bergabung dengannya ia perangi. Ketika semakin kuat, maka pada 524 H / 1129 M, Ibnu Thumart berikut 40 ribu pasukan di bawah panglima Abu Muhammad al-Basyir al-Wansyarisi menyerang Marakech, ibukota Al-Murabithun. Peperangan ini dinamakan Perang Buhaira. Namun sialnya, Al-Muwahhidun mengalami kekalahan besar pada peperangan ini. Banyak pasukannya terbunuh, termasuk Ibnu Thumart sendiri.

***

Sepeninggal Ibnu Thumart, sahabatnya, Abdul Mu’min bin Ali dibaiat menggantikannya. Ia seorang yang paling dekat dengan Ibnu Thumart, alim, berpengetahuan luas, tegas, dan seorang panglima yang cakap. Terbukti ketika kemudian di bawah kepemimpinan Abdul Mu’min, Al-Muwahhidun mencapai keberhasilan demi keberhasilan.

Hanya dua tahun kemudian, pada 526 H, mereka berhasil menguasai wilayah Nadla, Dir’ah, Taigar, Fazar, dan Giyasah. Tahun 534 H, Abdul Mu’min menyerang kubu-kubu pertahanan Al-Murabithun. Fez, kota terbesar setelah Marakech, ditaklukkan pada 540 H. Dan setahun kemudian, pada 541 H/1147 M Marakech pun bisa direbut oleh Abdul Mu’min dan pasukannya. Khalifah Ishak bin Ali, penguasa terakhir Al-Murabithun pun terbunuh, sehingga hal ini menandai runtuhnya Dinasti Al-Murabithun.

Abdul Mu’min pun memindahkan ibukotanya dari Tinmallal ke Marakech dan mulailah ekspansi ke berbagai wilayah dilakukan. Aljazair berhasil dikuasai pada 1152 M. Seluruh Ifriqiyya (Tunisia) dikuasai pada 1158 M. Demikian juga Tripoli (Italia) dikuasai 2 tahun kemudian. Kini wilayah kekuasaan Al-Muwahhidun terbentang dari Tripoli hingga samudera Atlantik.

Tidak itu saja. Abdul Mu’min berencana merebut kembali wilayah-wilayah Al-Andalusia yang kini di bawah penguasa Kristen. Pada 1163 M, ia mempersiapkan pasukan dengan armada yang besar dan tangguh, memesan 400 kapal perang, dan bersiap merebut tidak saja Al-Andalusia, melainkan juga kepulauan Balearik; sebuah basis musuh para pembajak kapal-kapal Muslim di Laut Tengah. Namun, Abdul Mu’min keburu wafat pada tahun itu sebelum cita-citanya terwujud.

***

Putranya, Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mu’min, tampil menggantikannya. Semangat jihadnya sama dengan ayahnya. Ia pun meneruskan cita-cita menaklukkan Andalusia hingga pada 1169 M, pasukan Al-Muwahhidun di bawah panglima Abu Hafs berhasil merebut kota Toledo di Andalusia. Khalifah pun menetap di Sevilla, Andalusia. Pada penyerangan kedua tahun 1184 M, Abu Ya’kub Yusuf memimpin sendiri pasukannya dan berhasil menduduki wilayah Syantarin dan Lisabon. Namun pada penaklukan Lisabon, khalifah abu Ya’kub Yusuf terluka parah hingga menemui ajalnya.

Ia lalu digantikan oleh anaknya bernama Abu Yusuf Ya’kub bin Abu Ya’kub Yusuf yang digelari al-Manshur Billah (“yang menang karena Allah”). Memang, beberapa pemberontakan dari kalangan Muslim dan Kristen terjadi pada masanya,tetapi bisa diatasinya. Raja Alfonso VIII, penguasa kerajaan Kristen Castille Spanyol bahkan terpaksa harus menerima perjanjian dengan Abu Yusuf. Ketika Raja Alfonso VIII memberontak kembali pada 1195 M dengan mengerahkan pasukan yang besar, Abu Yusuf al-Manshur memimpin sendiri pasukan Al-Muwahhidun dan memporak-porandakan pasukan Raja Alfonso pada pertempuran Alarkos. Berbagai sumber menyebut korban di pihak Alfonso tak kurang 250 ribu pasukan terdiri dari para ksatria, uskup, dan bangsawan terbunuh, sehingga pertempuran ini disebut Bencana Alarkos oleh pihak Kristen.

Dalam dua tahun kemudian, pasukan Abu Yusuf al-Manshur mengalahkan pasukan Castella di Extremadura, lembah Tagus, La Mancha, Montanchez, Trujillo, Plasencia, Talavera, Escalona, dan Maqueda. Bahkan pasukan Al-Muwahhidun bisa maju sampai ke Madrid dan Guadalajara.

***

Andalusia mencapai puncak kejayaan peradaban Islam baik ekonomi, politik, maupun ilmu pengetahuan pada masa Al-Muwahhidun ini. Wilayahnya terbentang dari kepulauan Atlantik di Barat, Andalusia, hingga Teluk Gebes di Mesir. Mereka berhasil menjalin perjanjian perdagangan dengan Pisa, Marseie, Voince, dan Sycilia di Italia. Karya-karya arsitekturnya mengemuka, seperti Giralda, menara pada masjid Jami’ Sevilla, Babul Aquwnaow dan Al-Kutubiyah, menara megah di Marakiyah, dan menara Hasan di Rabbath.

Banyak ulama ilmuwan hidup pada masa Al-Muwahhidun. Sebutlah beberapa nama seperti Al-Hafizh Abu Bakr bin al-Jad (ahli fikih), Ibnu al-Zuhr (ahli kedokteran), Ibrahim bin Malik bin Mulkun (ahli al-Qur’an dan Nahwu), Ibnu Bajjah (filosof, fisikawan, dokter, musisi, penulis kitabTadbir al-Mutawahhid), Ibnu Thufail (filosof, dokter, ahli geografi, penyair, penulis kitab Hayy bin Yaqzhan), dan Ibnu Rusyd (filosof, dokter, matematikawan, ahli fikih, astronom, terkenal sebagai Averoes di Barat).

***

Setelah Al-Muwahhidun dipegang oleh Muhammad ibn an-Nashir selepas Abu Yusuf al-Manshur wafat pada 1199 M, mulailah terbetik kemunduran dinasti ini. An-Nashir baru berusia 17 tahun saat tampil memimpin, sehingga ia banyak dipengaruhi oleh menteri-menterinya. Kontrol terhadap pemerintahan pun melemah, sehingga hal itu dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya. Meski setelah An-Nashir Dinasti Al-Muwahhidun masih diperintah oleh 7 orang khalifah, tetapi keadaan terus memburuk. Disintegrasi terjadi di mana-mana seperti munculnya Yaghamrazan ibn Zayyan di Tlemen yang mendirikan kerajaan Abd al-Wadiyyah yang merdeka di Maghrib dan Gubernur Ifriqiyya, Abu Zakariya memerdekakan diri dari Al-Muwahhidun.

Di sisi lain, penguasa Kristen di Andalusia bangkit pasca perang Salib dikalahkan Shalahuddin. Raja Alfonso IX, penguasa Castille, berhasil menggalang kekuatan dan menyerang Andalusia kembali. Cordoba jatuh ke tangan mereka pada 1238 M. Lalu Sevilla juga dikuasai pada 1248 M sehingga khalifah Al-Muwahhidun menarik diri dari Andalusia dan kembali ke Maroko.

Demikianlah, Dinasti Al-Muwahhidun pada akhirnya dikalahkan oleh Dinasti Marawiyah dengan jatuhnya kota Maroko pada 1269 M setelah berjaya tak kurang dari satu setengah abad di blantika peradaban Islam khususnya di Afrika Utara dan Andalusia.

[]

Disarikan dari berbagai sumber oleh Bahtiar HS.