Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Dinasti Mamalik (1250-1517 M/648-923 H) | LAZIS AL HAROMAIN

Dinasti Mamalik (1250-1517 M/648-923 H)

Ketika pasukan salib di bawah pimpinan Raja Louis IX dari Perancis sudah mendekati tembok kota Kairo dan hendak menginvasi Mesir dalam Perang Salib ke-7, Sultan al-Malik al-Salih wafat. Hari itu 22 November 1249M. Pada situasi genting itulah, istrinya, Syajar ad-Durdengan cekatan segera memerintahkan untuk merahasiakan kematian sultan, menulis surat-surat perintah diatasnamakan sultan, dan mengorganisasi perlawanan dari berbagai emir di wilayah itu, termasuk kemudian memimpin siasat untuk membantai pasukan Salib di Manshuriah dan juga menghabisi mereka dalam PerangFariskur.

Sultan Malik al-Salih digantikan oleh anaknya, al-Malik al-Muazham Ghayatsuddin Turansyah. Namun, tentara budak yang telah direkrut dan dibina ayahnya (disebut mamluk atau mamalik, yang artinya para budak) yang telah berjibaku membantu menyingkirkan pasukan Salib merasa kecewa dan terancam, karena Turansyah lebih dekat dengan tentara asal Kurdi. Ia bahkan mengancam menghabisi mereka laksana memotong sepotong lilin. Kondisi ini mendorong para mamluk, dipimpin Izzuddin Aybak, Baibars, dan Saifuddin Qutuz melakukan kudeta.Hal itu didukung oleh Shajar ad-Dur, karena istri Malik al-Shalih ini pun berasal dari budak.

Demikianlah mereka berhasil membunuh Turansyah dalam sebuah perjamuan pada 2 Mei 1250M. Syajar ad-Durr mengambil kendali pemerintahan sesuai dengan kesepakatan dengan para mamluk. Ia menjadi sultanat pertama dalam sejarah Mesir dengan sebutan al-Malikah ‘Asmat ad-Din Ummu Khalil Syajar ad-Dur. Namun, ia kurang mendapat dukungan dari penguasa Ayyubiyah yang tersisa di Damaskus dan juga khalifah Abbasiyah di Baghdad karena dirinya perempuan. Karena itu, ia kemudian rela menikah dengan Izzudin Aybak danmenyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanyaketika baru memerintah 80 hari, sambil berharap dapat terus berkuasa di belakang layar.

Setelah lima hari dinobatkan sebagai sultan baru Dinasti Ayyubiyah menggantikan Turansyah, Aybak mengangkat seorang Ayyubiyah bernama Mudzafar al-Din Musa yang masih berumur 11 tahun sebagai ”Sultan Syar’i” (formal).Sementara dirinya menjadi perdana menteri (Atabeg), tapi bertindak sebagai penguasa yang sebenarnya. Hal ini untuk menyenangkan khalifah Abbasiyah dan juga keluarga Ayyubiyah. Tetapi ternyata pasukan Ayyubiyah tetap menyerang Mesir. Karena itu,Musa akhirnya dihabisipula oleh Aybak. Dengan demikian, berakhirlahriwayat dinasti Ayyubiyah di Mesir dan mulailah babak baru dinasti para budak, yang oleh sejarawan disebutDinasti Mamalikdengan Aybak sebagai penguasa pertamanya bergelar al-Malik al-Mu’iz Izzuddin Aybak at-Turkmani al-Jasyankir al-Salihi.

***

Sultan Aybak berkuasa selama tujuh tahun saja (1250-1257 M). Ia meninggal di tangan Syajar ad-Dur, istrinya sendiri, dibantu budak-budaknya karena berbagai hal. Salah satunya, Aybak ingin menikahi putri Emir Mousul, Badaruddin Lulu’ untuk memperkuat dirinya yang tengah bersengketa dengan banyak pihak, utamanya Baybars. Atas peristiwa itu, Syajar ad-Dur dan para budaknya dieksekusi.

Setelah Aybak meninggal, ia digantikan oleh anaknya, Nurudin Ali yang masih berusia muda sebagai sultan Mamalik yang baru dengan Qutuz sebagai wakil. Ia bergelar al-Malik al-Manshur. Pada masanya, khalifah Abbasiyah di Baghdad dihancurleburkan oleh pasukan Hulagu Khan dari Mongol. Sultan Ali kemudian mengundurkan diri pada 1259 M dan digantikan oleh wakilnya, Saifuddin Qutuz, bergelar al-Malik al-Mudhaffar. Pada masa awal 1260 M tersebut, Mesir pun terancam serangan bangsa Mongol yang sudah berhasil menduduki hampir seluruh dunia Islam, termasuk Damaskus.

Hulagu mengirim 5 orang utusan menghadap Qutuzdisertai surat ancaman. Jawaban Qutuz sungguh sangat berani. Empat dari lima utusan Hulagu dipenggal dan kepalanya digantung di Babul Zuwaila. Sementara seorang dibiarkan kembali. Tak ayal, Hulagu segera mengirim 20 ribu pasukan di bawah panglima Kitbukha Nouyan ke Mesir. Sultan Saifuddin Qutus juga memobilisir pasukan tak kalah jumlah. Ia juga merangkul Baybars untuk bergabung menghadapi Mongol.Kedua tentara bertemu di Ayn Jalut dekat Palestina di mana pada tanggal 13 September 1260 M, tentara Mamalik di bawah pimpinan Qutuz dan Baybars berhasil menghancurkan pasukan Mongol tanpa seorang pun tersisa. Kitbukha yang tak mau menyerah pun dipenggal kepalanya oleh Baybars.

Kemenangan atas tentara Mongol ini membuat kekuasaan Mamalik di Mesir menjadi tumpuan harapan umat Islam di sekitarnya. Penguasa-penguasa di Syria segera menyatakan setia kepada penguasa Mamalik . Pada perjalanan pulang dari Damaskus menuju ke Mesir, di daerah antara Ghazaliyah dan Shalihiyah, Qutuz terbunuh. Baybars terindikasi terlibat, karena Qutuz ingkar janji tidak mengangkat Baybars sebagai Gubernur di Aleppo. Kini Baybars menjadi Sultan Mamalik bergelar al-Malik azh-Zhahir Ruknuddin Baybars al-Bunduqdari. Dialah sultan terbesar dan termasyhur diantara Sultan Mamalik lainnya. Ia pula yang dipandang sebagai pembangun hakiki dinasti Mamalik.

***

Sultan Baybars mengangkat kelompok militer sebagai elit politik untuk menjalankan pemerintahan di dalam negeri. Pada masanya, tak ada lagi tokoh mamluk yang lebih senior. Ia juga membaiat keturunan Bani Abbas yang berhasil meloloskan diri dari serangan bangsa Mongol 1258 Msebagai khalifah, yakni khalifah al-Mustanshir. Dengan demikian, khilafah Abbasiyahberhasil dipertahankan oleh dinasti Mamalik ini di Mesir. Pada masanya pula, tentara Salib di sepanjang Laut Tengah berhasil dilumpuhkan. Demikian juga kelompok Assasin di pegunungan Syria serta serangan kapal-kapal Mongol di Anatolia.

Baybars juga membangun jaringan transportasi dan komunikasi antar kota, baik laut maupun darat. Ia membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Italia melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh dinasti Fathimiyah di Mesir sebelumnya. Kini Kairo menjadi jalur perdagangan antara Asia dan Eropa yang lebih penting karena menghubungkan jalur perdagangan Laut Merah dan Laut Tengah dengan Eropa. Hasil pertanian pun meningkat.

Mesir juga menjadi tempat mengabdi para ilmuwan asal Baghdad setelah hancur. Karena itu, ilmu pengetahuan berkembang pesat di Mesir. Banyak ilmuwan lahir pada masa Mamalik seperti Ibn Khalikan, ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun (ilmu sejarah), Nasir al-Din al-Tusi (astronomi), Abu al-Faraj al-‘Ibry (matematika), Abu al-Hasan ‘Ali al-Nafis (kedokteran), Abd al-Mun’im al-Dimyathi (kedokteran hewan), al-Razi (psikoterapi), dan Salahuddin ibn Yusuf (opthalmologi). Juga dalam bidang ilmu keagamaan ada Ibn Taimiyah, al-Suyuthi, Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Thufi, Izzuddin bin Abdi Salam, dan lain-lain.

Dalam bidang arsitektur,banyak arsitek didatangkan ke Mesir untuk membangun sekolah-sekolah, masjid-masjid yang indah, rumah sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah, dan menara masjid. Di era ini arsitektur Muslim mencapai ekspresi yang paling kaya ornament. Terbukti pada sejumlah masjid, madrasah, museum yang didirikan oleh Sultan Qollawun, al-Nashir, dan al-Hasan. Sebut saja Masjid al-Hasan yang berada persis dibelakang benteng Sholahuddin. Di dalam masjid ini terdapat empat madrasah yang dahulunya digunakan untuk pengajaran empat madzhab fiqh. Juga Masjid Mu’ayyad berdampingan dengan Babul Zuwayla dan dikenal dengan Masjid Merah yangdibangun Sultan Muayyad (1415-1420M).

Dalam sejarah politik Islam,pemerintahan dinasti ini bersifat oligarki militer, kecuali dalam waktu yang singkat ketika Sultan Qollawun (1280-1290 M) menerapkan pergantian sultan secara turun temurun. Ini termasuk sistem pemerintahan baru. Sistem ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir di manakedudukan amir menjadi sangat penting. Mereka berkompetisi dalam prestasi, karena kelak menjadi kandidat sultan.

Dinasti Mamalik juga memproduksi buku mengenai ilmu militer yang berkembang pesat. Layanan pos di era ini tak hanya sekadar pengantar pesan,melainkan alat pertahanan. Para insinyur Mamluk membangun menara pengawas di sepanjang rute pos Irak hingga Mesir yang dijaga 24 jam. Jika bahaya mengancam di siang hari, petugas akan membakar kayu basah yang dapat mengepulkan asap hitam. Sedangkan di malam hari, petugas akan membakar kayu kering. Hanya dalam waktu delapan jam, berita pasukan Mongol akan menyerbu Kairo sudah diperoleh pasukan tentara Muslim. Berkat informasi berantai dari menara pengawas itu, pasukan Mamluk mampu memukul mundur tentara Mongol yang akan menginvasi Kairo. Ketika layanan pos ini diblokir pasukan Salib, Dinasti Mamalik mulai menggunakan merpati pos untuk pengantar pesan.Pasukan Salib tak dapat mencegah masuknya pesan dari Kairo ke Irak. Apalagi merpati pos mampu mengantarkan surat dari Kairo ke Baghdad dalam waktu dua hari. Sejak itu, peradaban Barat juga mulai meniru layanan pos dengan merpati seperti yang digunakan penguasa Dinasti Mamluk. Pada masa itu, sepasang burung merpati pos harganya mencapai 1.000 keping emas. Layanan merpati pos ala Dinasti Mamalik itu tercatat sebagai sistem komunikasi yang tercepat di abad pertengahan. Kemajuan-kemajuan itu tercapai berkat kepribadian dan wibawa Sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat, dan stabilitas negara yang aman dari gangguan.

***

Kesultanan Mamalik mulai menunjukan kelemahan sejak pemerintahan beralih dari Mamalik Bahriyah ke tangan Mamalik Burjiyah (yang dibina di al-burj atau benteng) pada tahun 1382 M. Akan tetapi, bibit-bibit keruntuhan itu telah nampak sejak sultan terkuat terakhir Mamalik Bahriyah, yaitu al-Nashir. Ia pernah berkuasa tiga kali dengan rentang waktu yang cukup panjang, tetapi dengan gaya hidup yang tinggi. Akibatnya, rakyat yang harus membayar pajak yang lebih tinggi dan menjadi salah satu sebab runtuhnya dinasti ini. Setelah al-Nashir wafat, perang sipil dan wabah kelaparan menambah kesengsaraan penduduk. Bahkan wabah “kematian hitam” yang pernah menyerang Eropa sekitar 1348-1349sempat melanda Mesir selama tujuh tahun dan memakan korban 900.000 orang.

Penguasa terakhir dinasti Mamluk Bahri, al-Shalih Hajji ibn Sya’ban (1381-1390M) hanyalah seorang anak kecil.Setelah dua tahun memerintah, kekuasaannya diselingi oleh sultan lain, dan kemudian diakhiri oleh Barquq dari Circassius. Dialah pendiri Dinasti Mamluk Burji. Tetapi hanya Barquq yang terkuat dari sultan Mamalik Burjiyah. Banyak sultan yang tidak menyukai ilmu pengetahuan, bahkan sultan Barquq, Inal, dan Bilbay buta huruf. Yalbay, sultan keenam belas dari Mamluk Burji bukan hanya buta huruf tetapi juga gila. Moral mereka rendah, cinta kemewahan, dan hobi berfoya-foya. Dari begitu banyak sultan yang berkuasa selama 134 tahun, hanya Barquq yang mempunyai ayah seorang muslim.

Dinasti ini secara keseluruhan dibagi menjadi dua periode.Periode Mamluk Bahri (1250-1389 M)dengan 24 sultan dan periode Mamluk Burji (1389-1517 M) dengan 23 sultan. Namun korupsi, permusuhan antar kelompok, kemarau panjang, pertanian terhambat, juga beralihnya pusat perdagangan dari Kairo ke Tanjung Harapan menjadi sebagian sebab melemahnya kekuasaan Dinasti Mamalik. Di sisi lain, sebuah dinasti baru siap lahir. Dialah Turki Utsmani yang terus berkembang. Dan memang demikianlah, sejarah dinasti Mamalik ini berakhir pada tahun 1517 M ketika dikalahkan oleh Turki Usmani, yang sebelumnya menaklukkan khalifah al-Mutawakkil dari Dinasti Abbasiyah di Mesir.

***

Disarikan oleh Bahtiar HS dari berbagai sumber dengan berbagai versi.