Fadhilah Cinta dan Benci Karena Allah

Fadhilah Cinta dan Benci Karena Allah

Oleh: Ust. Abdul Fatah

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَن َاَنَس َرِضَي اللُه عْنه عَنِ النبي صلى الله عليه وسلم قال :َ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْماَنِ :مَنْ كاَنَ اللهُ وَرسُولُ اللهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُماَ,وَاَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ اِلاَّ ِللهِ (وَفِى رِوَايَةٍ اُخْرَى,وَمَنْ اَحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ اِلاَّ ِللهِ ) ,وَمَنْ يَكْرَهُ اَنْ يَعُوْدَ اِلىَ الْكُفْرِ بَعْدَ اَنْ قَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَماَ يَكْرَهُ اَنْ يَقْذِ فَ فىِ الناَّ رِ  (رَوَاه البخارى ومسلم والنساءى )

Artinya: Dari Anas Rhodiyallohu anh  dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tiga hal yang barang siapa memilikinya, maka akan merasakan manisnya iman. Barang siapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya yang melebihi dari selain keduanya, dan seseorang yang mencintai orang lain (di mana) ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan seseorang yang benci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan dari kekafiran itu, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (H.R. Al-Bukhari no. 7, Muslim 1: 49, an-Nasa’i no. 206)

Keterangan:

Setiap manusia dalam kehidupan ini pasti punya naluri/kecendrungan ingin mencintai dan dicintai secara umum siapapun orangnya, apapun agamanya, dan apapun status sosialnya. Semuanya itu pasti dimiliki setiap insan, bahkan setiap makhluk yang bernyawa.

Akan tetapi Islam memiliki syari’at yang mengajarkan dan mentarbiyah tentang mencintai yang memberikan manfaat, mendatangkan kemaslahatan, mencintai yang punya makna yang sangat mendalam dalam kehidupan ber’aqidah, yang berkeyakinan bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah, dimintai pertolongan, dan dicintai dengan benar kecuali hanya Allah .

Hadits di atas mengandung beberapa pengertian tentang keutamaan cinta dan benci karena Allah, yang akan memperoleh anugerah yang terbesar dalam kehidupannya, yaitu mampu merasakan kelezatan iman dan manisnya beribadah. Siapakah mereka itu?

  1. Seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi dari selain keduanya.

Sebagai seorang muslim yang terbina memang seharusnya cinta kita kepada Allah dan Rasul melebihi segala-galanya, karena kita tercipta dan terlahir di muka bumi ini karena Allah yang menciptakan. Kita mampu mengenal Allah, mengetahui dan mampu membedakan antara yang haq/benar dan yang bathil/salah karena diutusnya Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam.

cinta-dan-benci-alharomain

http://www.dakwatuna.com

  1. Seseorang yang mencintai orang lain, ia tidak mencintai kecuali karena Allah semata.

Rasa cinta yang didasari karena Allah akan menjadikan si pemiliknya berada di bawah naungan ‘arsy Allah pada hari di mana tidak ada lagi naungan selain naungan ‘arsy-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain, yaitu: “Ada tujuh kelompok orang yang mendapat naungan dari Allah pada hari di mana tidak ada lagi naungan selain naungan Allah.” Rasulullah bersabda: “Di antara mereka adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu karena Allah, dan berpisah karena Allah.” (al-Hadits)

Seseorang yang benar-benar ikhlas mencintai saudaranya sesama muslim karena Allah akan memperoleh manfaat yang sangat mulia di sisi-Nya. Di antaranya adalah:

  1. Ia akan mendapatkan kedudukan/maqam di surga, di mana kedudukannya lebih tinggi dari pada orang yang dicintainya, jika orang yang dicintainya tidak memiliki rasa cinta yang sama terhadapnya.
  2. Ia mendapatkan cinta kasih Alla Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya: “Ada seorang yang datang berziarah ke rumah saudaranya di suatu desa, maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk mengikuti perjalanannya. Di tengah perjalanan, Malaikat itu menemuinya dan berkata pada orang tersebut, ‘Kamu mau pergi ke mana?’ Orang itu menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu darinya, berupa kenikmatan dunia?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintainya karena Allah.’ Malaikat berkata, ‘Aku adalah utusan Allah yang diutus untuk menemuimu dan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.’” (H.R. Muslim)
  3. Ia akan menjadi teman–teman Allah yang duduk di sebelah kiri ‘arsy di atas mimbar cahaya. Padahal mereka bukan para Nabi, tetapi membuat para Nabi dan para Syuhada’ cemburu kepadanya. Sebagaimana dalam kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya’la dengan derajad sanad hasan, bahwasanya Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Wahai manusia, dengarkan dan perhatikanlah, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mempunyai sekelompok hamba yang bukan golongan para Nabi dan bukan pula kelompok dari para Syuhada’, tetapi mereka dicemburui oleh para Nabi dan para Syuhada’ karena kedudukan dan kedekatan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Maka orang Baduwi bertanya, ”Bisakah engkau menjelaskan kepada kami, siapakah mereka sebenarnya?” Pertanyaan orang Baduwi tadi membuat Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam senang, kemudian Rasulullah menjawab, ”Mereka adalah sekelompok orang dari kabilah dan etnis yang berbeda-beda yang datang dari berbagai tempat yang jauh, mereka bukan kerabat dekat akan tetapi saling mencintai karena Allah dan saling menjamu satu sama yang lainnya, sampai di hari Kiamat nanti Allah membuatkan sebuah mimbar khusus yang terbuat dari cahaya sebagai tempat duduk mereka, hingga wajah dan pakaian mereka memancarkan cahaya; di mana mereka tidak merasa heran ketika orang-orang merasa heran. Mereka adalah kekasih-kekasih Allah yang tidak merasa takut dan tidak pula merasa sedih.
  4. Ia di surga nanti akan mempunyai kamar-kamar yang terbuat dari zabarjad (batu permata) dengan tiang-tiang yang terbuat dari yakut (batu mulia), memiliki beberapa pintu yang terbuka, memacarkan cahaya seperti bintang yang bercahaya bagaikan mutiara. (H.R. al-Bazzar dari Abu Hurairah Rhodiyallohu anh dengan derajad marfu’).

Demikianlah cinta yang benar-benar didasari oleh rasa ikhlas akan mampu membalut sesuatu yang terluka, mampu membimbing orang-orang yang lemah menjadi orang-orang yang kuat, dan memindahkan orang-orang terlambat menempati barisan terdepan, serta bisa menghiasinya dengan pakaian yang indah untuk mengubahnya dari keadaan yang buruk ke dalam yang lebih baik. Semua itu berkat adanya kesamaan dengan orang-orang yang sempurna dari kalangan orang-orang terpilih.

  1. Seorang yang benci untuk kembali kepada kekafiran setalah Allah menyelamatkannya dari kekafirannya itu, sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka.

Cinta dan benci  merupakan dua kata yang berpasangan yang artinya berlawanan. Mereka yang mendapatkan anugerah kemuliaan, yakni mampu merasakan nikmatnya iman/ibadah adalah hamba-hamba Allah yang benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan mereka dari kekafirannya, sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam api neraka.

Seorang hamba Allah yang beriman, yang menemukan manisnya iman/Laailaaha illallah akan benci dan tidak mau untuk menukar manisnya iman dengan pahitnya kekufuran, serta akan benci terhadap kekufuran karena dia tahu bahwa kekufuran adalah neraka. Siapakah yang ingin menghempaskan dirinya ke dalam neraka?

Membenci kekufuran maknanya menunaikan hak Islam dengan berpegang teguh dengannya serta menghindari prinsip-prinsip yang bertentangan dengan ajaran Islam dan hukum-hukumnya. Inilah benci karena Allah yang menyebabkan seseorang dapat merasakan nikmatnya iman.

Demikian semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu menjaga iman kita. Allaahumma Aamiin.

Wallahu a’lam bish-Shawab.

 

Referensi:

  1. Khasha’ish Al-Ummah Muhammadiyyah, Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliky Al-Hasani.
  2. Dzikrullah Durusu Fir Raqaiq Waz Zuhdi, Ibrahim Abdullah bin Saif Al-Mazru’i.
  3. Dalaailul ‘Umuri Assitati, Mufti Zainul ’Abidin Al-‘Zhamy.