Fakta Ilmiah Besarnya Peran Ibu Bagi Kelangsungan Generasi

Farida Megalini

Dokter umum/herbal keluarga

imagesKita sudah sering mendengar hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu di mana beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Terkait hadist tersebut, Imam Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, sementara seorang ayah tidak memilikinya.

Keutamaan Ibu Berdasar Fakta Ilmiah

Tugas utama ibu tersebut: hamil, melahirkan, dan menyusui serta merawat anak tentu kita semua sudah mafhum. Ia adalah sunnatullah yang Allah ciptakan menjadi fitrah seorang ibu. Seorang wanita yang tak pernah melewati dan merasakan fase-fase besar tersebut dalam hidupnya tidak akan pernah benar-benar merasa menjadi seorang ibu.

Namun demikian, ternyata ada banyak fakta ilmiah yang mendukung dan membuktikan betapa peranan ibu sangat besar dalam kaitannya dengan keberlangsungan generasi dan kehidupan ini hingga wanita mulia yang telah melahirkan kita itu layak disebut tiga kali lebih besar porsi keberbaktian kita padanya dibandingkan kepada seorang ayah. Beberapa fakta itu di antaranya terkait dengan DNA dan potensi kecerdasan yang diturunkan pada anak, pengaktifan sel otak selama dalam kandungan, proses kelahiran, molekul miRNA dalam hubungannya dengan menyusui, serta kuatnya dampak sentuhan ibu pada bayi.

Gen Ibu Menurun Lebih Besar pada Anak

Ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, Dr. Ben Hamel, faktor genetik dari ibu sangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Pengaruh yang demikian besar itu karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X, yang itu berasal dari ibu.

Hasil studi yang dipublikasikan oleh Psychology Spot menyebutkan bahwa setiap gen dalam tubuh manusia memiliki sumber yang berbeda. Gen kecerdasan berasal dari kromosom X. Sementara para ibu menyumbang 2 kromosom X, sedangkan para ayah hanya 1 kromosom X dan 1 kromosom Y. Ini berarti, seorang anak menjadi cerdas kemungkinan besarnya mendapat kecerdasannya itu dari ibunya. Bahkan meskipun ayah mewariskan gen cerdasnya, tetapi kesempatan itu sangat kecil karena gen cerdas itu gugur oleh gen cerdas ibu sehingga tidak aktif. Karena itu, ketika mengetahui seorang anak yang cerdas, maka sangat boleh jadi ibunya juga cerdas.

Hal itu juga bisa didekati dari teori lain, yakni teori mitokondria. Teori ini menyebutkan bahwa pada saat fase peleburan sel sperma dengan sel ovum (zigot), inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum. Sedangkan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum, termasuk mitokondria yang berada di sitoplasma sel ovum. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi energi tubuh yang disebut  ATP. Sifatnya semiotonom, karena 40% kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah satu-satunya bagian sel yang mempunyai DNA sendiri, selebihnya dihasilkan oleh DNA di dalam inti sel. Dan kita tahu bahwa sel ovum tentu saja berasal dari ibu dan zigot pun tertanam di rahim seorang ibu. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%.

Tentu pada perkembangannya, kecerdasan seorang anak tidak saja dipengaruhi oleh aspek nature seperti diterangkan di atas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor norture lainnya, misalnya: gizi makanan, stimulasi, dan pola asuh yang penuh kasih sayang antara orang tua dan anak, lingkungan sehari-hari, dan pendidikan. Para ahli mengatakan pengaruh faktor-faktor ini sekitar 20%.

Ibu Merupakan Madrasah Pertama Bayi Saat dalam Kandungan

Manshor H. Sukaemi dalam bukunya Anak Cerdas Anak Mulia Anak Indah (ACEMINDA) menulis bahwa perkembangan bayi yang baik semasa dalam kandungan memberi kesempatan ia lahir dengan 25% otak yang sempurna. Namun, ada kemungkinan 40% hingga 70% sel otak janin akan menghilang / mati jika tidak dikembangkan saat kandungan memasuki usia 5 – 8 bulan.

Oleh karena itu, inilah peran penting seorang ibu untuk mengaktifkan dan mengembangkan sel yang berpengaruh pada kesempurnaan otak bayi tersebut. Uncle M, panggilan akrab Manshor H. Sukaemi, mencatat ada 5 cara untuk mengaktifkan dan mengembangkan sel bayi, yakni: (1) ibu terus aktif seperti olah raga, jalan, dan shalat; (2) ibu sering kontak fisik dengan bayi, seperti mengelus-elus perutnya; (3) ibu aktif menjalin komunikasi dengan bayi; (4) ibu senantiasa gembira, senang, dan bersyukur; dan (5) ibu memperkenalkan bayi dengan suara-suara seperti bacaan Al-Qur’an, dzikir, lagu-lagu yang lembut, dan sebagainya. Diharapkan dengan demikian, sel-sel otaknya tetap aktif terjaga kesempurnaannya.

Ibu yang Melahirkan Secara Normal Alamiah

Ada satu fakta yang tak boleh dipandang sebelah mata. Anak yang dilahirkan melalui proses persalinan yang normal alamiah berpotensi lebih terjaga imunitas tubuhnya dari penyakit-penyakit infeksi maupun penyakit metabolik jangka panjang (seperti obesitas, GERD-Gastroesophageal Reflux Disease, gastritis kronis, diabetes, dan lain-lain).

Pramita G. Dwipoerwantoro dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RS Dr. Cipto Mangunkusumo menulis jurnal bahwa selama proses persalinan dan beberapa saat setelah persalinan, bayi akan terpapar dengan lingkungan patogen (penyebab penyakit) dan non patogen. Bagaimanapun, jalan lahir bayi “kaya” akan mikroorganisme patogen dan non patogen dengan spesies yang beragam namun seimbang. Sistem imun sang bayi akan “tertantang” untuk menyeimbangkan antara aktivasi sistem imun dan kemampuan toleransi / waspada terhadap serangan mikroorganisme patogen. Mekanisme ini membuat tubuh bayi menyusun pertahanan imun yang lebih kompleks, yaitu membentuk imunitas dan program-program metabolisme yang nantinya akan menjauhkan bayi dari risiko penyakit tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa penyusunan pertahanan imun yang kompleks ketika proses persalinan ini berpengaruh untuk jangka panjang bagi bayi. Mekanisme ini tentunya tidak akan diperoleh, atau bahkan “kacau” jika diintervensi dengan tindakan tidak alamiah, misalnya pemberian antibiotik yang tidak diperlukan, operasi Caesar, pemberian susu formula, dan lain-lain.

miRNA dan ASI

miRNA (microRNA) adalah molekul RNA (Ribo Nucleic Acid) berukuran kecil yang mengatur ekspresi genetik dengan cara menghambat translasi protein atau targetting miRNA cleavage. Mereka memiliki peranan penting dalam kehidupan sel makhluk hidup. Penelitian kini semakin meluas, bahkan kemudian ditemukan banyaknya miRNA yang berasal dari tanaman di dalam cairan tubuh dan darah manusia, termasuk ditemukannya miRNA ini di dalam air susu ibu (ASI).

Fakta ini menunjukkan bahwa seorang ibu yang menyusui mempunyai peranan “mentransfer” miRNA dari makanan yang dikonsumsinya kepada bayi yang disusui. Jadi bukan sekedar zat gizi seperti protein, lemak, dan lain-lain yang biasa kita ketahui; tetapi menyusui juga turut mentransfer kode genetik makanan tersebut, yang nantinya akan mempengaruhi berbagai sistem yang bekerja di dalam tubuh bayi termasuk sistem imun dan metabolisme. Di sinilah, anjuran mengkonsumsi makanan yang halal dan thayib –yang tentunya mengandung miRNA yang baik—dalam Islam menemukan justifikasinya.

Oleh karena itu, ibu-ibu menyusui disarankan untuk mengkonsumsi bahan makanan yang sehat dan “hidup” (dan tentunya halal serta thayib), untuk mentransferkan miRNA yg lebih banyak untuk memperkuat penjagaan kesehatan tubuh bayi sampai dia dewasa kelak. Selain makanan yang banyak mengandung zat-zat gizi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, ada baiknya ibu menyusui mengkonsumsi makanan/suplemen alami yang sudah diketahui sangat banyak manfaatnya, misalnya: Extra Virgin Olive Oil (minyak zaitun perasan pertama tanpa proses pemanasan), Virgin Coconut Oil (minyak kelapa murni tanpa proses pemanasan), Habbatussauda (jinten hitam), Kurma, Spirulina (ganggang biru-hijau), Alfalfa (Medicago sativa), Madu, dan lain-lain. Penulis yakin, sedikit banyak di dalam bahan alami tersebut mengandung miRNA yang membawa manfaat tertentu untuk ibu dan bayinya.

Sentuhan Ibu adalah Obat untuk Sang Bayi

images-bKetika sang ibu mencium jari-jari mungil bayinya, maka sistem imun di dalam tubuh ibu akan “terpapar” dengan mikroorganisme yang berada di kulit halus sang bayi. Kemudian sistem imun ibu menerima “kode” tersebut, mengolahnya, kemudian memproduksi dan merancang barisan sistem imun pertahanan yang sesuai dengan keperluan bayi melawan keadaan lingkungan di sekitar tubuhnya, terutama yang berpotensi menimbulkan penyakit. Rancangan sistem imun dari ibu akan dikeluarkan lewat ASI. Saat sang bayi minum ASI, ribuan pasukan penjagaan disuplai oleh ibu masuk ke tubuh bayi, untuk turut menjaga ancaman bahaya yang mengintai.

Sederhananya, sentuhan ibu adalah obat bagi sang bayi.

Pemegang Kunci Generasi Mendatang

Dari beberapa fakta di atas dapat kita tarik benang merah, betapa peranan ibu sangat penting bagi anak, dan tidak bisa digantikan oleh ayah sekalipun. Tidak saja terkait dengan potensi kecerdasan bayi yang dominan diwarisi dari ibu, juga bagaimana seorang ibu menyalurkan kasih sayang, rasa syukur, dan kebahagiaan lewat sentuhan dan segala manifestasi fisik ibu saat hamil, bersedia dengan ikhlas menjalani proses persalinan yang alamiah (pengecualian bagi operasi dengan indikasi medis), menyusui, dan mengkonsumsi hanya makanan yang sehat (tentu aspek halal merupakan komponen utama yang tidak perlu dipertanyakan lagi).

Oleh karena anak-anak adalah calon generasi penerus kehidupan yang akan mengisi dan mewarnai baik buruknya zaman yang akan datang, maka tak pelak, di tangan para ibulah kunci utamanya terpegang. Sangat berasalan jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa keberbaktian pada ibu kita harusnya tiga kali lebih banyak dibanding kepada ayah. Maka, sungguh benar yang dikatakan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ketika ada seorang Yaman tengah menggendong ibunya di punggung untuk thawaf di Baitullah, lalu bertanya kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Wallahu a’lam.

[]