Fiat Money

Fiat Money

Oleh: Bahtiar HS

Fiat Money

fulcra.asia

Menjelang Idul Fitri 1995 Pasar Legi Ponorogo terbakar hebat. Pasar saat itu dalam keadaan ramai-ramainya orang mencari segala keperluan untuk persiapan lebaran. Para pedagang harus merelakan barang dagangannya ludes dilalap api.

Ketika api sudah padam, tak sedikit para pedagang yang kembali ke lapak-lapak mereka. Apa yang mereka lakukan? Mereka menggali reruntuhan untuk menemukan brankas berisi uang hasil jualan yang mereka tanam di bawah lantai lapak! Ketika dibuka, tampak berbinar mata mereka mendapati berbendel-bendel uang kertas ratusan-lima puluhan ribu itu masih utuh di tempatnya. Tetapi itu tak lama. Ketika mereka mengambilnya, bendelan uang itu mrothol (hancur) seperti obat nyamuk menjadi abu sehabis terbakar.

SEKILAS FIAT MONEY

Dalam benak kita yang lahir dan hidup di masa kini, uang yang kita kenal ya uang kertas yang biasa kita pegang hari-hari. Kalaupun ada uang logam, nilainya kecil dan kita anggap receh. Mata uang USD, Rupee, Bath, Euro, dan lain-lain, semuanya berbentuk uang kertas. Uang kertas inilah yang biasa disebut fiat money.

Uang kertas telah melewati lintasan sejarah yang panjang. Dimulai dari masa orang berdagang secara barter dengan tukar-menukar barang, kemudian menggunakan mata uang emas sebagai alat tukar atau pembayaran, barulah muncul uang kertas yang di-back-up emas. Setelah PD I, standar uang emas berakhir dan mata uang dunia digantikan dengan USD. Setelah PD II, dimulailah sistem Bretton Woods dengan ditandai berdirinya IMF (International Monetary Fund) dan World Bank sejak 1944. Sejak saat itu, semua mata uang dunia berhubungan satu sama lain dengan USD sebagai standar fixed exchange rate dan satu-satunya mata uang yang di-back-up emas, yakni 1 ounce emas setara secara fixed dengan 35 USD.

Amerika lalu menjadi superior di antara negara-negara di seluruh dunia dalam pembangunan ekonomi. Namun ketika ekonomi Amerika akhirnya defisit dan cadangan emasnya menipis sehingga tak bisa menutupi seluruh USD yang disimpan di bank-bank asing, maka pada 15 Agustus 1971 Presiden Richard Nixon mengumumkan pada dunia bahwa tidak akan ada lagi pertukaran emas untuk USD. Uang USD yang fiat money itu tidak lagi di-back-up emas.

Sejak itu terjadi metamorfosis terhadap mata uang kertas, di mana semula ia difungsikan sebagai alat tukar semata, kemudian dijadikan juga sebagai alat komoditi yang bisa diperdagangkan. Terciptalah “pasar bebas” untuk uang yang menumbuh-suburkan spekulan dunia bermain kurs mata uang dalam perdagangan valuta asing.

FIAT MONEY DAN KRISIS

Pada kenyataannya, perekonomian yang didasarkan pada fiat money (uang kertas) mengandung banyak permasalahan. Pertama, yang paling kentara, ada selisih nilai dalam mata uang kertas antara nilai intrinsik dan nominalnya (seignorage). USD misalnya, nilai nominalnya bervariasi, mulai dari USD 1, 10, dan 100. Sementara nilai intrinsik (biaya produksi) per lembarnya sama, sekitar USD 4 sen. The Fed (bank sentral Amerika) sudah mencetak USD 100 berjuta lembar dan disebar ke seluruh dunia. Kompensasinya Amerika mendapatkan banyak komoditi dari seluruh dunia yang menggunakan mata uang USD. Padahal nilai intrinsiknya sangat tidak ada artinya. Ibaratnya “creating money from nothing”. Menciptakan uang dari kekosongan. Bayangkan betapa besar keuntungan yang diraup Amerika dari “permainan” ini.

Kedua, uang kertas tidak bisa diandalkan sebagai alat penyimpan nilai. Ia tidak memiliki nilai intrinsik sebagaimana logam mulia seperti emas. Jika Amerika kolaps misalnya, maka kolaps juga mereka yang memiliki simpanan USD. Tidak ada orang yang mau memegang atau menggunakan uang USD. Orang tak mau menerima uang yang tidak lagi ada harganya. Persis seperti peristiwa kebakaran pasar di awal artikel ini. Uang tidak bisa dijadikan alat penyimpan nilai, karena begitu terbakar menjadi abu, uang kertas itu tak ada artinya lagi.

Ketiga, karena tidak di-back-up logam mulia, maka otoritas moneter di negara manapun mudah tergoda mencetak uang kertas seolah tanpa batas. Ketika pencetakan uang melebihi jumlah barang dan jasa yang bisa diproduksi, maka terjadilah inflasi karena terjadinya kelebihan likuiditas di pasar yang memicu peningkatan permintaan konsumsi dan spekulasi. Harga-harga barang cenderung naik dari waktu ke waktu. Inflasi yang tak terkendali (hiperinflasi) adalah virus yang paling ditakuti para ekonom karena akan memicu kemerosotan ekonomi.

Dan keempat terkait dengan aksi spekulasi atas naik-turunnya kurs mata uang. Fenomena ini dimanfaatkan para spekulan dalam dan luar negeri untuk meraup keuntungan dengan melakukan jual-beli mata uang (valas) pada saat kursnya yang tepat agar selalu untung. Ketika pasar bebas semakin liberal seperti sekarang ini, omset para spekulan diperkirakan mencapai USD 1,3 triliun meningkat 20 kali lipat dibanding periode 1980an. Namun, sektor moneter yang setiap saat bisa menggandakan uang jauh meninggalkan sektor riil ini justru mengakibatkan ketidakseimbangan (inekuilibrium) ekonomi. Ibarat balon yang terus dipompa, gelembung ekonomi ini tak kuat lagi menahan beban sehingga meletus menjadi krisis ekonomi yang dampaknya jauh lebih parah ketimbang perang sebagai terjadi tahun 1997-1998.

Begitu besarnya potensi destruktif mata uang kertas (fiat money) bagi perekonomian, tak kurang A. Riawan Amin, Direktur International Islamic Financial Market, menyebut fiat money sebagai salah satu dari 3 pilar setan (Three Pillars of Evil) yang mengancam kestabilan ekonomi jangka panjang. Dua pilar lainnya adalah persyaratan cadangan wajib (fractional reserve requirement) bagi bank dan puncaknya diberlakukannya sistem bunga (interest) yang dilarang oleh semua agama samawi.

FIAT MONEY DALAM PANDANGAN ISLAM

Bagaimana pandangan Islam terhadap fiat money?

Memang ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Bagaimanapun, uang kertas baru dikenal dunia Islam pasca kejatuhan kekhalifahan Turki Utsmani pada 1924. Praktis selama 1400 tahun, umat muslim menggunakan Dinar dan Dirham yang berbasis emas sebagai alat tukar. Karena itu, uang kertas adalah hal baru bagi umat Islam dan tidak dikenal pada masa tasyri’. Tidak akan dijumpai dalil dari Al-Qur’an, al-Hadits, maupun ijma’.

Pada kelompok pertama, para ulama menggunakan metode qiyas untuk menghukumi uang kertas. Bahwa ‘illat (alasan) digunakannya emas dan perak adalah sebagai alat tukar (tsamaniyyah). Uang kertas pun berfungsi sebagai alat tukar dalam perdagangan sebagaimana emas dan perak. Maka, uang kertas pun termasuk barang ribawi dan dihukumi boleh / halal sebagaimana emas dan perak. Ia mengikuti hukum pertukaran emas dan perak seperti jika sejenis harus setara/sama jumlahnya dan tunai/kontan. Menukar uang Rp 1 juta dengan Rp 950 ribu dilarang, karena terjadi ketidaksetaraan sehingga mengakibatkan riba al-fadhl (karena kelebihan/kekurangan jumlah). Pendapat ini dikemukakan di antaranya oleh Dr. Yusuf Qardhawi, Dr. Ali Abdul Rasul, Muhammad Baqir al-Shadr, dan Dr. Syauqi Ismail Syahatah.

Kelompok kedua berpendapat, bahwa uang kertas haram digunakan kaum muslimin karena yang dimaksud nuqud (uang) dalam perspektif Islam adalah emas dan perak. Bukannya uang kertas. Lalu ‘illat tsamaniyyah juga tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an dan al-Hadits sehingga tidak bisa digunakan. Karena itu, qiyas Dinar Dirham dengan uang kertas adalah batil. Penggunaan uang kertas hanya boleh jika belum ada mata uang emas seperti Dinar dan Dirham dengan alasan terpaksa (dharurah). Tetapi itu tidak bisa lagi dijadikan alasan, karena Dinar dan Dirham sudah bisa didapatkan dengan mudah saat ini. Pendapat ini dikemukakan oleh Dr. Mahmud al-Khalidi.

Semoga bahasan singkat ini memperkaya wawasan kita. Lalu pertanyaannya, pada kondisi dunia perekonomian di negara kita seperti saat ini, Anda ikut pendapat yang mana?

Wallahu a’lam.

[]

Referensi:

  1. Ahmad Riawan Amin, Satanic Finance: Bikin Umat Miskin, April 2012
  2. Taufik Hidayat, S.E.I., Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money), jurnal-ekonomi.org

Ichlasul Amal Sudarmi, Sejarah Sistem Standar Emas dan Bretton Woods serta Keruntuhannya, ichlasulamalsudarmi.com