Fidyah Puasa Lanjut

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum,

Ustadz yang saya hormati, saya mempunyai orang tua yang usianya sudah sangat lanjut. Saya baru ingat bahwa tahun yang lalu orang tua saya tidak bisa melaksanakan puasa dan belum membayar fidyah sebagai gantinya karena waktu itu keadaan ekonomi masih pas-pasan.

  1. Apakah boleh membayar fidyah tersebut digabung dengan fidyah saat ini karena saat ini juga tidak kuat berpuasa?
  2. Berapakah nilai yang harus dikeluarkan, berupa uang ataukah makanan?
  3. Dan kepada siapa diserahkan?

Atas jawabannya saya sampaikan terima kasih.

Siti Maslihah di Surabaya

PIJAKAN MASALAH

Wa ‘Alaikumussalam war Rahmah wal Barakah!

Alloh Subhanahu waRahimahulloha’ala mensyari’atkan beberapa kewajiban kepada hamba-Nya dengan kadar kapasitas amal yang tidak memberatkan atau menyulitkan mereka. Akan tetapi mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Sesuai firman-Nya di dalam beberapa bagian dari al Qur’an. Semisal: Q.S. al-Hajj: 78,

( وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ )

Sedikitpun Dia (Allah) tidak membuat kesulitan dalam urusan agama (Islam) kepada kalian.”

Dan Q.S. al-Baqarah: 185,

( يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ )

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.”

Oleh karenanya –kalau kita teliti dengan jeli dan seksama kita akan temui betapa banyak ibadah yang diperintahkan oleh Allah memiliki proses pelaksanaan melalui beberapa jenjang dan tahapan. Misalnya Shalat fardhu, jika tidak mampu melaksanakannya dengan berdiri, maka diperbolekan dengan duduk, dan seterusnya. (Sebagaimana diurai panjang-lebar di dalam kitab-kitab furu’ / fiqih).

Demikian pula tidak jauh berbeda halnya dengan kewajiban ibadah yang menjadi tiang keempat bagi agama Islam, yaitu puasa. Maka bagi orang yang memiliki udzur dalam konteks syara’ boleh tidak berpuasa Ramadhan / wajib dengan menggantinya (mengqadha’) di luar bulan Ramadhan, atau menebusnya dengan membayar FIDYAH yang cukup kecil dan sedikit kadarnya, yaitu satu Mud (takaran resmi dari Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam di Madinah, yang setara dengan 700 gr / ½ kg, 2 ons lebih / ¼ takaran zakat fithri) untuk setiap harinya. Hal ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada hamba-Nya, dan betapa mudah serta ringannya melaksanakan perintah-perintah-Nya.

kalau kita teliti dengan jeli dan seksama kita akan temui betapa banyak ibadah yang diperintahkan oleh Allah memiliki proses pelaksanaan melalui beberapa jenjang dan tahapan

JAWABAN

  1. Menurut pendapat yang kuat di dalam madzhab asy-Syafi’i, orang tua Anda dalam keadaan seperti itu hanya berkewajiban mengeluarkan Fidyahnya hari-hari bulan Ramadhan tahun yang lalu saja (tidak dobel / tidak wajib menggabung). Jadi kalau mau menggabung / mengeluarkan dobel, boleh-boleh saja bahkan lebih afdhal. Sesuai dengan firman Allah Q.S. al-Baqarah: 184,

فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ

“Maka barangsiapa yang suka rela berbuat yang lebih baik, maka itu lebih afdhal baginya.”

Apalagi imam al-Ghazali menuturkan di dalam kitab fiqih “al-Wasith”-nya, bahwa wajibnya mengeluarkan Fidyah dobel dalam keadaan sedemikian ada dua pandangan. Sayangnya komentar beliau ini dianggap nyeleneh oleh sebagian ulama’.

  1. Nilai yang harus dikeluarkan untuk per-harinya, ada dua pendapat:
    1. Satu Mud (700 gr lebih) menurut pendapat imam Abu Hurairrah, Makhul, ’Atha’, Sa’id bin al-Musayyib, Abu Qilabah, Yahya bin Abi Katsir, dan salah satu dari dua pendapat Ibnu ‘Abbas, yang dicenderungi oleh imam asy-Syafi’i Rahimahulloh.
    2. Dua Mud / ½ Sha’ (1.400 gr) menurut pendapat imam Mujahid, al-Hasan, Sa’id bin Jubair, Ibrahim an Nakha’i, Muqatil bin Hayyan, Hasan bin Shalih, serta pendapat lain dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu anh.

Berupa makanan pokok sehari-hari di tempat tinggal menurut pendapat mayoritas ulama’. Adapun menurut pendapat imam Abu Hanifah rahimahullah boleh diganti dengan uang seharga ukuran dan takaran di atas.

FIDYAH PUASA USIA LANJUT

http://truthhalal.my

  1. Dialokasikan dan diberikan kepada orang Faqir atau Miskin saja.

Wallahu a’lam.

Al-Maraji’:

  1. Ar-Razi: Abu Muhammad Abdur Rahman bin Abi Hatim, Tafsir ibnu Abi Hatim: 6 / 257.
  2. An-Nawawi: Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Raudhatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin: 1 / 279.

 

Oleh : Ust. Fahd Abdurrahman / Lajnah Syariah Persyadha