Fitnah, Bencana Dunia, dan Ujian Agama

بسم الله الرحمن الرحيم

QS. al-Anfaal: 25

Allah SWT berfirman:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari pada fitnah yang tidak khusus hanya menimpa orang-orang yang zhalim di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.”

Analisa Ayat

Dalam ayat ini Allah SAW memberikan peringatan agar kita waspada dan menjaga diri dari fitnah yang bukan hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja, tetapi merata kepada semua orang. Fitnah yang dimaksudkan adalah:

1. Musibah dan Bencana

Tafsiran inilah yang dijelaskan oleh sahabat Abdullah bin Abbas ra yang sangat ahli menafsirkan Al-Qur’an (tarjumaanul qur’an) yang begitu luas ilmu sehingga mendapatkan pula predikat al-bahr (lautan). Beliau menjelaskan:

[Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman agar tidak membiarkan (memberikan kesempatan hidup) kemungkaran yang ada di depan mereka, karena (jika itu terjadi maka) Allah akan meratakan siksa kepada keseluruhan mereka.]

Artinya, ayat ini adalah peringatan keras agar seseorang yang di dalam hatinya ada keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya agar mereka tidak menjadi pribadi yang tidak peduli kepada lingkungan sekitar. Mereka harus menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dalam kapasitasnya masing-masing. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيْهِمْ بِالْمَعَاصِيْ هُمْ أَعَزُّ وَأَكْثَرُ مِمَّنْ يَعْمَلُوْنَ ثُمَّ لـَمْ يُغَيِّرُوْهُ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

Tiada suatu kaum yang di antara mereka kemaksiatan-kemaksiatan terus dilakukan padahal mereka lebih kuat dan lebih banyak daripada para pelaku maksiat itu kemudian mereka tidak mengubahnya kecuali Allah meratakan siksa atas mereka.”[1]

Siksaan yang akan diberikan oleh Allah kepada suatu komunitas yang tidak menjalankan amar ma’ruf nahi munkar padahal memiliki kekuatan, dalam riwayat lain disebutkan salah satu bentuknya. Hudzifah bin al-Yaman ra mengatakan:

“…لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلَتَحَاضُّنَّ عَلَى الْخَيْرِ أَوْ لَيُسْحِتَنَّكُمُ اللهُ جَمِيْعًا بِعَذَابٍ أَوْ لُيَؤَمِّرَنَّ اللهُ عَلَيْكُمْ شِرَارَكُمْ ثُمَّ يَدْعُوْ خِيَارُكُمْ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ

…sungguh kalian benar-benar mau terus memerintahkan yang ma’ruf, terus mencegah yang mungkar, dan selalu mendorong kebaikan-kebaikan, atau Allah benar-benar akan menimpakan kemarahan-Nya kepada seluruh kalian dengan siksaan, atau Dia akan menguasakan kalian kepada orang-orang jahat, kemudian orang-orang pilihan kalian berdo’a dan tidak akan dikabulkan.[2]

2. Fitnah Agama

Ini mengacu kepada riwayat Mutharrif bin Abdiilah As-Syihhir yang bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apa yang membuat Anda datang? Sementara Anda menyia-nyiakan khalifah yang terbunuh (di kalangan Anda sendiri), tetapi kemudian kalian datang menuntut darahnya?”

Sahabat Zuber bin al-Awam ra menjawab:

إِنَّا قَرَأْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ ((وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا…)) لـَمْ نَكُنْ نَحْسِبُ أَنَّا أَهْلُهَا حَتّي وَقَعَتْ مِنَّا حَيْثُ وَقَعَتْ

[Pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra kami telah membaca ayat, “Dan peliharalah diri kalian dari pada fitnah…” tanpa sama sekali menyangka bahwa diri kami termasuk orang yang terlibat dalam fitnah itu sampai akhirnya fitnah itu terjadi.][3]

Maksud dari khalifah yang terbunuh di kalangan kalian adalah Sayyidina Utsman bin Affan ra yang terbunuh di Madinah, tetapi kemudian para penduduk Madinah menuntut Khalifah Ali ra yang berkedudukan di Bashrah. Pertanyaan ini dilontarkan ketika perang Jamal berkecamuk di mana 70.000 sahabat, termasuk para sahabat ahli Badar dan Zubair bin Awam ra akhirnya terbunuh di dalamnya.

Mengacu kepada tafsiran ini berarti ayat di atas adalah berita Al-Qur’an akan datangnya fitnah agama yang akan menimpa umat Islam. Fitnah ini dengan begitu detail dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam banyak sekali hadits sehingga dalam kitab-kitab hadits karya para ulama terdahulu disebutkan secara khusus Kitab al-Fitan, ulasan luas tentang fitnah-fitnah agama. Sebagai contoh, Imam al-Bukhari dalam Shahihnya menyebutkan kurang lebih 80 hadits dan Imam Muslim sekitar 75 hadits.

Fitnah agama ini akan terjadi secara bertahap dan semakin lama semakin besar; seperti gelap malam yang semakin malam semakin gelap gulita, [4] terus-menerus datang seperti gelombang lautan, [5] dan ibarat air yang pada mulanya meresap, menetes, dan akhirnya mengguyur dengan deras. Jika sekarang fitnah yang muncul dirasa besar dan berat, maka berikutnya justru akan muncul fitnah lebih besar dan lebih berat yang menjadikan fitnah sebelumnya terasa lebih kecil dan ringan. Rasulullah r bersabda:

وَسَيُصِيْبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَفِتَنٌ يُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Dan bencana serta fitnah-fitnah akan menimpa akhir umat ini di mana sebagian fitnah (fitnah terbaru. Pent) menjadikan sebagian fitnah (fitnah sebelumnya) lebih ringan.”[6]

Hudzaifah bin al-Yaman ra, sahabat yang disebut sebagai agen rahasia Rasulullah SAW, memberikan gambaran fitnah agama yang semakin parah ini dengan begitu jelas. Ia mengatakan:

تَكُوْنُ ثَلَاثُ فِتَنٍ الرَّابِعَةُ تَسُوْقُهُمْ إِلَى الدَّجَّالِ الَّتِيْ تَرْمِيْ بِالنَّشَفِ وَالَّتِيْ تَرْمِيْ بِالرَّضْفِ وَالْمُظْلِمَةُ الَّتِي تـَمُوْجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ

“Akan terjadi tiga (fase) fitnah, (di mana) yang keempat akan menggiring mereka kepada Dajjal; 1) fitnah yang melemparkan batu gosok (untuk membersihkan tubuh saat mandi), 2) fitnah yang melemparkan batu yang dipanaskan dengan api, dan 3) fitnah yang gelap gulita yang bergelombang seperti gelombang lautan.”[7]

Dalam proses yang semakin parah, besar dan berat, fitnah agama menjelma dalam banyak sekali model yang di antaranya sebagaimana fenomena akhir zaman yang sabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Umar bin Khattab ra yang lazim disebut Hadits Jibril yang memiliki empat bahasan pokok; yaitu Islam, Iman, Ihsan dan tanda-tanda hari Kiamat (Amaarat as saa’ah). Beliau bersabda:

أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَي الـْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رُعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِى الْبُنْيَانِ

“Ketika sahaya wanita melahirkan tuannya, dan ketika kamu menyaksikan orang-orang yang tidak memakai alas kaki, telanjang, miskin, dan penggembala domba saling berbangga-bangga mendirikan bangunan megah.”[8]

Terlepas banyaknya tafsiran, teks hadits ini mengandung dua hal pokok terkait model fitnah akhir zaman, yaitu;

  • Sahaya wanita melahirkan majikan, bisa dipahami adanya fenomena An-Naqdhu atau An-Naqaa’idh, melepaskan atau terlepasnya kancing-kancing agama satu persatu sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW:

لَتُنْقُضَن عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيْهَا فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الـْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةَ

“Sungguh kalian akan menguraikan simpul-simpul (ajaran) Islam satu simpul demi satu simpul. Maka setiap kali satu simpul terurai, orang-orang akan berpegang (untuk melepaskan) dengan simpul berikutnya. Simpul ajaran Islam yang akan terurai pertama kali adalah hukum (kekuasaan), dan yang paling terakhir adalah shalat.”[9]

Kalimat “kalian menguraikan” memberi makna adanya peran secara langsung sebagian umat Islam dalam merusak agama ini. Artinya sebagian dari mereka adalah menjadi pelaku fitnah atau terjebak dalam fitnah. Oleh karena itulah, sebuah hal yang tidak perlu lagi kita merasa heran ketika menyaksikan sebagian tokoh umat Islam yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip dan ajaran Islam serta merobohkan tradisi yang baik yang pernah dibangun oleh para pendahulu yang shaleh.

  • Orang-orang yang bodoh dan miskin berlomba membangun rumah megah, bisa dipahami dari realitas ini adalah kemunculan fenomena al-Ma’aakis (keterbalikan-keterbalikan). Orang yang benar dianggap bersalah dan orang yang salah dianggap benar. Orang yang jujur dianggap pengkhianat dan pengkhianat dianggap jujur. Orang-orang bodoh dijadikan pemimpin dan orang-orang pintar tersingkir.

Sungguh kedua fenomena yang disinyalirkan oleh Rasulullah SAW sangat membingungkan jika dipikirkan. Rasulullah SAW bersabda:

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُوْنَ الدُّنْيَا بِالدِّيْنِ يَلْبَسُوْنَ للِنَّاسِ جُلُوْدَ الضَّأْنِ مِنِ اللِّيْنِ أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَرِ وَقُلُوْبـُهُمْ قُلُوْبُ الذِّئَابِ يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: “أَبِيْ يَغْتَرُّوْنَ أَمْ عَلَيَّ يَجْتَرِئُوْنَ فَـبـِيْ حَلَفْتُ لَأَبْعَثَنَّ عَلَى أُولئِكَ مِنْهُمْ فِتْنَةً تَدَعُ الْحَلِيْمَ مِنْهُمْ حَيْرَانَ

“Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, ‘Apakah mereka terlena dengan (penangguhan)Ku? Apakah mereka berbuat lancang kepada-Ku? Atas nama-Ku mereka bersumpah, sungguh Aku akan menimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang bijaksana dari mereka jadi kebingungan.[10]

Melihat kenyataan demikian, rasanya begitu berat untuk menyelamatkan diri dari fitnah agama. Oleh karena itulah, seorang muslim yang sayang kepada agamanya harus memiliki pegangan yang erat berupa sebuah Wasiilah; guru pembimbing, amal rutin, dan komunitas yang baik sebagaimana petunjuk Allah SWT:

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِى سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya niscaya kalian meraih keberuntungan.”

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]H.R. Imam Ahmad bin Hambal dari Jabir bin Abdillah ra

[2]H.R. Imam Ahmad

[3]H.R. Imam Ahmad

[4]H.R. at-Turmudzi no: 2195, Kitab al-Fitan bab (30). H.R. Muslim no: 118, Kitab al-Iman bab (51)

[5]Umar ra berkata:

لَيْسَ هذَا أُرِيْدُ إِنَّمَا أُرِيْدُ الَّتِيْ تَمُوْجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ

“Bukan ini yang aku maksudkan, tetapi fitnah yang bergelombang seperti gelombang lautan.” (H.R. Muslim no: 2892, Kitab al-Fitan bab (7). H.R. al-Bukhari no: 7096)

[6]H.R. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no: 38265

[7]H.R. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no: 38287

[8]H.R. Muslim no: 08/09. H.R. al-Bukhari no: 50

[9]H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim

[10]H.R. at-Tirmidzi no: 2404, Kitab az-Zuhdi bab (59)

 

download (20)

( Penulis KH. M. Ihya Ulumiddin, Ketua Umum Hai’ah Ash Shofwah Pengasuh Ma’had Nurul Haromain Pujon – Malang)