Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Habib Abdurrahman al-Habsyi, Bugak Aceh. Memberi Manfaat untuk Orang Aceh, Meski Sudah Wafat | LAZIS AL HAROMAIN

Habib Abdurrahman al-Habsyi, Bugak Aceh. Memberi Manfaat untuk Orang Aceh, Meski Sudah Wafat

 

Oleh : Muhim Kamaluddin

Guru TPQ As-Sakinah, Mojoagung.

Cerita kedermawanan rakyat Aceh memang tak ada habisnya. Misalnya ketika Presiden Soekarno berpidato pada 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Banda Aceh, agar rakyat Aceh menyumbangkan apa saja yang mereka punya untuk negara. Tak lama setelah itu, melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djunaid Yusuf dan Sayid Muhammad al-Habsyi, terkumpullah 20 kilogram emas untuk disumbangkan kepada negara, dan digunakan untuk membeli “Seulawah”, pesawat terbang pertama milik Indonesia.

Atau ketika muslim Rohingya teraniaya, rakyat Aceh mendesak pemimpinnya untuk membantu menyediakan tempat bagi pengungsi Rohingya. Dan rakyat Aceh tidak tinggal diam, mereka membantu menyediakan logistik pengungsi.

Satu lagi kisah kedermawanan bangsa Aceh yang patut kita teladani. Kisah ini bermula sekitar dua setengah abad yang lalu. Sekitar pertengahan abad 18 M. Hubungan yang erat antara kerajaan Aceh dan penguasa Haramain Makkah, waktu itu tergambar dalam banyaknya tokoh ulama Haramain yang bermukim di Aceh. Penguasa Haramain waktu itu masihlah dipegang oleh para penguasa yang berhaluan ahlussunnah wal jama’ah, sebelum pada awal abad 19, dinasti keluarga  Saud dengan ideologi ekstrim, berhasil mengambil alih kekuasaan.

Pada waktu itu, golongan para syarif atau habib memiliki tempat khusus di kawasan sekitar Masjidil Haram. Pada umumnya mereka adalah para ulama terkemuka. Di antara sekian banyak para syarif itu, tersebut salah satunya adalah Habib Abdurrahman bin Alwy bin Syekh al-Habsyi. Seorang anggota penasihat Syarif Makkah dan tinggal di lingkungan Ka’bah. Beliau berhijrah dari wilayah Makkah untuk berdakwah di tanah Aceh.

Habib Abdurrahman bin Alwy bin Syekh al-Habsyi lahir di kota Makkah, diperkirakan tiba di kerajaan Aceh Darussalam sekitar tahun 1760an, bersamaan dengan masa pemerintahan Sultan Ala’addin Mahmud Syah. Beliau tinggal di Aceh sampai wafat sekitar tahun 1870an M.

Menurut catatan kerajaan Aceh Darussalam, kedatangan beliau ke Aceh Darussalam disambut gembira oleh rakyat dan penguasa. Bahkan tidak lama kemudian, beliau mendapat tugas dari sultan sebagai Teuku Chik, sebuah jabatan pemimpin lokal sebagai wakil Sultan di wilayah tersebut. Beliau memimpin wilayah utara yang meliputi Kuala Peusangan, Pante Sidom, Bugak, Monklayu, Labu, Mane’ sampai ke Cunda dan Nisam. Selain sebagai wakil sultan di wilayah utara, beliau juga ditunjuk sebagai Qadhi-Khatib di wilayah tersebut. Melihat tugas yang diberikan, tidak mengherankan apabila beliau menjadi seorang hartawan yang memiliki tanah pertanian luas di sepanjang pantai utara Aceh, dari Kuala Peusangan sampai ke Cunda saat ini. Sampai sekarang keturunan Habib Abdurrahman Al-Habsyi banyak dijumpai di Peusangan, Bugak, Monklayu, Bungkah, Lhoksemawe sampai ke Panton Labu dan Idi di Aceh Timur.

Sekian lama berdakwah di Aceh, pada tahun 1220an H atau 1800an M, Habib Abdurrahman kembali ke Mekkah menemui keluarga besarnya. Tercatat pada bulan Rabi’ul Akhir 1224 H, beliau mewakafkan sebidang tanah beserta rumah yang bersebelahan dengan Masjidil Haram untuk masyarakat Aceh, baik yang mukim atau jama’ah haji dengan menggunakan nama Habib Bugak Asyi, tanpa mencantumkan nama aslinya. Beliau hanya menuliskan seorang Habib Ba’alawi yang berasal dari Aceh, di sebuah wilayah yang bernama Bugak.

Setelah mewaqafkan hartanya, beliau kembali meninggalkan tanah leluhurnya di Mekkah untuk mengembangkan dakwah sepanjang hayatnya di bumi Aceh, terutama di Peusangan, Monklayu, dan Bugak. Maka pada bulan Rajab 1224 H atau 3 bulan setelah beliau mewaqafkan hartanya di Mekkah, Sultan Aceh kembali mengeluarkan surat resmi yang mengukuhkan Habib Abdurrahman Al-Habsyi sebagai penguasa lokal wakil Sultan di Utara Aceh yang berpusat di Bugak. Itulah sebabnya dahulu Bugak sangat terkenal sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, sekaligus sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam di Aceh bagian utara yang telah melahirkan banyak sekali Tengku Alim Ulama sampai awal-awal kemerdekaan.

Meskipun beliau tidak mencantumkan nama asli beliau dalam ikrar wakaf tahun 1224 H selain hanya menyebut Habib Bugak Asyi (Aceh), namun tidaklah sulit untuk menemukan identitas beliau yang sebenarnya. Dengan penelusuran jejak sejarah, dapat dengan cepat diketahui identitas sang wakif tanah dan rumah tersebut.

Tidak banyak yang bisa diketahui dari sejarah pribadi beliau, akan tetapi kedudukannya sebagai ulama sekaligus anggota penasihat syarif Makkah, kemudian hijrah ke Aceh Darussalam dan menduduki tempat terhormat sebagai penguasa politik, militer, dan ahli agama sekaligus cukup memberikan gambaran siapa beliau sebenarnya. Namun yang jelas, rakyat Aceh masih merasakan manfaat dari peninggalan beliau, hingga saat ini. Apakah itu?

Ketika beliau mewakafkan rumah dan tanah beliau yang berada di kawasan Qusyaisyiah yang bersebelahan dengan Masjidil Haram (kini sudah termasuk kawasan masjid), rumah tersebut diperuntukkan pada masa itu untuk kepentingan masyarakat Aceh, baik yang datang ke tanah suci menunaikan haji atau orang Aceh yang menetap di Makkah sesuai dengan daya tampung rumah tersebut.

Ketika rumah tersebut terkena dampak perluasan Masjidil Haram, Bani Saud mengganti aset wakaf itu dengan dua buah rumah. Oleh pengelola wakaf, aset tersebut dikelola secara profesional dan kini sudah menjelma menjadi properti yang bernilai triliunan Rupiah. Di antaranya Hotel Jiad dan Menara Jiad setinggi 28 tingkat dan mampu menampung 7000 jama’ah.

Semenjak pengelolaan haji menjadi sistem muassasah, wakaf Baitul Asyi tidak lagi digunakan jamaah asal Aceh. Tetapi sebagai gantinya, setiap jama’ah haji dari Aceh akan mendapatkan uang ganti biaya pemondokan selama di Makkah dari pengelola wakaf tersebut. Jadi khusus jamaah Aceh, berkat wakaf ini, selain mendapatkan kembalian uang biaya pemondokan, mereka juga mendapatkan manfaat masing-masing orang dari wakaf Habib Bugak Asyi, sebesar 1200 riyal (sekitar 4 juta rupiah per jama’ah). Dan ini berlangsung setiap tahun dan selamanya. Sungguh sebuah wakaf yang sangat besar manfaatnya.

Habib Abdurrahman bugak wafat pada usia 150 tahun dan dimakamkan di Pante Sidom, Bugak, Bireun. Kini makam beliau sudah dipugar untuk lebih memudahkan warga Aceh yang ingin berziarah kepada beliau. Terutama para jama’ah haji yang merasakan manfaat dari wakaf beliau tesebut.

Wallahu a’lamu bish-shawaab.

[]