Hanya Hati yang Berdzikir

Oleh K.H. M. Ihya Ulumiddin
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”  (Q.S. ar-Ra’ad: 28)

Analisa Ayat

Al-Qur’an banyak membicarakan tentang hati manusia. Dalam Q.S. al-Anfaal: 24 yang artinya: “Dan ketahuilah oleh kamu bahwa sesungguhnya Allah menghalangi antara seseorang dan hatinya”, Allah memberikan peringatan bahwa hati bisa terhalang dari Allah ketika lebih memilih kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat sebagaimana terjadi pada hati orang-orang kafir. Atau terpesona oleh kehidupan dunia, menuruti keinginan-keinginan nafsu, sehingga sedikit sekali mengingat Allah sebagaimana dialami oleh orang-orang beriman yang dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Bahkan ada hati yang tidak mungkin bisa beriman atau mau menerima nasihat kebenaran, yaitu hati orang-orang yang sudah dilaknat oleh Allah, hati orang yang masih tetap bandel dengan kekafiran meski sudah jelas baginya kebenaran, atau hati para pelaku perbuatan bid’ah.

Terkait dengan hati manusia yang sudah beriman, Allah Subhanahu Wata’ala memberikan penjelasan bahwa hati tersebut semestinya sampai pada tingkat merasa takut ketika Allah disebut, sebagaimana dalam Q.S. al-Anfaal: 2 atau hati itu semakin tangguh ketika digunakan untuk berdzikir kepada Allah sebagaimana dalam Q.S. al-Anfaal: 45. “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu kelompok musuh, kokohkanlah diri-diri kalian dan perbanyaklah berdzikir mengingat Allah, agar kalian beruntung.”

Jika dalam Q.S. al-Anfaal: 45 ini Allah menegaskan bahwa dzikir mampu menjadikan hati  tangguh dan kokoh dalam merespon segala kondisi yang tidak menyenangkan, maka dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wata’ala  menegaskan bahwa dzikir memberikan pengaruh kuat dalam ketenangan hati. Meski demikian, ada hal yang perlu dicermati dari redaksi ayat di atas: “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Mestinya susunan aslinya adalah: “hati tenang dengan berdzikir” akan tetapi susunannya justru: “…dengan berdzikir hati menjadi tenang”; artinya di sini ada taqdim dan ta’khir, ada kalimat yang didahulukan meski sebenarnya ia berada di akhir dan begitu pula sebaliknya. Juga ditambah dengan kalimat (kata) Ingatlah. Hal demikian memberikan faedah al-hashr (pembatasan), yang pada akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada hati yang tenang kecuali hati yang selalu diisi dengan dzikir kepada Allah. Hati orang sehat atau sakit, hati orang pandai atau orang pandir, hati orang kaya atau miskin, hati pejabat atau rakyat, hati seorang da’i atau obyek dakwah, semuanya akan galau dan tidak bisa menikmati kehidupan jika dijauhkan dari berdzikir kepada Allah.

dafis-mutqur

Berangkat dari sini, barang siapa yang ingin merasakan indahnya kehidupan, maka dia harus menjadi orang yang banyak berdzikir. Dzikir tidak boleh dilakukan secara kebetulan (bish-shudfah), tetapi harus dilakukan secara pasti dengan cara:

  1. Melakukan shalat lima waktu dengan baik (ihsan) karena salah satu tujuan shalat adalah untuk mengingat Allah. “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” Q.S. Thaha: 14.
  2. Rutin membaca wirid-wirid setelah shalat baik secara sendiri maupun berjamaah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), berdzikirlah pada Allah.” (Q.S. An-Nisa’: 103)

  1. Belajar rutin membaca Al-Qur’an, terutama secara rutin (menjadikannya sebagai wirid), membaca surat-surat yang diajarkan Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam untuk dibaca setiap malam, seperti al-Waqi’ah dan al-Mulk. Atau membaca surat Yasin setiap pagi dan petang hari.
  2. Belajar secara bertahap untuk secara rutin mengamalkan bacaan-bacaan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam. Jika kesulitan, maka bisa langsung merujuk kepada doa-doa yang dikumpulkan para ulama shaleh yang berisi doa ajaran Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam seperti wirid Ratib al-Haddad, Ratib al-Attasy, al Wird al-Lathif, atau al Ma’tsurat milik Imam Hasan al-Banna
  3. Berusaha secara maksimal  mengisi waktu luang untuk berdzikir dengan macam-macam bacaan dzikir bain memperbanyak sebagian dari surat Al-Qur’an, bertasbih, beristighfar, bershalat, dsb.

Jika hal-hal demikian bisa dijalani secara rutin, insya Allah hati akan selalu tenang sehingga bisa merasakan enjoy dalam kesusahan dan senang dalam kebahagiaan.

Wallahu a’lam.