Harga Mati Seorang Ibu

Oleh

Aida Fitriyati

aida_jombang@yahoo.com

            Siapakah yang tidak mengenal sosok ibu? Begitu panjang rentetan perjuangan yang harus dilalui seorang ibu. Sejak awal mengandung, ibu sering merasakan mual, muntah, kantuk, lemas, bahkan lapar tapi tak bernafsu makan. Semua dilaluinya sampai 9 bulan. Di sela-sela menjalankan rutinitas dalam kelemahan  tubuhnya. Ibu juga mendidik sang calon bayi dalam kandungan dengan mengajak mengaji, belajar berhitung, belajar kehidupan dan lain sebagainya yang mengarah kearah kebaikan.  Di saat mau melahirkan pun, perjuangan dimulai lagi. Perut sering sakit, badan lemas takkuat bangun dan nyawa pun taruhannya tatkala proses melahirkan.

            Ketika bayi terlahir kedunia ,segudang aktifitas yang berhubungan dengan sang bayi di mulai. Bangun tidur sudah harus menyiapkan sarapan, merebus air untuk memandikan anaknya, membersihkan rumah. Ketika sang bayi sudah bangun, semua pekerjaan rumah tangga tidak bisa dikerjakan dengan mulus. Apa lagi sang anak lagiaktif-aktifnya. Semua tingkah laku anak tak boleh lepas dari pengawasan. Lengah sedikit, sang anak bisa terluka lantaran benturan atau lecet sebab jatuh. Tatkala sang anak tidur pun, sang ibu tidak bisa leluasa meninggalkan sikecil untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Sang anak masih membutuhkan pengawasan. Saat anak sudah bangun pengawasan ketat dan pendidikan di mulai. Sampai malam tiba. Waktu tidur malam, sang ibu tak bisa tidur dengan tenang. Lantaran sibuah hati sewaktu-waktu membangunkan untuk meminta minum dan ibu harus rela bangun untuk menyusui sikecil.

            Demikianlah kegiatan  rutin seorang ibu, tanpa cuti dan hari libur. Mungkin orang lain memandang pekerjaan ibu rumah tangga paling nyantai, di rumah saja mendapatkan gaji dari suami. Tak sedikit orang memandang agak sebelah mata ketika ada orang yang hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, apa lagi lulusan sarjana.

Setiap hari ibu berteman sepi di rumah dan sang buah hati yang belum bisa diajak komunikasi sepenuhnya. Hari-hari selalu bersama sikecil menunggu si ayah pulang kerja. Aktifitas yang monoton kadang memicu datangnya stress. Ditambah pekerjaan rumah menumpuk tak kunjung selesai sebab menemani buah hati bermain. Kadang tak jarang suami tak mau turun tangan membantu pekerjaan rumah dan bergantian menjaga anak. Mereka merasa semua itu pekerjaaan sang istri dan menganggap istri lebih mampu menyelesaikan semuanya. Mereka kurang menyadari kalau sebenarnya istri juga manusia biasa yang butuh istirahat dan merawat tubuhnya sendiri.

            Itulah deretan perjuangan seorang ibu, yang predikatnya adalah anugrah dari Allah yang wajib kita syukuri dan hargamati yang tidak bisa di tawar lagi. Kelelahan pasti dirasakan. Namun, itu semua terbayar dengan kesuksesan sang anak. Keberhasilan sang anak insya Allah akan terwujud dengan salah satunya adalah kerjasama dengan lingkungan sekitar terutama keluarga inti yang tinggal serumah. So, apakah kita hanya melihat istri atau ibu kita membereskan pekerjaan rumah sendiri? Bukankah beliau juga butuh istirahat dan waktu pribadi seperti kita?