Hukum Berpikir Positive

Hukum Berpikir Positive

Oleh : Hasbi Maula

 

Hukum Berpikir Optimis

firdausramansyah.blogspot.com

Di kehidupan ini tidak sedikit manusia belum melakukan sesuatu sudah mempunyai pemikiran yang negatif terhadap apa yang akan dilakukan, seolah-olah dirinya tidak bisa melakukan sesuatu yang baik dan luar biasa tersebut. Takut memulai, takut berbuat, takut berbisnis, takut berkata, takut usul, takut berubah, dan lain-lain, yang ujungnya menjadi kenyataan karena pola pikirnya sendiri.

We becomes what we think about (kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan). Kalau itu kenyataannya, maka tinggalkan pikiran negatif, segera ubah menjadi pemikiran yang positif.
Memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

  • Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel, katakan saja “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
  • Ketika ada seorang pembeli ngotot menawar-nawar harga, orang-orang berkata “Kikir betul orang itu”, katakan saja “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu.”
  • Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, mestinya tidak mengumpat, harusnya malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah berpikir positif. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.
Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya.

  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.

  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir positif adalah berpikir, menduga, dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain. Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain. Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk.

Perhatikan Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Sangatlah jelas firman Allah di atas kita dilarang untuk berprasangka negatif kepada siapapun dan kondisi apapun, karena akan berdampak pada orang berprasangka tersebut. Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.”

Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.” Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai.

Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai. Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Allah.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah.

Mulai hari ini mari kita senantiasa mempunyai niat yang banyak tentu yang positif, sehingga ini akan mengubah seluruh sel yang ada dalam tubuh ini untuk diwujudkan menjadi suatu kenyataan yang positif. Selamat berjuang saudaraku, salam sukses selalu, bersama Allah semua akan terselesaikan.