Hukum Dua Niat dalam Berpuasa

Oleh: Ust Junaidi Sahal

Lajnah Syariah

Persyada alHaromain

Pertanyaan

Assalamu’alaikum,

Ustadz, sebagai seorang wanita, saya tidak bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh. Oleh karena itu, saya harus meng-qadhanya di bulan selanjutnya.

Ustadz, bolehkah/bagaimana hukumnya jika nanti sewaktu meng-qadhanya saya mempunyai dua niat? Misalnya niat yang pertama adalah meng-qadha puasa dan niat yang kedua adalah niat puasa sunnah 6 hari Syawal/Senin-Kamis/tengah bulan?

Terima kasih atas jawabannya.

Zakiya di Surabaya

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Persoalan tersebut terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan para ulama. Ada yang melarang dan menganggap tidak sah puasanya alias tidak memperoleh pahala puasanya. Dan ada juga yang membolehkannya.

Jadi yang membolehkannya itu di antaranya dijelaskan di dalam kitab Bughyah alMustarsyidin hal. 113-114 sebagai berikut:

)مَسْأَلَةٌ: ك): ظَاهِرُ حَدِيْثٍ: «وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ» وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَحَادِيْثِ عَدَمُ حُصُوْلِ السِّتِّ إِذَا نَوَاهَا مَعَ قَضَاءِ رَمَضَانَ، لٰكِنْ صَرَّحَ ابْنُ حَجَرٍ بِحُصُوْلِ أَصْلِ الثَّوَابِ لِإِكْمَالِهِ إِذَا نَوَاهَا كَغَيْرِهَا مِنْ عَرَفَةَ وَعَاشُوْرَاءَ، بَلْ رَجَّحَ (م ر) حُصُوْلَ أَصْلِ ثَوَابِ سَائِرِ التَّطَوُّعَاتِ مَعَ الْفَرْضِ وَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا، مَا لَمْ يَصْرِفْهُ عَنْهَا صَارِفٌ، كَأَنْ قَضَى رَمَضَانَ فِي شَوَّالٍ، وَقَصَدَ قَضَاءَ السِّتِّ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ، وَيُسَنُّ صَوْمُ السِّتِّ وَإِنْ أَفْطَرَ رَمَضَانَ اهـ . قُلْتُ: وَاعْتَمَدَ أَبُوْ مَخْرَمَةٍ تَبَعاً لِلسَّمْهُوْدِي عَدَمَ حُصُوْلِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا إِذَا نَوَاهُمَا مَعًا، كَمَا لَوْ نَوَى الظُّهْرَ وَسُنَّتَهَا، بَلْ رَجَّحَ أَبُوْ مَخْرَمَةٍ عَدَمَ صِحَّةِ صَوْمِ السِّتِّ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضَاءُ رَمَضَانَ مُطْلَقاً.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (H.R. Muslim)

“Bila melihat zhahir hadits tersebut, seolah memberi pengertian tidak terjadinya kesunnahan 6 hari puasa di bulan Syawal saat ia niati bersamaan dengan qadha Ramadhan. Namun Ibn Hajar menjelaskan bahwa mendapatkan kesunnahan dan pahalanya bila ia niati sama seperti puasa-puasa sunnah lainnya seperti puasa hari Arafah dan Asyura’. Bahkan Imam Ramli mengunggulkan pendapat terjadinya pahala ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dilakukan bersamaan ibadah fardhu meskipun tidak ia niati selama tidak terbelokkan arah ibadahnya seperti ia niat puasa qadha Ramadhan di bulan Syawal dan ia niati sekalian puasa qadha 6 hari di bulan Dzulqa’dah (maka tidak ia dapati kesunnahan puasa Syawalnya).”

“Disunnahkan menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal meskipun ia memiliki tanggungan qadha karena ia menjalani berbuka puasa di bulan Ramadhannya.”

MUI-nya negara Saudi Arabia yaitu Lajnah Daimah (Lembaga Fatwa Arab Saudi) termasuk membolehkan ketika ditanya tentang menggabungkan niat puasa sunnah dan puasa wajib.

يَجُوْزُ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ عَنْ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ إِذَا نَوَيْتَهُ قَضَاءً ، وَبِاللهِ التَّوْفِيْقُ

”Boleh puasa hari Arafah, sekaligus untuk puasa qadha, jika ia Anda niatkan untuk qadha. Wa billahi at-Taufiq.” (Fatawa Lajnah Daimah, ditanda tangani oleh Imam Abdul Aziz bin Baz. [10/346]).

Wallahu a’lam