Hukuman bagi Anak Didik, Perlukah? (Bagian Pertama)

 

Oleh

Ust. Masykur Ismail

Wadir Kurikulum dan SDM LPI Al Haromain Surabaya

sekaligus Pengasuh Pesma Baitul Hikmah Surabaya

maskurismail@gmail.com

 

images (4)Perlukah hukuman bagi anak didik? Menghukum anak didik di zaman yang serba modern ini bukanlah pilihan yang mudah. Jika tidak berhati-hati, bisa jadi seorang guru berurusan dengan kepolisian karena dituntut oleh orang tua murid. Tindakan hukuman oleh seorang guru yang pada zaman dulu dianggap biasa, kini dinilai melanggar HAM. Jika dulu hukuman dari seorang guru mendapat dukungan dari orang tua, kini orang tua tidak terima jika anaknya mendapat hukuman. Akibatnya, guru seperti menghadapi dilema, di satu sisi dia harus menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah, sementara di sisi lain, khawatir dikriminalisasi oleh orang tua atau bahkan LSM pembela anak.

Fakta di lapangan membuktikan banyak di antara guru yang gamang dalam memberikan hukuman pada muridnya. Belum lagi berita-berita tentang kriminalisasi terhadap guru semakin menambah ciut nyali para guru untuk menegakkan disiplin di sekolah. Akhirnya, guru kebanyakan cari aman, tidak mau pusing dengan urusan sikap, perilaku, etika, dan sopan santun muridnya. Mereka datang ke sekolah hanya mengajar, menyampaikan materi sampai habis jam pelajaran, dan pulang. Intinya, asal gugur kewajiban.

Oleh karena itu, tanyaan di atas sangat urgen untuk segera dijawab agar kegamangan ini tidak semakin berlarut dan berdampak buruk bagi dunia pendidikan.

Hukuman adalah Metode Pendidikan

Menurut Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam bukunya, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl, hukuman bukanlah pembalasan dendam kepada anak, tetapi tujuan sebenarnya adalah pendidikan dan merupakan salah satu metode pendidikan. Penerapan hukuman ini dilakukan karena tabiat setiap anak tidak sama. Ada anak yang dapat menerima pelajaran dan ada juga yang tidak bisa menerima pelajaran. Termasuk pula ada anak yang sangat pemalu dan ada juga yang tidak punya sedikitpun rasa malu. Ada juga anak yang apabila dipuji akan giat belajar, tetapi juga ada yang baru mau belajar setelah diancam atau dihukum oleh gurunya. Demikianlah kondisi anak di setiap zaman.

Rasulullah SAW bersabda:

مرو ا لا د كم با لصلاة و هم ا بنا ء سبع سنين, وا ضربو هم عليها و هم ا بنا ء عشر, و فر قو ا بينهم فى المضا جع

Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat sejak usia tujuh tahun dan pukullah jika tidak mau shalat di usia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (H.R. Abu Dawud)

Hadits di atas mempertegas bahwa tidak semua anak bisa menjalankan kewajiban dengan disuruh, tetapi ada yang harus dipukul agar bisa menjalankan kewajibannya. Artinya, apabila ada kemungkinan si anak tidak mau menjalankan kewajiban, maka kita tidak boleh menunggu dan membiarkannya dalam kesalahan. Sebab, kalau tidak, kita telah berbuat kekeliruan dengan tidak mendidik mereka ketika mereka masih bisa menerima pendidikan dan pengajaran. Al-Kasani dalam kitabnya, al-Bada’i’us Shana’i (7/63) menyatakan, “Anak dihukum karena pendidikan, bukan siksaan, karena anak memang harus menerima pendidikan. Jika sudah dewasa, kebiasaan buruk telah menguasainya dan menghalangi mereka untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Dari uraian tersebut, kita mendapat jawaban dari tanyaan di atas, yakni bahwa tindakan hukuman pada anak tetap diperlukan dalam dunia pendidikan. Sekali lagi, hukuman merupakan salah satu aspek penting dan sebuah metode dalam pendidikan anak. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah apa bentuk kesalahan anak sehingga perlu diterapkan hukuman padanya serta bentuk hukuman yang tepat dan mendidik atas kesalahan yang dilakukan oleh anak. Oleh karena itu, orang tua dan para guru harus selalu waspada dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak, memahami tabi’at mereka, dan tidak membiarkan kesalahan berlarut-larut sehingga menjadi kebiasaan buruk pada anak.

images (49)

Memahami Kesalahan Anak

Salah satu hal yang perlu dipahami oleh para pendidik dan orang tua sebelum memberikan hukuman kepada anak adalah sebab dan akar terjadinya kesalahan. Tidak diragukan lagi bahwa menemukan dan mencabut akar kesalahan dianggap sebagai suatu keberhasilan yang luar biasa dalam aktivitas pendidikan. Apabila kita perhatikan inti dari setiap kesalahan yang dilakukan oleh anak, terdapat 3 hal yang menjadi akar kesalahan mereka.

Pertama, kesalahan dalam pemahaman, yaitu si anak tidak memiliki pemahaman yang benar tentang sesuatu, sehingga dia melakukan kesalahan pada sesuatu tersebut. Sebagai pendidik, jika kita menemukan anak salah dalam hal ini, maka langkah kita hanya meluruskan pemahaman mereka dengan lemah lembut. Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah memberikan contoh cara meluruskan pemahaman anak. Ketika cucunya, Al-Hasan bin Ali ra mengambil sebutir kurma sedekah dan memasukkan ke mulutnya, maka Rasulullah SAW bersabda, “Jangan, jangan, buang! Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak mengonsumsi sedekah?” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

download (40)Di lain kesempatan, Rasulullah SAW juga pernah meluruskan pemahaman seorang anak bernama Aflah yang ketika sujud selalu meniup debu dari tempat sujudnya. Beliau bersabda, “Hai Aflah, biarkanlah debu-debu itu di wajahmu.” (H.R. at-Tirmidzi). Dan masih banyak lagi teladan-teladan Rasulullah SAW dalam meluruskan pemahaman anak.

Kedua, kesalahan dalam aplikasi, yaitu si anak tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik karena dirinya belum terlatih untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga melakukan kesalahan. Jika anak salah dalam hal ini, maka pendidik atau orang tua memberikan pemahaman dengan praktik secara langsung. Dengan demikian, anak mendapatkan gambaran yang jelas tentang pekerjaan yang benar. Apabila atas kesalahan ini anak dihukum, maka itu adalah suatu  kezhaliman.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah SAW pernah berjalan melewati seorang anak yang sedang menguliti kambing, tetapi dia tidak melakukannya dengan baik. Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Minggirlah, aku perlihatkan caranya.” Beliau memasukkan tangannya antara kulit dengan daging, kemudian menekannya hingga masuk sampai batas ketiak. Setelah itu beliau pergi untuk mengimami shalat dengan tanpa berwudhu.” (H.R. Abu Dawud).

Ketiga, kesalahan terletak pada diri si anak yang sengaja melakukan kesalahan atau termasuk anak yang memiliki jiwa pemberontak. Dalam hal ini, anak tidak mau dikoreksi kesalahan pemahamannya dengan praktik secara langsung sekalipun, dan terus mengulangi kesalahan yang sama. Tipe anak seperti inilah yang perlu diterapkan hukuman, karena jika dibiarkan akan menjadi kebiasaan yang buruk dan parahnya lagi bisa menular kepada teman-temannya. Akan tetapi, hukuman yang diberikan adalah hukuman yang mendidik dan dalam koridor kasih sayang sebagaimana ajaran Islam agar kita senantiasa berlemah lembut dan kasih sayang terhadap sesama, khususnya kepada anak kecil.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Bersambung)