Interaksi Tanah dan Tanaman

Interaksi Tanah dan Tanaman

Q.S. AlA’raaf: 58

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِدًا …

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana…“

Analisa Ayat

Tanah yang subur pasti akan menumbuhkan tanaman yang subur, menjadikannya segar selalu dan akhirnya berbuah dengan buah yang begitu memuaskan orang yang menanamnya. Sebaliknya tanah gersang dan tandus tidak akan membiarkan tanaman kecuali dalam kondisi merana; layu dan kemudian mengering.

Demikianlah realitas yang terjadi di alam ini. Secara jelas ayat tersebut memberikan gambaran betapa bibit unggul membutuhkan tanah yang gembur untuk bisa tumbuh dan berbuah secara optimal. Islam adalah bibit unggul yang ternyata terbukti waktu itu tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena ditanam di lingkungan Makkah dan penduduknya yang kolot. Masih beruntung Islam tidak mati sehingga akhirnya bisa dibawa berpindah ke lingkungan Madinah yang subur. Perjalanan waktu yang begitu singkat akhirnya memberikan jawaban bahwa Islam adalah benar-benar bibit unggul yang dalam tempo kurang lebih sepuluh tahun ditanam di area subur bisa berkembang begitu cepat sampai menjadi pohon tinggi menjulang yang memberikan naungan ke seluruh jazirah Arabia.

Interaksi Tanah dan Tanaman

www.ideaonline.co.id

Al-Qur’an al-Karim adalah mukjizat besar Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam yang terjaga sepanjang masa dari tangan-tangan jahat manusia. Salah satu kemukjizatannya terletak pada susunan bahasa yang begitu jelas ringkas, tetapi merangkum makna-makna yang begitu luas dan dalam. Ayat di atas adalah contohnya. Selain menjelaskan ilmu tanah sekaligus juga mengandung makna bahwa interaksi dan kedekatan memberikan pengaruh sangat kuat sebagaimana interaksi tanah dengan tanaman. Jadi ayat di atas adalah sumber inspirasi bagi munculnya kalam hikmah:

الْمُعَاشَرَةُ مُؤَثِّرَةٌ

Pergaulan itu memberikan pengaruh.”

Prinsip inilah salah satu hikmah dibalik ajaran-ajaran syariat berikut ini:

  • Pasangan

Calon suami dianjurkan supaya mencari dan menentukan pilihan isteri dengan standar agama;

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ

“…dapatkanlah wanita yang memiliki agama.” [1]

Ini adalah ciri khas Islam yang membuatnya berbeda dengan budaya di kalangan Romawi yang menjadikan kecantikan sebagai standar, tradisi Persia yang memilih wanita karena kekayaannya, dan budaya Arab sendiri yang sangat mendewakan nasab keturunan.

Begitu pula orang tua wali wanita, maka ketika ada lelaki yang mutu agamanya baik datang melamar, maka segeralah terima lamaran tersebut. Jika tidak, maka pasti kelak di kemudian hari akan muncul masalah sebagaimana tersirat dalam sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ إِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ

Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian, seseorang yang kalian meridhai agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak kalian lakukan, maka akan ada fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” [2]

Ini adalah resep Islam bagi lelaki atau perempuan yang mendambakan kedamaian, kesejahteraan, dan penuh dengan nilai-nilai ibadah dalam kehidupan rumah tangganya.  Betapa banyak wanita yang hancur; melepaskan jilbabnya dan identitas Islam yang selama ini membalut dirinya karena bersuamikan lelaki yang sama sekali tidak berselera dengan formalitas hukum Islam. Sebaliknya juga demikian.

  • Teman yang baik

Teman yang baik memiliki peran sangat penting dalam kebaikan dan keburukan seseorang. Begitu penting sehingga kearifan masa lalu menggoreskan: “Jangan bertanya tentang seseorang. Tanyakanlah siapa temannya, karena seorang teman mengikuti temannya.” Pengaruh teman dengan sangat indah digambarkan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan begitu indah. Beliau bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدِمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيْهِ أَوْتَجِدُ رِيْحَهُ وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يَحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْـثَةً

“Perumpamaan teman yang shaleh dan teman yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan tungku api pandai besi. Penjual minyak wangi pasti memberikan kepadamu salah satu di antara kamu membeli darinya atau menemukan bau wanginya. Sedang tungku api pandai besi bisa membakar tubuh atau bajumu atau kamu mendapatkan baunya yang tidak sedap.“[3]

Membicarakan pertemanan tentu wilayahnya begitu luas. Termasuk pertemanan seorang santri dengan guru. Seorang pelayan dengan majikan dan sebagainya. Eratnya hubungan di antara mereka ini memunculkan kesimpulan: “Kemulian pelayan (Khadim) ditentukan kemuliaan majikan yang dilayani (Makhdum)” atau dengan ungkapan lain kita bisa menyimpulkan bahwa nilai sesuatu juga dipengaruhi sekitar sesuatu tersebut. Jalanan itu ramai dan padat  yang karenanya harga tanah di pinggir jalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan tanah yang jauh dari jalan atau bahkan tidak memiliki akses jalan.

  • Pakaian Bersih

Dalam kondisi tertentu hati kita terasa begitu sumpek karena suasana di sekitar kita. Dalam siatuasi lain pun hati kita terasa begitu syahdu karena mendengar alunan melodi yang membawa hati terbang jauh ke masa lalu. Suatu ketika pun hati kita pilu karena sedih mengingati dosa-dosa. Dan kadang pula hati ini merasa damai dan merasakan kesejukan jika di sekitar kita terdengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, shalawat, maupun bacaan dzikir yang lain. Mungkin tidak pernah terbersit di hati kita bahwa di antara yang berdzikir itu adalah pakaian yang kita kenakan sewaktu pakaian itu bersih.

Suatu ketika Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai A’isyah, basuhlah dua pakaian ini!” Aku (Aisyah ) bertanya: “Bukankah baru kemarin saya membasuh pakaian ini?” Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَمَا عَلِمْتِ أَنَّ الثَّوْبَ يُسَبِّحُ فَإِذَا اتَّسَخَ انْقَطَعَ تَسْبِيْحُهُ

Tidakkah kamu mengerti bahwa pakaian itu bertasbih. Bila kotor, maka tasbihnya terputus.” (H.R. al-Khathib al-Baghdadi)

Karena pakaian bisa memiliki pengaruh kuat terhadap hati pemakainya, maka Islam sangat menganjurkan kebersihan terutama ketika akan melakukan aktivitas ibadah di mana diperlukan konsentrasi hati di dalamnya seperti halnya shalat. ”Ambillah perhiasanmu setiap kali akan shalat!”[4]

Dengan pakaian bersih dan bau yang wangi seseorang akan mudah mengingat Allah di dalam shalat, karena pakaian yang ia kenakan telah membimbingnya.

Ketika pakaian bersih, maka dengan sendirinya hati mudah mengingat Allah karena berdekatan dengan aktivitas dzikir pakaiannya, sehingga yang terjadi adalah seperti dalam hikmah: “Barang siapa bersih pakaiannya, maka sedikit susahnya.”

Tanah Hati

Dalam tafsiran lain disebutkan bahwa tanah yang subur akan menumbuhkan tanaman dengan subur adalah perumpamaan hati manusia. Jika hati hidup dengan subur niscaya akan menumbuhkan tanaman amal kebajikan yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh. Begitu pula sebaliknya, tak ada keburukan amal kecuali dilatarbelakangi oleh keburukan hati. Karena itulah, barang siapa yang menginginkan beramal kebajikan di setiap saat dan tempat, maka ia harus senantiasa menjaga kebersihan hati. Dan sesuatu hal yang jelas sangat bermanfaat menjaga kesuburan tanah hati adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah obat segala penyakit yang utamanya penyakit dalam hati manusia. Interaksi yang intens dengan Al-Qur’an menjadikan seseorang mudah menyingkirkan ganjalan dalam hati. Inilah hikmah di balik begitu banyaknya ayat suci Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam yang memberikan saran dan anjuran agar manusia beriman berteman akrab dan dekat dengan Al-Qur’an; baik dengan membaca atau merenungi maknanya.

Al-Qur’an akan lebih hebat lagi memberikan pengaruh positif bagi kesembuhan hati jika dibaca di malam hari saat mayoritas orang terbuai dalam mimpi. Inilah kebenaran firman Allah:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْأً وَأَقْوَمُ قِيْلاً

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” [5]

Inilah rahasia kerukunan dan pertautan hati di antara para sahabat. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia di mana saja utamanya di malam hari sehingga mereka menjadi manusia-manusia yang berbentuk manusia tetapi memiliki hati yang jernih seperti malaikat. Inilah sebenarnya rahasia kekuatan sebuah komunitas. Di mana Al-Qur’an begitu diperhatikan untuk dibaca dan dikhatamkan oleh anggota komunitas tersebut niscaya komunitas tersebut akan menjadi komunitas yang selalu akur dan saling mengasihi sehingga perlindungan dan rahmat Allah pun senantiasa menaungi.

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]H.R. al-Bukhari no: 4802. H.R. Muslim no: 1466

[2]H.R. at-Turmudzi no: 1084

[3]H.R. al-Bukhari no: 2101

[4]Q.S. al-A’raaf: 31

[5]Q.S. al-Muzzammil: 6

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin 

Ketua Umum Hai’ah Ash Shofwah
Pengasuh Ma’had Nurul Haromain
Pujon – Malang
alwasath.blogspot.com